Setiap kali melihat pertandingan sepak bola, untuk mengundi siap dapat bola pertama wasit pasti akan melempar koin dan ketika koin jatuh, tim yang memiliki sisi koin yang menghadap ke atas berhak mendapatkan bola pertama.
Bagaimanapun kita semua tahu koin memiliki dua sisi, dan ketika koin itu dilempar lalu jatuh pasti yang tampak hanyalah satu sisi, entah itu sisi yang diharapkan ataupun yang tidak diharapkan. Tidak akan pernah terjadi dua sisi muncul secara bersamaan, bisa terjadi dengan kemungkinan kecil koin akan berdiri di tengah - tapi sangat kecil-.
Hidup ini pun seperti halnya koin, segala sesuatu penuh pilihan dan setiap pilihan pasti memiliki dua sisi, entah itu tindakan yang dipandang baik ataupun tindakan yang dipandang buruk. Seperti halnya seorang pencuri jemuran, sekalipun banyak orang yang memandang itu sebagai sebuah tindakan kriminal yang jahat, tapi terkadang kalau kita mau membalik koin yang dimiliki si maling ini yang kita temukan adalah sebuah kisah menyedihkan.
Sebuah cerita pernah diceritakan oleh bapak saya, mengenai seorang pencuri sepeda, yang pernah mencuri sepeda milik bapak saya. Setelah beberapa hari kemudia si pencuri itu kembali dengan membawa sepeda dikarenakan setelah mencuri sepeda anaknya demam tinggi dan sempat kejang-kejang. Berhubung jaman itu masyarakat masih sangat percaya klenik, si pencuri berpikir bahwa demam anaknya diakibatkan oleh "sesuatu" yang dikirim kakek saya karena sepeda anaknya dicuri.
Ketika si pencuri ini datang mengembalikan sepeda sambil menangis, kakek saya menanyakan, "kenapa maling sepeda" dan dijawab untuk makan keluarga. Nah, saat itu yang dilakukan kakek saya adalah, memberikan sepedanya ditambah dengan uang untuk berobat dan sedikit uang untuk biaya hidup keluarga selama beberapa hari.
Dikaitkan dengan keping uang tadi. Seringkali yang kita lihat dari tindakan orang lain yang mana tindakan itu merugikan hanyalah memberikan cap bahwa orang tersebut jahat, dan tindakannya menimbulkan kerugian serta rasa sakit bagi korban. Tapi kita sendiri jarang mau mencoba membalik koin yang dimiliki pelaku. Memang semua perbuatan negatif pasti memiliki hasil negatif, tapi bagaimana jika memang sudah tidak ada kesempatan lain atau pilihan lain yang bisa dipilih selain berbuat jahat? Atau bagaimana jika menyakiti dan berbuat jahat memang adalah pilihan terbaik yang dimiliki orang tersebut karena alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam hidupnya?
Bahkan seringkali dalam perbuatan baik seseorang, jika kita membalik koin yang dimiliki orang tersebut kita juga akan menemukan sisi koin yang buruk bahkan cacat. Contohnya adalah ketika kita melihat banyak orang yang bisa menyumbang uang, berderma, dan lain sebagainya, yang jika dilihat sisi koin yang tampak ke atas, perbuatan tersebut adalah perbuatan yang sangat mulia. Tapi mungkin jika kita balik koin orang tersebut, yang kita temukan adalah sebuah korupsi besar-besaran yang dilakukan dengan mengambil hak orang lain.
Yang mau saya sampaikan di sini melalui cerita-cerita tersebut adalah, jangan terlalu cepat menghakimi orang, apapun yang dilakukannya, sesakit apapun orang itu menyakitimu. Jangan cuma lihat sisi koin yang tampak, tapi cobalah baliklah sisi koin yang tidak tampak itu, mungkin kita akan melihat sebuah kisah yang cukup menarik tentang latar belakang tindakan orang tersebut.
Satu hal lagi, sekedar mengingatkan bahwa penghakiman bukanlah hak manusia. Jadi mari kita jangan pernah malas membalik setiap koin yang kita temui.
Selamat menikmati hari ini, Tuhan memberkati
Blog ini berisi curahan pemikiran, ide-ide, insight, maupun hasil renungan penulis. Mulai dari pemikiran mengenai kejadian yang terjadi di sekitar penulis, hingga refleksi dari kegiatan pekerjaan penulis.
Jumat, 21 Oktober 2011
Kamis, 20 Oktober 2011
WHAT'S IN A NAME?
"What's in a name?That which we call a rose by any other name would smell as sweet" (Shakespeare, Romeo and Juliet II, ii, 1-2)
Apa sih arti sebuah nama?setangkai mawar sekalipun kita sebut dengan nama apa saja dia tetap mengeluarkan aroma yang manis.
Seringkali kita pun bertanya apa sih artinya sebuah nama selain sebagai sebuah identitas diri dan panggilan diri. Dari situ kita sering menyepelekan nama yang diberikan orang tua kita, bahkan dalam beberapa kasus yang diceritakan oleh beberapa rekan relawan untuk pendampingan anak jalanan ada banyak anak jalanan yang benar-benar sudah melupakan nama asli mereka dan menggantinya dengan nama panggilan baru.
Mungkin terdengar cukup sepele dan terkesan cuma hal kecil, SEBUAH NAMA, tapi percaya atau tidak, bahwa sebuah nama dapat mempengaruhi jalan hidup seseorang.
Dalam banyak tradisi dan religi, nama memegang peranan penting dalam hidup manusia. Bahwa nama itu adalah doa pertama orang tua yang ditanamkan dalam diri si bayi, tentang harapan, impian, ataupun kenangan orang tuanya yang ingin di tanamkan dalam diri si anak, yang tentunya doa, harapan, impian dan kenangan orang tua tersebut akan dibawa si anak hingga akhirnya kelak.
Dalam tradisi kuno Jepang, nama adalah sebuah mantra paling sederhana yang dimiliki seseorang, yang mana jika orang tersebut meyakini arti namanya maka mantra tersebut akan terwujud nyata dalam hidupnya. Dalam tradisi Jawa pun ada kepercayaan bahwa seorang bayi yang baru lahir harus diberi nama yang sesuai dengan dirinya, jika ternyata nama yang diberikan "terlalu berat" untuk si bayi maka si bayi akan menjadi sakit, dan untuk mengubah nama harus diadakan upacara khusus. Bahkan dalam mitologi barat ada cerita bahwa seorang penyihir tidak diperbolehkan menggunakan nama aslinya. Nama aslinya harus dirahasiakan sejak dia dilatih menjadi penyihir. Karena jika ada penyihir lain yang mengetahui nama aslinya, maka akan sangat mudah untuk mengirimkan Demon-demon untuk menghancurkan musuhnya, juga dapat mengirim mantra untuk mengikatnya. Karena dipercaya bahwa setiap roh diciptakan harus tunduk pada mantra-mantra tertentu, dan ketika seseorang lahir dan diberi nama, nama itulah ikatan pertama terhadap rohnya sebagai identitas rohnya. Dan jika ada orang yang memantrai nama tersebut maka roh yang memiliki identitas dengan nama tersebut harus patuh pada mantra yang dikirimkan tersebut.
Dalam budaya dan reliji kuno Jawa, penggantian nama harus dilakukan dengan upacara khusus. Hal tersebut dilakukan dengan alasan sama seperti yang dibahas di atas. Karena untuk mengubah nama seseorang yang perlu dilakukan adalah melepaskan ikatan nama yang lama terhadap roh orang yang bersangkutan, lalu setelah itu baru bisa diberikan identitas (doa) yang baru terhadap roh tersebut. Penggantian nama pun hanya boleh dilakukan dengan alasan yang benar-benar kuat dan mendasar. Seperti seorang tetangga saya yang sewaktu kecil namanya diganti menjadi "Slamet", nama yang sederhana bagi era sekarang, tapi bagi orang tuanya itu adalah hal yang luar biasa. Penggantian nama tersebut dilakukan setelah si Slamet ini bisa selamat dari sebuah kecelakaan yang bahkan menurut penilaian medis seharusnya menewaskan dia. Dan sebagai ucapan syukur sekaligus doa untuk putranya dia diganti nama menjadi "Slamet".
Dalam alkitab Perjanjian Lama pun ada satu cerita mengenai pergantian nama. Ketika seorang Abram dan Sarai berubah nama menjadi Abraham dan Sarah, pada saat mereka diberitahu bahwa Abram akan menjadi Bapa dari segala bangsa.
Dalam mitologi barat, ketika seorang penyihir harus mengganti nama mereka dengan tujuan menyembunyikan nama aslinya, mereka tidak menggunakan upacara penggantian nama, karena nama baru yang akan mereka gunakan tidak akan digunakan sebagai ikatan roh, dan membiarkan nama lama mereka yang tetap digunakan sebagai identitas roh mereka. Sehingga jika ada serangan mantra dari penyihir lain, mantra tersebut tidak akan menyerang hingga ke dalam roh.
Dari contoh-contoh tersebut di atas sudah sangat jelas nahwa nama itu memegang peranan penting dalam hidup seseorang, bukan sekedar huruf yang tercetak di akte kelahiran, kartu pelajar, KTP, ataupun SIM. Tapi lebih pada doa dari orang tua kita yang tercetak sangat dalam ke dalam roh yang menopang kehidupan kita masing. Bahkan jika kita bisa meng'amin'i nama kita yang merupakan doa tersebut hasilnya akan sangat luar biasa, karena doa pertama dari orang tua kita yang tentu saja menandai restu mereka akan kelahiran kita di dunia ini bisa diyakini dan diusahakan sebagai hal yang "YA" dan "PASTI" dalam kehidupan kita.
Jadi jangan pernah menyepelekan arti sebuah nama, apapun dan siapapun, nama itu adalah doa yang selalu baik.
Selamat melanjutkan hari, Tuhan memberkati kita semua
Apa sih arti sebuah nama?setangkai mawar sekalipun kita sebut dengan nama apa saja dia tetap mengeluarkan aroma yang manis.
Seringkali kita pun bertanya apa sih artinya sebuah nama selain sebagai sebuah identitas diri dan panggilan diri. Dari situ kita sering menyepelekan nama yang diberikan orang tua kita, bahkan dalam beberapa kasus yang diceritakan oleh beberapa rekan relawan untuk pendampingan anak jalanan ada banyak anak jalanan yang benar-benar sudah melupakan nama asli mereka dan menggantinya dengan nama panggilan baru.
Mungkin terdengar cukup sepele dan terkesan cuma hal kecil, SEBUAH NAMA, tapi percaya atau tidak, bahwa sebuah nama dapat mempengaruhi jalan hidup seseorang.
Dalam banyak tradisi dan religi, nama memegang peranan penting dalam hidup manusia. Bahwa nama itu adalah doa pertama orang tua yang ditanamkan dalam diri si bayi, tentang harapan, impian, ataupun kenangan orang tuanya yang ingin di tanamkan dalam diri si anak, yang tentunya doa, harapan, impian dan kenangan orang tua tersebut akan dibawa si anak hingga akhirnya kelak.
Dalam tradisi kuno Jepang, nama adalah sebuah mantra paling sederhana yang dimiliki seseorang, yang mana jika orang tersebut meyakini arti namanya maka mantra tersebut akan terwujud nyata dalam hidupnya. Dalam tradisi Jawa pun ada kepercayaan bahwa seorang bayi yang baru lahir harus diberi nama yang sesuai dengan dirinya, jika ternyata nama yang diberikan "terlalu berat" untuk si bayi maka si bayi akan menjadi sakit, dan untuk mengubah nama harus diadakan upacara khusus. Bahkan dalam mitologi barat ada cerita bahwa seorang penyihir tidak diperbolehkan menggunakan nama aslinya. Nama aslinya harus dirahasiakan sejak dia dilatih menjadi penyihir. Karena jika ada penyihir lain yang mengetahui nama aslinya, maka akan sangat mudah untuk mengirimkan Demon-demon untuk menghancurkan musuhnya, juga dapat mengirim mantra untuk mengikatnya. Karena dipercaya bahwa setiap roh diciptakan harus tunduk pada mantra-mantra tertentu, dan ketika seseorang lahir dan diberi nama, nama itulah ikatan pertama terhadap rohnya sebagai identitas rohnya. Dan jika ada orang yang memantrai nama tersebut maka roh yang memiliki identitas dengan nama tersebut harus patuh pada mantra yang dikirimkan tersebut.
Dalam budaya dan reliji kuno Jawa, penggantian nama harus dilakukan dengan upacara khusus. Hal tersebut dilakukan dengan alasan sama seperti yang dibahas di atas. Karena untuk mengubah nama seseorang yang perlu dilakukan adalah melepaskan ikatan nama yang lama terhadap roh orang yang bersangkutan, lalu setelah itu baru bisa diberikan identitas (doa) yang baru terhadap roh tersebut. Penggantian nama pun hanya boleh dilakukan dengan alasan yang benar-benar kuat dan mendasar. Seperti seorang tetangga saya yang sewaktu kecil namanya diganti menjadi "Slamet", nama yang sederhana bagi era sekarang, tapi bagi orang tuanya itu adalah hal yang luar biasa. Penggantian nama tersebut dilakukan setelah si Slamet ini bisa selamat dari sebuah kecelakaan yang bahkan menurut penilaian medis seharusnya menewaskan dia. Dan sebagai ucapan syukur sekaligus doa untuk putranya dia diganti nama menjadi "Slamet".
Dalam alkitab Perjanjian Lama pun ada satu cerita mengenai pergantian nama. Ketika seorang Abram dan Sarai berubah nama menjadi Abraham dan Sarah, pada saat mereka diberitahu bahwa Abram akan menjadi Bapa dari segala bangsa.
Dalam mitologi barat, ketika seorang penyihir harus mengganti nama mereka dengan tujuan menyembunyikan nama aslinya, mereka tidak menggunakan upacara penggantian nama, karena nama baru yang akan mereka gunakan tidak akan digunakan sebagai ikatan roh, dan membiarkan nama lama mereka yang tetap digunakan sebagai identitas roh mereka. Sehingga jika ada serangan mantra dari penyihir lain, mantra tersebut tidak akan menyerang hingga ke dalam roh.
Dari contoh-contoh tersebut di atas sudah sangat jelas nahwa nama itu memegang peranan penting dalam hidup seseorang, bukan sekedar huruf yang tercetak di akte kelahiran, kartu pelajar, KTP, ataupun SIM. Tapi lebih pada doa dari orang tua kita yang tercetak sangat dalam ke dalam roh yang menopang kehidupan kita masing. Bahkan jika kita bisa meng'amin'i nama kita yang merupakan doa tersebut hasilnya akan sangat luar biasa, karena doa pertama dari orang tua kita yang tentu saja menandai restu mereka akan kelahiran kita di dunia ini bisa diyakini dan diusahakan sebagai hal yang "YA" dan "PASTI" dalam kehidupan kita.
Jadi jangan pernah menyepelekan arti sebuah nama, apapun dan siapapun, nama itu adalah doa yang selalu baik.
Selamat melanjutkan hari, Tuhan memberkati kita semua
Senin, 17 Oktober 2011
RENUNGAN INDAH - W.S RENDRA
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya diatas ranjang RS)
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya diatas ranjang RS)
Minggu, 16 Oktober 2011
ROKOK, JENDER, DAN NASEHAT DILARANG MEROKOK
Semalam membaca status seorang teman dimana di dalam komentar-komentarnya dia bilang 'cewek g boleh ngerokok'. Sebuah pernyataan yang cukup aneh apalagi jika dilontarkan di era sekarang ini -mungkin jika dia ngomong gitu di tahun 70an akan banyak yang dukung ya :)-. Disini bukan berarti saya mendukung cewek boleh merokok, karena sebetulnya saya termasuk orang yang akan memasang tulisan "NO SMOKING, OR YOU'LL BE SHOT AT YOUR HEAD" besar-besar di kamar saya, karena saya benci jika kamar saya bau asap rokok.
Yang sedikit menyenggol saya untuk menanggapi pernyataan teman saya itu adalah begini :
1. Apakah rokok itu barang berjender?sehingga bisa ditentukan jenis kelamin apa yang boleh merokok dan mana yang tidak boleh? Ataukah dia melontarkan pernyataan itu hanya berlatar belakang pandangan publik -yang sebetulnya saat ini hanya berlaku di daerah pedesaan- mengenai cewek ngrokok adalah cewek nakal?
2. Sedikit lucu ketika seseorang melarang orang lain untuk merokok sementara dia masih memberi contoh yang buruk kepada orang tersebut -well, kita semua tau, tiap anak laki-laki berhak membantah bapaknya ketika disuruh berhenti merokok jika bapaknya masih merokok dengan dalih "Bapak aja juga ngrokok!!", benar ga?-
Jika beralasan pada pandangan satu sepertinya dilihat dari manapun rokok bukanlah barang berjender bukan?sehingga setiap orang punya hak untuk merasakannya -kecuali anak kecil ya :) kalau saya tulis anak kecil juga berhak ntar saya berhadapan dengan Kak Seto :p-, setuju ga? Atau mungkin pernyataan itu dikeluarkan karena melihat pandangan publik bahwa cewek ngrokok adalah cewek nakal, dan cewek nakal adalah cewek gampangan? Walaupun pandangan ini sebetulnya sudah tidak berlaku lagi di wilayah perkotaan dan hanya ngetrend di daerah pinggiran dan pedesaan, atau juga jika kita lahir di era 60an, sehingga usia gaul kita ada di era 70 atau 80an, itu bisa jadi alasan yang sangat kuat, tapi sekarang? Silakan dijawab sendiri ya. Bagi saya sendiri -sekalipun saya ga suka ngeliat orang ngrokok di sekitar saya karena akan sangat mengganggu saya- alasan seperti itu pun jadi sangat ga adil dan sangat mengangkat isu jender, kenapa yang jadi nakal ketika merokok hanya cewek? Kalo beberapa orang bilang rokok itu obat stres, apakah yang bisa mengalami stres hanya kaum pria? Kalau yang punya status itu menulis merokok itu obat sariawan, apakah yang bisa sariawan hanya pria? Nah gimana kalo jenis kelaminnya di balik aja, jadi kalo cowok ngerokok tu dia pasti cowok nakal dan gampangan, bisa kah jadi begitu? -BUKAN BERARTI SAYA REKRUTAN KAUM FEMINIS YA- Sehingga setiap orang berhak berpandangan pada tiap cowok yang ngrokok "AH, LONTE LU, DASAR COWOK MURAHAN, BISPAK LU" bener ga? -saya yakin banyak cewek yang akan setuju dengan tulisan saya ini.
Sekali lagi saya menekankan bahwa saya tidak mendukung perilaku merokok, sehingga di aragraf terakhir ini saya akan menegasi semua tulisan persetujuan saya tentang perilaku merokok pada masing-masing jenis kelamin :). OK, kita dalam comments di status kawan saya itu dia menulis "cewek ga boleh merokok" mungkin adalah upaya dia mengatakan dia tidak suka melihat atau "JIKA" mempunyai cewek/pacar/istri yang merokok. Tapi apakah berhak seseorang menginginkan pasangan yang sempurna di matanya kalau dia tidak bisa menjadi sempurna di mata pasangannya? Apalagi jika kamu seorang cowok yang besoknya akan jadi kepala rumah tangga, seseorang yang akan selalu jadi contoh bagi anak-anakmu, jadi contoh bagi istrimu, jadi imam bagi keluargamu, dan tentunya jadi orang yang akan selalu pasang badan jika keluargamu menghadapi masalah. Jadi jika kamu ingin keluarga yang sempurna di matamu, kamu juga harus bisa kasih contoh duluan, paling nggak kamu juga harus bisa menampilkan 'seperti apa sih yang sempurna menurutmu?'. Jadi ketika kamu memberi nasehat kepada pacar/istri atau besok suatu saat kamu punya anak, nasehatmu akan benar-benar didengarkan, karena mereka akan benar-benar menghormatimu, karena kamu bisa melakukan lebih dulu apa yang kamu nasehatkan kepada mereka.
Akhir kata, kalau kamu tidak ingin orang-orang terdekatmu merokok ya ajaklah mereka jangan merokok dengan cara kamu berhenti merokok dulu. :D
KETIKA LOMOGRAFI
Sudah setaun belakangan ini denger istilah lomografi, dan sudah hampir sebulan ini ada temen yang beli kamera lomo. Selidik punya selidik, ternyata lomografi ini sudah jadi mode di kalangan anak muda, tapi apa sih yang dimaksud lomografi itu?
Lomografi sendiri pada awalnya trademark komersil dari Lomographische AG, Austria, untuk produk dan layanan yang terkait dengan fotografi. Nama tersebut diinspirasikan dari nama perakitan lensa LOMO PLC di St.Petersburg, Rusia. LOMO PLC tersebut menciptakan dan memproduksi kamera 35mm otomatis kompak LOMO LC-A -- yang menjadi 'centerpiece dari marketing penjualan lomograf. kamera ini memiliki bentuk yang didasarkan pada Cosina CX-1 dan diperkenalkan pada awal 1980an.
Setelah aku pelajari lagi tentang hardware yang diterbitkan, ternyata sebagian besar (hampir semua malah) kamera lomo ini diciptakan hanya memiliki satu efek. Well...sedikit catatan bahwa lomografi sendiri didefinisikan sebagai sebuah modus snapshot yang simpel dan memiliki karakteristik over saturated, blury, oldie, dsb. Contohnya pada kamera lomo fisheye, efek yang ditanamkan hanyalah sebuah lensa wideangel pendek yang mampu memberikan efek distorsi fisheye.
Setelah sya pelajari lebih dalam lagi, ternyata efek pada lomografi tidak hanya terbatas pada kamera, seperti yang diketahui secara terbatas pada pecinta lomografi baru, tapi juga sampai pada efek kamar gelap yang tidak biasa.
Setelah sampai disini pembelajaran saya, saya lalu berpikir, kenapa ga sekalian pake analog SLR aja?kalaupun sebagian besar pecinta LOMO ini menghindari pemakaian kamera digital, tapi saya pikir semua efek yang bisa dihasilkan oleh kamera LOMO sangat bisa dihasilkan oleh kamera SLR analog. OK kita bicara masalah "don't think, just shoot" jargon dari pabrikan LOMO yang sebetulnya hampir sama dengan "The Kodak Moment". Tapi menurutku itu cuma bahan marketing yang dipakai untuk mempengaruhi orang dan membuat orang berpikir, bahwa "memakai kamera LOMO kamu ga perlu mikir buat ngehasilin gambar yang aneh-aneh, ga kaya make kamera SLR analog", padahal dengan memakai analog, pembelajaran kita bakal lebih jauh lagi. Sebenarnya permainan di kamera LOMO kan cuma masalah saturasi, dan pencahayaan yang bisa dihasilin dari film effect dan light meter effect, beberapa bisa dimainkan dengan penggantian lensa, bahkan untuk lomografer yang sudah profesional, efeknya sudah dimulai oleh para pecinta fotografi yang memakai SLR ataupun format medium sejak puluhan tahun lalu dengan penambahan media efek pada pencetakan dengan penyinaran di enlarger manual.
Yah, kalau pendapat saya pribadi tentang Lomografi adalah, dia menutup kemungkinan untuk kita belajar lebih banyak tentang fotografi (terutama manual) dengan memberi kita cara praktis untuk mengambil gambar. Gimana pendapat anda?
atau mungkin ada yang mau menambahkan, mengingat pembelajaran saya tentang kamera lomo ini belum banyak :)
Lomografi sendiri pada awalnya trademark komersil dari Lomographische AG, Austria, untuk produk dan layanan yang terkait dengan fotografi. Nama tersebut diinspirasikan dari nama perakitan lensa LOMO PLC di St.Petersburg, Rusia. LOMO PLC tersebut menciptakan dan memproduksi kamera 35mm otomatis kompak LOMO LC-A -- yang menjadi 'centerpiece dari marketing penjualan lomograf. kamera ini memiliki bentuk yang didasarkan pada Cosina CX-1 dan diperkenalkan pada awal 1980an.
Setelah aku pelajari lagi tentang hardware yang diterbitkan, ternyata sebagian besar (hampir semua malah) kamera lomo ini diciptakan hanya memiliki satu efek. Well...sedikit catatan bahwa lomografi sendiri didefinisikan sebagai sebuah modus snapshot yang simpel dan memiliki karakteristik over saturated, blury, oldie, dsb. Contohnya pada kamera lomo fisheye, efek yang ditanamkan hanyalah sebuah lensa wideangel pendek yang mampu memberikan efek distorsi fisheye.
Setelah sya pelajari lebih dalam lagi, ternyata efek pada lomografi tidak hanya terbatas pada kamera, seperti yang diketahui secara terbatas pada pecinta lomografi baru, tapi juga sampai pada efek kamar gelap yang tidak biasa.
Setelah sampai disini pembelajaran saya, saya lalu berpikir, kenapa ga sekalian pake analog SLR aja?kalaupun sebagian besar pecinta LOMO ini menghindari pemakaian kamera digital, tapi saya pikir semua efek yang bisa dihasilkan oleh kamera LOMO sangat bisa dihasilkan oleh kamera SLR analog. OK kita bicara masalah "don't think, just shoot" jargon dari pabrikan LOMO yang sebetulnya hampir sama dengan "The Kodak Moment". Tapi menurutku itu cuma bahan marketing yang dipakai untuk mempengaruhi orang dan membuat orang berpikir, bahwa "memakai kamera LOMO kamu ga perlu mikir buat ngehasilin gambar yang aneh-aneh, ga kaya make kamera SLR analog", padahal dengan memakai analog, pembelajaran kita bakal lebih jauh lagi. Sebenarnya permainan di kamera LOMO kan cuma masalah saturasi, dan pencahayaan yang bisa dihasilin dari film effect dan light meter effect, beberapa bisa dimainkan dengan penggantian lensa, bahkan untuk lomografer yang sudah profesional, efeknya sudah dimulai oleh para pecinta fotografi yang memakai SLR ataupun format medium sejak puluhan tahun lalu dengan penambahan media efek pada pencetakan dengan penyinaran di enlarger manual.
Yah, kalau pendapat saya pribadi tentang Lomografi adalah, dia menutup kemungkinan untuk kita belajar lebih banyak tentang fotografi (terutama manual) dengan memberi kita cara praktis untuk mengambil gambar. Gimana pendapat anda?
atau mungkin ada yang mau menambahkan, mengingat pembelajaran saya tentang kamera lomo ini belum banyak :)
Jumat, 14 Oktober 2011
SALES TIPS : and our weapon is....
Pertama kali menjadi sales beberapa tahun yang lalu saya kurang memahami hal ini, bahwa dalam setiap pekerjaan pasti ada senjata yang harus dimiliki. Tukang kayu dengan meteran, penggaris siku dan gergajinya; tukang jahit dengan benang, jarum dan meterannya, bahkan HRD pun harus mempersenjatai dirinya dengan kemampuan menggunakan alat tes dan kemampuannya "membaca" lawan bicaranya pada saat interview.
Lalu apa senjata sales? Senjata utama yang harus dimiliki seorang sales adalah selembar kartu nama, yang kedua adalah hapalan tentang harga, yang biasanya akan diwakili oleh lembaran pricelist. Dua hal tersebut adalah senjata utama disamping pemahaman produk dan kepercayaan diri serta semangat juang yang tidak pernah habis.
Sedikit cerita mengenai dua senjata utama tersebut, yang memang sangat penting. Memang seorang sales tidak boleh lepas dari kedua hal tersebut. Sebetulnya tanpa kartu nama sales masih bisa bekerja, dengan menuliskan nama dan kontaknya di pricelist yang dia tinggalkan pada customernya. Tapi bagaimana jika info harga tidak diberikan dalam bentuk pricelist? Seperti seorang sales perumahan yang tidak akan membawa pricelist kemana-mana. Ya, intinya kartu nama memang akan menjadi sangat penting.
Ketika pertama kali saya bekerja sebagai seorang sales pun saya melakukan hal yang sedikit ekstrim, bahkan sedikit membutuhkan muka yang lebih tebal dari biasanya. Ketika itu saya belum memiliki kartu nama sendiri karena masih minggu pertama bekerja. Yang saya lakukan waktu itu adalah saya menggunakan kartu nama atasan saya yang saya "Tip Ex" nama dan nomer telponnya lalu saya ganti dengan nama dan nomer telpon saya. Hal itu saya lakukan mengingat bahwa jika bertemu dengan klien yang cukup penting, salah satu cara untuk membuat mereka ingat kepada kita adalah dengan meninggalkan kartu nama. Apalagi jika pertemuan dengan klien tersebut terjadi di sebuah acara yang tidak mungkin membawa pricelist. Lagipula akan jadi kurang sopan jika kita berkenalan dan kita meminta kartu nama lawan bicara sedangkan kita tidak memiliki kartu nama untuk ditukar. Jadi kartu nama ini akan menjadi satu hal yang cukup krusial untuk bisa membuat klien/customer kita bisa mengingat kita dan bendera perusahaan kita. Jadi melihat pengalaman saya, saya sarankan untuk para sales baru yang belum punya kartu nama, jangan malu melakukan apapun supaya anda memiliki selembar kartu dengan nama anda di atasnya.
Yang kedua adalah pemahaman harga, seorang sales harus hapal atau setidaknya tahu harga barang yang dijualnya. Bagaimana jika tidak tahu dan tidak hapal? Karena itulah kita jadi tahu betapa pentingnya lembaran pricelist. Lembaran pricelist (atau dalam bentuk digital) akan sangat membantu seorang sales untuk menginfokan harga. Tanpa pricelist seorang sales hanya akan tampak seperti seorang penderita rabun jauh minus 15 yang lari pagi tanpa kacamata, yang akan tabrak kiri tabrak kanan karena sedikit kelabakan mencari jalan. Jadi saya sarankan untuk teman-teman sales baru, jangan pernah biarkan Pricelist itu jauh-jauh dari pandangan anda, atau anda akan seperti orang kebingungan ketika ditanya harga.
Begitulah sedikit penjabaran saya mengenai dua buah senjata utama sales, Jangan pernah menyepelekan selembar kartu nama, anda harus punya itu, apapun bentuknya. Selain itu jangan pernah melepaskan lembaran pricelist dari pandangan anda, terutama ketika anda berada dalam jam kerja.
HAPPY SELLING....Salam :)
Senin, 26 September 2011
SALES TIPS : Pembeli Adalah Raja
Beberapa waktu yang lalu saya membeli pulsa di dekat rumah, warung pulsanya sudah cukup besar, bahkan punya pegawai (sepertinya pegawainya sih masih keluarga). Saya membeli pulsa memang hanya nominal kecil, Rp10.000,-, setelah pegawainya meminta saya mendiktekan nomer saya, saya pun mendiktekannya dengan cara begini 0852-2747-1xxx, tapi dia salah tulis menjadi 0852-27447-1xxx. begitu saya lihat di monitor komputer bahwa dia salah tulis saya langsung bilang "kebanyakan angka empatnya mbak" tapi dia terlanjur pencet "enter". Alhasil request transaksi terkirim, saat itu si bossnya denger dan langsung datang dan menanyakan "ada apa?" yang aku jawab "kebanyakan angka empat, jadinya malah 13 digit". Lalu si bossnya ngeliat angka di monitornya dan yang aneh, bukannya menegur karyawannya yang kurang hati-hati, dia malah, dengan sedikit memarahi, mendikte saya dengan berkata "lain kali mas, kalo ngomongin nomernya misahnya yang enak...kalo nomer kaya gini itu harusnya dibaca 085-22747-1xxx, soalnya ada angka '2' kembar disitu", yang saya jawab ringan, "waduh, aku tu udh terlanjur enak bacanya 0852-2747-1xxx" dan sekali lagi dia menyalahkan saya karena membacanya seperti itu, dia bilang "kalo nomernya 08522747 itu kan ada angka kembarnya '2' itu kan...itu harusnya dibacanya jangan dipisah, jadinya harus dibaca 085-22747, gitu", dan akhirnya saya mengalah, daripada malah terjadi debat kusir ga jelas cuma gara-gara nomer hape.
Sepertinya perkaranya sepele ya? Sekedar membacakan nomer hape, tapi disini ada sesuatu yang salah. Kenapa? Seharusnya si boss itu sebagai penjual tetap menempatkan diri dengan benar, sesuai dengan prinsip dagang bahwa pembeli adalah raja. Mau bagaimanapun cara membacakan nomer hapenya pembeli lah yang benar, karena setiap orang punya cara nyamannya sendiri dalam membaca nomer hape, benar kan? Nah kesalahan yang kedua, tidak ada teguran yang diberikan kepada pegawainya, karena dipikir lebih dalam lagi pun sebetulnya itu murni kesalahan pegawai. Bayangkan kesalahan ketik ada pada angka '4', kenapa pembeli disalahkan untuk angka '2'. OK mungkin ada beberapa perusahaan yang tidak akan pernah menegur karyawannya di depan pembeli. Tapi setidaknya seharusnya kalimat yang benar yang seharusnya diucapkan si boss adalah begini "maaf, ada sedikit kesalahan sepertinya, coba deh dibacakan lagi nomernya", bukannya menimpakan kesalahan pada pembeli.
Kesalahan-kesalahan seperti ini bagi sales akan sangat fatal akibatnya, karena resiko kehilangan pelanggan akan sangat besar. Ingat, tidak ada pembeli/pelanggan yang suka didikte, karena bagaimanapun, pembeli adalah raja, mereka punya uang untuk membeli produk kita, dan tanpa mereka bisnis kita tidak akan pernah berkembang. Bahkan mengenai "pembeli adalah raja", seorang teman yang pernah bekerja di dapur hotel berbintang mengatakan "sesulit apapun permintaan pembeli, kita harus semaksimal mungkin berusaha untuk memenuhinya, tapi si pembeli juga harus paham resikonya, yaitu akan muncul biaya tambahan untuk permintaan yang aneh-aneh", tapi tetap saja, pembeli adalah raja.
Jadi sekali lagi saya tekankan bahwa adalah haram hukumnya bagi para sales untuk mendikte pembeli, karena melakukan persuasi tidaklah sama dengan mendikte, banyak orang yang senang dipengaruhi dengan saran-saran, tapi tidak ada orang yang senang jika didikte tentang bagaimana mereka harus bersikap.
sekian dulu dari saya
Happy Selling....salam
Minggu, 25 September 2011
SALES TIPS : an opening
Beberapa waktu yang lalu saya diberi kesempatan untuk sedikit berbagi mengenai pekerjaan saya, di dalam acara sharing dunia kerja yang merupakan satu rangkaian dari acara Temu Alumni Psikologi Sanata Dharma Yogyakarta. Sharing ini dilakukan oleh alumni untuk mahasiswa yang baru masuk, untuk memperluas dan mempersiapkan pandangan mereka ke depan mengenai dunia kerja.
Memang pekerjaan yang saya kerjakan saat ini sedikit berbelok dari ranah psikologi pada umumnya, selain 3 orang teman saya yang juga membawakan sharing dengan pekerjaan yang sedikit "nyleneh" pada saat itu, yaitu wiraswasta, seniman, dan penyiar radio. Mungkin bagi sebagian besar mahasiswa psikologi yang menganggap bahwa kuliah di psikologi berarti juga bekerja di bidang ilmu psikologi, seperti psikologi industri, psikologi klinis, psikologi pendidikan, ataupun psikologi sosial, pekerjaan kami (atau boleh dibilang pilihan kami ini) sedikit unik dan diluar kewajaran, bahkan ada yang menanyakan "kalo pada akhirnya menjadi wiraswasta, apakah tidak merasa rugi sudah susah payah kuliah di psikologi?". Sebuah pertanyaan yang sangat wajar akan terlontar dari mahasiswa baru, dimana kita masih akan menemukan sebuah idealisme yang besar ketika memilih jurusan psikologi, apalagi jika psikologi itu memang adalah pilihan mereka sendiri.
Menjawab sedikit tentang pertanyaan tersebut, bahwa sebetulnya belajar psikologi adalah belajar tentang manusia, dan bekerja dalam bidang psikologi berarti pula adalah bekerja di segala bidang yang bersinggungan dengan manusia. Jadi menurut saya secara pribadi, apapun pekerjaan kita, kalau itu masih memerlukan sebuah keahlian untuk dapat berkomunikasi, memahami, berempati dan memberi feedback pada manusia lain berarti kita semua masih bekerja dalam jalur psikologi, benar begitu?
OK, kita kembali pada judul di atas, mengenai sales. Banyak orang, apalagi lulusan S1 yang memandang rendah posisi sales ataupun marketing. Padahal perlu diperhatikan, sales atau marketer, atau dalam bahasa Indonesianya bisa kita sebut "PEMASAR" adalah orang-orang besar. Dari deretan daftar orang-orang terkaya di dunia, sebagian besar di antaranya berprofesi sebagai pemasar. Menarik bukan? Selain itu perlu dengan sangat diperhatikan, bahwa untuk bidang industri, apalagi industri yang membutuhkan pemasaran, seperti retail dan distribusi, sales/marketer/pemasar adalah orang-orang terpenting bagi perusahaan, mereka adalah ujung tombak perusahaan, dimana kalau mereka tidak bisa menghasilkan penjualan, perusahaan tidak akan mendapat income, dan perusahaan tidak akan bisa menggaji karyawan-karyawannya. Dengan kata lain adalah : Kami, para sales/marketer/pemasar, adalah orang-orang yang memberi makan ratusan bahkan ribuan orang-orang yang bekerja pada sebuah perusahaan. Cukup hebat bukan? Sangat hebat malah, jadi jangan sekali-sekali memandang sebelah mata pekerjaan ini, dan jangan pernah merasa rendah diri karena bekerja sebagai seorang sales.
OK, tanpa berpanjang lebar lagi, saya ingin berbagi sedikit tips, untuk rekan-rekan yang tertarik terjun ke dunia pemasaran, atau yang sedang bergelut di dalamnya. Apa aja sih yang harus dilakuin oleh sales dan harus dimiliki oleh sales supaya dagangannya bisa laris?
1. Pemahaman Produk
Pastikan kamu paham akan produk yang kamu jual, baik kelebihan maupun kekurangan. Memang perlu mengakui kekurangan produk pada calon pembeli, tapi jangan terlalu sering diungkapkan, unggulkan saja kelebihannya karena itulah yang nantinya akan jadi nilai jual. Mengungkapkan kekurangan produk akan membuat calon pembeli berpikir ulang untuk membeli produk kita. Sedikit tambahan kita juga akan sangat perlu untuk mengenal produk kompetitor, sehingga kita bisa memberikan komparasi, tapi tetap, harus selalu mengunggulkan produk kita, jangan lepas Pe-De.Karena itu seorang sales juga harus mampu untuk melakukan survei pasar dan dapat mengumpulkan produk issue dari produk-produk kompetitor, mulai dari harga hingga pandangan pasar terhadapnya.
2. Percaya Diri
Dalam berjualan produk, usahakan selalu percaya diri dan selalu berpikiran positif. Ingat menjadi seorang sales kita harus bisa menjadi seorang brandsetter, artinya kita harus mampu mengubah mindset calon pembeli supaya mereka menganggap produk kita itu nomer satu dan tiada brand lain selain brand yang kita pasarkan. Sekali lagi, selalu percaya diri, jangan malu untuk bertemu orang baru, atau menelepon orang baru. Selalu pasang pemikiran bahwa mereka yang butuh kita bukan kita yang butuh mereka. Perkenalkan diri dengan baik, dan posisikan diri kita setara dengan calon pembeli. Sebagai seorang sales produk IT, pada saat pertama kali menjadi sales saya selalu minder ketika harus bertemu dengan owner toko-toko komputer ataupun manager-manager purchasing, tapi lama-kelamaan saya menyadari bahwa sebetulnya mereka itu butuh kita, dan sebetulnya hubungan antara kami itu adalah simbiose mutalisme dimana jika tidak ada produk yang saya pasarkan pun toko mereka akan miskin produk dan end user tidak suka itu. Maka sejak saat itu saya menemukan bahwa posisi sales itu sebetulnya sama dengan owner ataupun manager purchasing.
3. Kemampuan Komunikasi Yang Baik
Satu lagi yang dibutuhkan sales, kenapa hal ini penting? Karena menjadi sales berarti bertemu dengan banyak orang baru selama melakukan pekerjaannya, jika seorang sales tidak mempunyai kemampuan komunikasi yang baik, maka yang terjadi adalah sang sales tidak dapat memperkenalkan dirinya dan perusahaannya, yang artinya si sales ini tidak akan dapat menjual produknya. Ingat, salah satu hal yang harus dilakukan sales adalah memperbanyak kenalan dan rekanan, karena semakin banyak kenalan dan rekanan artinya penjualan akan semakin lancar. bayangkan jika setiap bulannya kamu bisa menjual kepada 10% dari kenalanmu, jika kamu cuma punya kenalan 100 maka kamu hanya akan bisa menjual kepada 10 orang, tapi jika kamu punya kenalan 1000, maka kamu akan bisa menjual kepada 100 orang. Lagipula semakin banyak kenalan dan rekanan yang mengenal kamu dan produkmu, berarti semakin banyak media iklan yang kamu punya. Karena jika teman dari seorang kenalanmu ada yang membutuhkan barang yang kamu miliki mereka pasti akan merekomendasikan dirimu, yang artinya penjualan akan terjadi bukan?
Satu hal tambahan dalam kemampuan komunikasi. Seorang sales akan menjadi sangat baik jika mempunyai kemampuan persuasi yang baik, dimana kita bisa mempengaruhi pikiran calon pembeli kita, membuat mereka benar-benar percaya pada kita dan akhirnya mengambil barang yang kita pasarkan.
Well, mungkin sebetulnya masih banyak tips lainnya yang bisa dipelajari. Tapi untuk sementara sekian dulu dari saya, akan saya tambahkan lagi nanti jika ada waktu luang untuk menulis lagi.
Happy Selling....salam
Rabu, 14 September 2011
BESTO PREISO (baca : best place)
Kata orang hidup adalah perjuangan, dan aku pun mengamini kebenarannya, bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang dan bahwa dalam hidup, kita pun punya banyak hal yang harus kita perjuangkan. Setiap kita punya hal-hal yang berbeda untuk kita perjuangkan, satu yang pasti adalah masing-masing dari kita memperjuangkan impian kita masing-masing. Mungkin jika bicara masalah mimpi dan dunia ideal akan terdengar naïf, tapi apa boleh buat, memang itulah yang terjadi kan? Ada orang yang berjuang demi mendapatkan pria/wanita yang mereka sayangi untuk bisa menjadi pasangan seumur hidupnya, ada yang berjuang demi sebuah pekerjaan impiannya, ada yang berjuang untuk terus menerus menggali ilmu, ada yang berjuang demi mendapatkan penghasilan yang lebih besar lagi. Apa pun itu semuanya adalah perjuangan untuk mendapatkan tempat yang terbaik menurut idealisme mereka masing-masing.
Bagi beberapa orang, perjuangan untuk menemukan tempat yang terbaik itu hanya memakan waktu yang singkat dan mudah. Tapi bagi sebagian besar orang hal tersebut bisa terasa sangat panjang dan berat, bahkan terkadang bisa diwarnai dengan darah dan pertempuran. Bahkan ada juga yang tidak pernah bisa menemukan tempat terbaiknya sekalipun dengan perjuangan yang tak pernah berhenti hingga akhir hidupnya.
Beberapa waktu yang lalu aku sendiri berdiskusi dengan seorang teman mengenai “tempat terbaik” ini. Sebuah diskusi yang berujung pada debat kusir, karena pendapat kami berbeda. Aku secara pribadi (aku sebut secara pribadi karena tidak menutup kemungkinan banyak yang berpendapat lain) berpendapat bahwa tempat terbaik itu pasti selalu ada bagi setiap orang, entah dia bisa menemukan tempat itu selama hidup dengan penuh perjuangan, ataupun pada akhirnya hidupnya berakhir dengan tidak sempat menemukan tempat terbaiknya, tapi tidak ditemukan bukan berarti tidak ada kan? ; sedangkan rekan saya berpendapat sedikit berbeda, bahwa tempat terbaik ini bagi beberapa orang memang tidak tersedia, dan dicontohkan pada orang-orang yang berakhir hidupnya tanpa bisa menemukan tempat terbaiknya. Tapi karena ini blogku maka aku akan melanjutkan tulisan ini dengan berdasar pada pendapat pribadiku J
Dalam filsafat Jawa ringan sendiri ada sebuah istilah yaitu “nrimo ing pandum”, dimana seringkali orang berpikir “nrimo ing pandum” itu adalah berserah saja pada apa yang sudah ada. Tapi menurutku itu akan menjadi luar biasa salah. Karena seharusnya yang dimaksud “nrimo ing pandum” adalah sebuah kondisi bersyukur pada Sang Maha Tinggi atas apa yang diterima setelah melakukan perjuangan habis-habisan. Jadi bukan hanya sekedar menerima apa yang terjadi dan berpikir “sudahlah, begini saja sudah baik”, tapi terus memperbaikin diri, dan terus giat bekerja, jika hasilnya tidak sesuai yang diharapkan maka bersyukurlah. Itu yang disebut “nrimo ing pandum”
Dengan berdasarkan pada pendapat bahwa tempat terbaik itu selalu ada maka kita akan selalu punya semangat juang dan selalu bisa berkembang lebih dan lebih lagi. Bayangkan kalau kita sudah berpatokan pada “jangan-jangan aku tidak memiliki tempat terbaik” dan lalu berhenti pada titik dimana kita berada, lalu merasa nyaman, menurutku itu akan membuat kita berhenti berkembang kan? Hanya berhenti pada suatu kemapanan yang absurd dan tidak bertumbuh. Kalau mau dibikin sedikit menohok mungkin bisa dibilang “berhenti untuk jadi seorang pecundang”, karena menurutku secara pribadi “pecundang bukanlah seorang yang kalah, tapi pecundang adalah seorang yang berhenti mencoba setelah dia mengalami kekalahan”, tetap berjuang dan mungkin kita bisa menjadi pemenang dan berujung pada penemuan tempat terbaik, bener ga? Jaman dulu kalau si Edison itu berhenti berjuang karena berpikir bahwa tempat terbaik itu tidak tersedia untuk dirinya, mungkin kita masih memakai obor, dan kita tidak pernah mengenal kamera.
Bagi yang suka anime dan manga mungkin ga asing dengan “shaman king”, dan kalau ga asing dengan shaman king pasti ga asing dengan karakter Bokuto no Ryu (Ryu si pedang kayu). Dia adalah seorang kepala gangster yang punya impian menemukan “besto preiso” (baca : best place) untuk dirinya dan ganknya, dimana mereka bisa diterima dan bisa tinggal nyaman. Hal itu diperjuangkannya karena dia dan anak buahnya mempunyai sebuah perasaan sama, yaitu ditolak oleh masyarakat, sehingga mereka bersama-sama berjuang untuk menemukan tempat yang terbaik dalam hidupnya yang berujung pada perkenalannya dengan tokoh utama dalam cerita itu, dan terus melanjutkan perjuangannya. Pada akhir cerita, Ryu sendiri belum berhasil menemukan tempat terbaik yang nyata secara harafiah untuk dia dan anak buahnya, tapi dia tetap melanjutkan pencariannya dengan berkendara diatas motornya. Well, kalau mau ambil contoh dari manga itu sih (walapun resikonya dibilang naïf, atau dibilang kaya anak kecil) kita bisa lihat bahwa Ryu pun sampai akhir ceritanya tidak menemukan tempat terbaik yang dicarinya, tapi itu tidak membuatnya berhenti, bahkan mungkin kalau mau dibuat sampai dia mati, dia tetap tidak menemukan tempat terbaik bagi dirinya, tapi kalau mau dilihat dari sudut pandang lain, mungkin perjuangannya itu akan menginspirasi banyak anak buahnya, dan mungkin nantinya salah satu anak buahnya bisa menemukan tempat terbaik dengan bermodal mimpi yang diwariskan oleh Ryu. Begitupun kita, aku pikir suatu saat jika sekalipun hidup kita berakhir dengan tanpa bisa menemukan tempat terbaik untuk kita beristirahat mungkin hidup yang kita perjuangkan itu akan menginspirasi orang-orang yang memiliki mimpi yang sama dengan kita dan bisa membantu mereka menemukan tempat terbaik mereka (yang jika mimpi mereka sama dengan mimpi kita bukannya itu berarti mereka juga menemukan tempat terbaik untuk kita?)
Dilihat dari sudut pandang keTuhanan juga, aku percaya bahwa Tuhan selalu menyiapkan hal yang terbaik untuk kita sesuai dengan apa yang kita minta (mana ada bapak yang kasih ular ketika anaknya minta roti?). Jadi aku pun percaya bahwa Dia sudah siapkan tempat terbaik sama seperti apa yang aku impikan dan inginkan, semuanya tergantung pada seberapa gigih aku memperjuangkan dan membawanya dalam doa.
Dan pada akhirnya paragraf terakhir, dari apa yang sudah aku jabarkan panjang-panjang di atas, aku hanya pengin bilang, bahwa dalam hidup jangan pernah berhenti pada suatu titik nyaman dan merasa sudah mapan di titik itu (kecuali jika titik itu adalah mimpimu), terus berjuang sekalipun kamu sudah kehabisan keringat, tapi tetap bersyukur pada kondisi yang ada, dan ga lupa doakan semua mimpimu, bawa ke hadapan Tuhan, and I do truly believe that everything is gonna be just great for all of us.
Jumat, 12 Agustus 2011
MY DEAREST
Dearest
Kepada sahabat-sahabatku yang MASIH SINGLE...
Cinta ibarat kupu-kupu, makin kau kejar, makin ia menghindar.
Tapi bila kau biarkan ia terbang, ia akan menghampirimu disaat kau tak menduganya.
Cinta bisa membahagiakanmu, tapi sering pula menyakiti...
Tapi cinta itu istimewa apabila kau berikan pada seseorang yang layak menerimanya.
Jadi tenang saja, jangan terburu-buru, dan pilihlah yang terbaik
Kepada sahabat-sahabatku yang RAGU-RAGU DENGAN PERNIKAHAN...
Cinta bukan perkara mencari seseorang yang sempurna,
Tetapi menemukan seseorang yang bisa menjadikan dirimu sempurna.
Kepada sahabat-sahabatku yang PLAYBOY/PLAYGIRL...
Jangan katakan “Aku cinta padamu” bila kau tidak benar-benar peduli.
Jangan bicarakan soal perasaan-perasaan bila itu tidak benar-benar ada.
Jangan kau sentuh hidup seseorang bila kau hanya berniat main-main dengannya.
Jangan menatap ke dalam mata bila apa yang kau kerjakan Cuma berbohong.
Hal terkejam yang bisa dilakukan ialah membuat seseorang jatuh cinta, padahal kau tidak berniat sama sekali tuk menerimanya saat ia “terjatuh”...
Kepada sahabat-sahabatku yang BERTUNANGAN...
Tolok ukur saling mencocoki bukanlah berapa lamanya waktu yang kalian habiskan bersama, melainkan untuk betapa baiknya kebersamaan kalian berdua...
Kepada sahabat-sahabatku yang SUDAH MENIKAH...
Kalau cinta jangan katakan “ini salahmu!” tapi “maafkan aku ya!”.
Jangan juga “Kau dimana?!” melainkan “aku disni, kenapa?”.
Bukan “kok bisa sih kamu begitu?!” tapi “Aku mengerti”.
Dan juga bukan “Coba, seandainya kau...” akan tetapi “Terima kasih ya, kau begitu...”
Kepada sahabat-sahabatku yang PATAH HATI...
Sakit...patah hati...bertahan selama kau menginginkannya.
Dan akan mengiris luka sedalam kau membiarkannya.
Tantangannya bukanlah bagaimana bisa mengatasi rasa itu,
Melainkan apa yang bisa diambil sebagai pelajaran dan hikmahnya
Kepada sahabat-sahabatku yang BELUM PERNAH JATUH CINTA...
Bagaimana kalau jatuh cinta : Mau jatuh, jatuhlah, tapi jangan sampai terjerumus.
Tetaplah konsisten, tapi jangan terlalu “ngotot”.
Berbagilah dan jangan sekali-kali tidak fair.
Berpengertianlah dan cobalah untuk tidak menuntut
Siap-siaplah untuk terluka dan menderita, tapi jangan kau simpan semua rasa sakitmu jika itu benar kau alami.
Kepada sahabat-sahabatku yang INGIN MENGUASAI...
Hatimu patah melihat yang kau cintai berbahagia dengan orang lain.
Tapi akan lebih sakit lagi mengetahui bahwa yang kau cintai ternyata tidak bahagia denganmu.
Kepada sahabat-sahabatku yang MASIH BERTAHAN MENCINTAI SESEORANG YANG SUDAH PERGI...
Hal menyedihkan dalam hidup ialah bula kau bertemu dengan seseorang lalu jatuh cinta, hanya kemudian pada akhirnya menyadari bahwa dia bukanlah jodohmu dan kau telah menyia-nyiakan bertahun-tahun untuk seseorang yang tidak layak.
Kalau...
Sekarang ia sudah tidak layak, 10 tahun dari sekarangpun ia juga tak akan layak. Biarkan dia pergi, lupakan...!!!
Kepada sahabat-sahabatku yang TAKUT MENGAKUI...
Cinta menyakitkan bila anda putuskan hubungan dengan seseorang.
Tapi lebih sakit lagi bila seseorang memutuskan hubungan denganmu.
Tapi cinta paling menyakitkan bila orang yang kau cintai sama sekali tidak mengetahui perasaanmu (terhadapnya)
Kepada sahabat-sahabatku yang INGIN MENGAKHIRI CINTA...
Renungkanlah apa yang telah kamu lalui bersama pasanganmu dan pikirkan apakah kamu bisa memiliki hubungan seperti yang pernah kamu miliki.
Kepada sahabat-sahabatku yang MASIH SINGLE...
Cinta ibarat kupu-kupu, makin kau kejar, makin ia menghindar.
Tapi bila kau biarkan ia terbang, ia akan menghampirimu disaat kau tak menduganya.
Cinta bisa membahagiakanmu, tapi sering pula menyakiti...
Tapi cinta itu istimewa apabila kau berikan pada seseorang yang layak menerimanya.
Jadi tenang saja, jangan terburu-buru, dan pilihlah yang terbaik
Kepada sahabat-sahabatku yang RAGU-RAGU DENGAN PERNIKAHAN...
Cinta bukan perkara mencari seseorang yang sempurna,
Tetapi menemukan seseorang yang bisa menjadikan dirimu sempurna.
Kepada sahabat-sahabatku yang PLAYBOY/PLAYGIRL...
Jangan katakan “Aku cinta padamu” bila kau tidak benar-benar peduli.
Jangan bicarakan soal perasaan-perasaan bila itu tidak benar-benar ada.
Jangan kau sentuh hidup seseorang bila kau hanya berniat main-main dengannya.
Jangan menatap ke dalam mata bila apa yang kau kerjakan Cuma berbohong.
Hal terkejam yang bisa dilakukan ialah membuat seseorang jatuh cinta, padahal kau tidak berniat sama sekali tuk menerimanya saat ia “terjatuh”...
Kepada sahabat-sahabatku yang BERTUNANGAN...
Tolok ukur saling mencocoki bukanlah berapa lamanya waktu yang kalian habiskan bersama, melainkan untuk betapa baiknya kebersamaan kalian berdua...
Kepada sahabat-sahabatku yang SUDAH MENIKAH...
Kalau cinta jangan katakan “ini salahmu!” tapi “maafkan aku ya!”.
Jangan juga “Kau dimana?!” melainkan “aku disni, kenapa?”.
Bukan “kok bisa sih kamu begitu?!” tapi “Aku mengerti”.
Dan juga bukan “Coba, seandainya kau...” akan tetapi “Terima kasih ya, kau begitu...”
Kepada sahabat-sahabatku yang PATAH HATI...
Sakit...patah hati...bertahan selama kau menginginkannya.
Dan akan mengiris luka sedalam kau membiarkannya.
Tantangannya bukanlah bagaimana bisa mengatasi rasa itu,
Melainkan apa yang bisa diambil sebagai pelajaran dan hikmahnya
Kepada sahabat-sahabatku yang BELUM PERNAH JATUH CINTA...
Bagaimana kalau jatuh cinta : Mau jatuh, jatuhlah, tapi jangan sampai terjerumus.
Tetaplah konsisten, tapi jangan terlalu “ngotot”.
Berbagilah dan jangan sekali-kali tidak fair.
Berpengertianlah dan cobalah untuk tidak menuntut
Siap-siaplah untuk terluka dan menderita, tapi jangan kau simpan semua rasa sakitmu jika itu benar kau alami.
Kepada sahabat-sahabatku yang INGIN MENGUASAI...
Hatimu patah melihat yang kau cintai berbahagia dengan orang lain.
Tapi akan lebih sakit lagi mengetahui bahwa yang kau cintai ternyata tidak bahagia denganmu.
Kepada sahabat-sahabatku yang MASIH BERTAHAN MENCINTAI SESEORANG YANG SUDAH PERGI...
Hal menyedihkan dalam hidup ialah bula kau bertemu dengan seseorang lalu jatuh cinta, hanya kemudian pada akhirnya menyadari bahwa dia bukanlah jodohmu dan kau telah menyia-nyiakan bertahun-tahun untuk seseorang yang tidak layak.
Kalau...
Sekarang ia sudah tidak layak, 10 tahun dari sekarangpun ia juga tak akan layak. Biarkan dia pergi, lupakan...!!!
Kepada sahabat-sahabatku yang TAKUT MENGAKUI...
Cinta menyakitkan bila anda putuskan hubungan dengan seseorang.
Tapi lebih sakit lagi bila seseorang memutuskan hubungan denganmu.
Tapi cinta paling menyakitkan bila orang yang kau cintai sama sekali tidak mengetahui perasaanmu (terhadapnya)
Kepada sahabat-sahabatku yang INGIN MENGAKHIRI CINTA...
Renungkanlah apa yang telah kamu lalui bersama pasanganmu dan pikirkan apakah kamu bisa memiliki hubungan seperti yang pernah kamu miliki.
Kamis, 28 Juli 2011
KENAPA SIH?!?
Tangan yang terulur lemah itu menengadah
sesekali menggenggam kuat
ingin memberi kesan kokoh, tak tergoyah
sekalipun nafasnya sudah terdengar berat
merasa kalau sendiri adalah indah
walaupun sebetulnya ringkih
hanya tak ingin terlihat lemah
hingga diam di sudut merepih
kakinya berdiri tegak sedikit dibuka
sesekali menghentak kuat
ingin memberi kesan kokoh, tak tergoyah
sekalipun sebetulnya gemetar saat penat
merasa kalau sepi adalah sobat
sahabat pemberi konklusi
sekalipun jiwa rindu dipeluk erat
tapi bibir berkata “aku pilih sunyi dan sendiri”
“kenapa mesti sepi?” tanya hati
“kenapa mesti menyudut dan merepih?”
ada tangan lain untukmu yang selalu tersedia
ada pelukan yang akan selalu hangat
“sepi ini beri waktu untuk buka peta”
“tapi kenapa harus buka peta jika ada penunjuk jalan?”
“sepi ini beri kesempatan untuk berpikir maju”
“kenapa harus sepi jika ada tangan yang menggandeng maju?”
dedicated to semua temanku yang berpikir “sendiri” adalah pemecahan masalah
Minggu, 24 Juli 2011
CERTAMEN ERGO SUM
Pertama kali belajar filsafat manusia, pasti dihadapkan dengan sebuah istilah Cogito Ergo Sum, dimana di situ ada satu pertanyaan mendasar tentang "ada". Benarkah kita ini benar-benar ada? jika menurutmu memang benar apa buktinya? Pertanyaan yang dilontarkan oleh René Descartes, yang dijawab dengan sebuah kesadaran mengenai "ada" itu, dimana satu bukti bahwa kita ini ada adalah karena kita ini berpikir. Kita bisa berpikir bahwa kita ini ada sudah menjadi satu bukti bahwa kita ada. Kita berpikir bahwa kita ini ada, mempunyai kesadaran, dan memiliki mimpi adalah bukti ke"ada"an kita.
Kemarin saya baru saja selesai membaca sebuah novel baru, karangan Dony Dhirgantoro, novel keduanya yang berjudul "2". Sebuah novel yang bercerita mengenai perjuangan, perjuangan seorang ayah, perjuangan seorang ibu, perjuangan seorang kekasih, sahabat, teman, saudara, atlit, dan perjuangan seorang pelatih demi mewujudkan mimpi mereka.
Sebuah novel yang memberi saya sebuah pemahaman baru bahwa bila kita memiliki mimpi sebesar apapun itu tapi jika kita tidak mengiringinya dengan kerja keras dan perjuangan untuk mencapainya, maka kita adalah pembual terbesar bagi diri kita. Sebaliknya, sekeras apapun kita berusaha dan berjuang jika tidak dilandasi sebuah mimpi, maka kita sudah menjadi pembual terbesar bagi dunia.
Seperti judul di atas, Certamen Ergo Sum, yang dapat diterjemahkan "saya berjuang maka saya ada". Sebuah pernyataan yang cukup membuka mata saya, bahwa sekarang ini di hukum dunia yang berlaku sekarang ini, seseorang dinilai ada ataupun tidak ada, dianggap sebagai manusia ataupun sebagai sampah masyarakat, dari perjuangannya dalam menempuh hidup, dalam menggapai impian. Seorang ayah, baru akan dikasihi, dicintai tulus oleh keluarganya hanya bila si ayah mau berjuang demi keluarganya apapun yang terjadi, mau berdiri dan pasang badan untuk kebahagiaan keluarganya apapun yang terjadi. Seorang ibu, baru akan dianggap sebagai ibu, dikasihi, dicintai oleh anak-anak dan suaminya hanya bila dia mau berjuang memberikan cintanya tanpa pamrih paa keluarganya. Dan masing-masing dari kita baru akan dianggap ada, bila kita semua mau berjuang demi apa yang kita cintai, kita inginkan, dan kita impikan.
Berbeda dengan Cogito Ergo Sum, dimana orang bisa dianggap ada ketika dia berpikir, punya mimpi dan punya cita-cita. Certamen Ergo Sum menyatakan bahwa bermimpi pun seringkali tidak akan pernah cukup untuk menjadikanmu sebagai manusia. Banyak harga yang harus dibayar untuk menggapai cita-citamu, dan perjuanganmu itu lah yang menjadikanmu ada sebagai manusia.
"Bagaimana kalau kita menghadapi sebuah halangan besar dalam perjuangan kita?", well, sedikit saran, ubah paradigma kita mengenai permasalahan. Jika kita menganggap masalah sebagai masalah, maka yang terjadi adalah kita akan merasa lelah dan lemah dalam menghadapinya. Jangan pandang masalah sebagai masalah, pandanglah masalah itu sebagai tantangan baru. Dengan begitu kita pasti merasa ingin menaklukkannya. Percaya atau tidak dalam setiap detik di hidup kita, kita pasti bertemu dengan masalah (yang harus kita pandang sebagai tantangan) baru yang siap menantang langkah kita, dan memang inilah hidup. Bahwa hidup tidak akan pernah hadir sempurna. Sempurna, hadir tanpa permasalahan dan halangan. Sempurna, bahwa tanpa diperjuangkan pun mimpi kita bisa hadir dan menjadi nyata. TIDAK AKAN PERNAH ADA!! Sekali lagi, saya katakan, jangan pernah mengharapkan hidup yang sempurna itu, yang mengharapkan hidup yang sempurna hanyalah seorang pengecut yang tidak berani mengangkat dagu dan membusungkan dada, berjalan maju dalam hidup.
Mimpi, setiap orang punya mimpi. Cita-cita, setiap orang punya cita-cita. Bukan masalah apakah mimpi itu jadi kenyataan ataupun tidak, bukan masalah cita-cita itu bisa diraih ataupun tidak, tapi sebesar apa perjuangan kita menggapai mimpi dan cita-cita kita. Seperti salah satu quote yang saya suka "taruhlah cita-citamu setinggi langit, sekalipun suatu saat kamu tidak mampu menggapainya, setidaknya saat itu kamu sudah ada di antara bintang-bintang". Menurut saya sangat benar, sekalipun mimpi tidak tercapai, orang-orang disekelilingmu akan melihatmu sebagai seseorang yang luar biasa.
Jadi mari kita letakkan mimpi kita, TINGGI, dan mari kita bersama-sama BERJUANG KERAS untuk menggapainya, sehingga kita akan menjadi "ada", dan sekalipun akhirnya hidup kita berakhir tanpa pernah menggapai cita-cita kita, orang-orang terdekat kita akan melihat kita sebagai seseorang yang mengakhiri hidup dalam perjuangan, bukan seseorang yang pengecut dan tinggal diam menerima apa saja yang diberikan dalam hidup kita, sekalipun itu bukanlah hal yang baik dalam hidup kita.
SEKOLAH UNTUK APA (by Rhenald Kasali)
Sekolah untuk Apa? (by Rhenald Kasali)
By Rhenald Kasali, Ketua Program MM UI
Thursday, 07 July 2011
Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.
Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima,
bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah
kamar”.
Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam
perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan
yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN)
masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di
mana saja.
Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi
sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun
sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu
saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi
masalah hari ini.
Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal
memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja lantaran pindah rumah
biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang
kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan
tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.
Lengkap sudah masalah kita. Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan
untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat
sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk
apa di negeri yang serbasulit ini?
Kesadaran Membangun SDM
Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, Perdana Menteri (PM)
Malaysia Mahathir Mohamad sadar betul pentingnya pembangunan sumber
daya manusia (SDM). Dia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil
gelar S-2 dan S-3 ke berbagai negara maju.
Hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai 10 tahun,lulusan terbaik
itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya Anda bisa lihat
sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula
perusahaan swasta dan birokrasinya. Perubahan bukan hanya sampai di
situ.
Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform
sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old
ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis,serta
peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai
ditinggalkan.
Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan
seterusnya.Tak mengherankan kalau sekolahsekolah di berbagai belahan
dunia pun mulai berubah. Di negeri Belanda saya sempat
terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal
Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa.
”Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak,
jadi mereka yang mendaftar harus kami terima,” ujar seorang dekan di
Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi
privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik.
Seleksinya sangat ketat. Lantas bagaimana membangun bangsa dari
lulusan yang asal masuk ini? ”Mudah saja,” ujar dekan itu. ”Kita
potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi
sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua
orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan
berbeda,”ujarnya.
Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di Selandia Baru. Meski
murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA,
angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi.
Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah. Yang
lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di
tingkat SLTA di Selandia Baru.
Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam 10
besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan
waktu beberapa hari untuk mewawancarai lulusan sekolah itu
masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan
mengintip bagaimana pelajaran diajarkan.
Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.
Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah
kita yang terlalu kognitif, dengan guruguru yang merasa hebat kalau
muridnya bisa dapat nilai ratarata di atas 80 (betapapun stresnya
mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif, namun
tak menguasai semua subjek.
Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan
kemampuan mengopi isi buku dan catatan. Entah di mana keguruan itu
muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita
mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan
bebek-bebek dogmatik.
Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri,
mungkin guruguru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon
maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip
nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun
di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar
negeri.
Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? ”Undang-undang menjamin
semua orang punya hak yang sama untuk belajar,” ujar seorang guru di
Selandia Baru. Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan input-nya?
”Itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya,” ujar putra sulung saya
yang kuliah di Auckland University tahun ketiga.
Maksudnya,tes masuk tetap ada,tetapi hanya dipakai untuk penempatan
dan kualifikasi. Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil
dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu Matematika dan Bahasa
Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori:
akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan.
Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik tinggi
karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak,
khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati.
Mereka hanya super di kedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur.
Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya
diberikan secara kognitif. Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran
pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masingmasing.
Bagi mereka yang bercita- cita menjadi dokter, biologi dan ilmu kimia
wajib dikuasai.
Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia.
Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting,
statistik,dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu
belajar biologi dan fisika.
Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata
pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di
atas kriteria ketuntasan minimal (KKM).
Bayangkan, bukankah citacita pembuat kurikulum itu orangnya hebat
sekali? Mungkin dia manusia super.
Seorang lulusan SLTA tahun pertama harus menguasai empat bidang sains
(biologi,ilmu kimia, fisika, dan matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa
Indonesia, Inggris, dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah,
sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga, dan komputer.
Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat
menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek,
dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Seperti
kurikulum program S-1 20 tahun lalu yang sejajar dengan program S-1
yang digabung hingga S-3 di Amerika.
Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga
tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor
menyelesaikan di atas 100 SKS, sehingga hampir tak ada yang lulus.
Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun. Anda bisa saja
mengatakan, dulu kita juga demikian, tapi tak ada masalah kok!
Di mana masalahnya?
Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah
mengubah banyak hal, anakanak kita dikepung informasi yang lebih
bersifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi datang dengan lebih
menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, melainkan dari segala
resources.
Ilmu belajar menjadi lebih penting dari apa yang dipelajari itu
sendiri,sehingga diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu
pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk
dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa
guru, lifelong learning. Saya saksikan metode belajar telah jauh
berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan,
”Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak 10 tahun lalu. Maka
itu, sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada
paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah.
Guru kami ubah,metode diperbarui,fasilitas baru dibangun,” ujar
seorang guru.
Masih banyak yang ingin saya diskusikan,tapi sampai di sini ada
baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah
dan untuk apa kita bersekolah?
Mudah-mudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu depan dan
semoga anak-anak kita mendapatkan masa depan yang lebih baik. RHENALD
KASALI Ketua Program MM UI
Repost dari :http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/411134/34/Sekolahuntuk Apa?
By Rhenald Kasali, Ketua Program MM UI
Thursday, 07 July 2011
Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.
Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima,
bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah
kamar”.
Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam
perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan
yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN)
masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di
mana saja.
Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi
sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun
sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu
saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi
masalah hari ini.
Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal
memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja lantaran pindah rumah
biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang
kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan
tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.
Lengkap sudah masalah kita. Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan
untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat
sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk
apa di negeri yang serbasulit ini?
Kesadaran Membangun SDM
Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, Perdana Menteri (PM)
Malaysia Mahathir Mohamad sadar betul pentingnya pembangunan sumber
daya manusia (SDM). Dia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil
gelar S-2 dan S-3 ke berbagai negara maju.
Hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai 10 tahun,lulusan terbaik
itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya Anda bisa lihat
sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula
perusahaan swasta dan birokrasinya. Perubahan bukan hanya sampai di
situ.
Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform
sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old
ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis,serta
peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai
ditinggalkan.
Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan
seterusnya.Tak mengherankan kalau sekolahsekolah di berbagai belahan
dunia pun mulai berubah. Di negeri Belanda saya sempat
terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal
Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa.
”Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak,
jadi mereka yang mendaftar harus kami terima,” ujar seorang dekan di
Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi
privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik.
Seleksinya sangat ketat. Lantas bagaimana membangun bangsa dari
lulusan yang asal masuk ini? ”Mudah saja,” ujar dekan itu. ”Kita
potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi
sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua
orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan
berbeda,”ujarnya.
Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di Selandia Baru. Meski
murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA,
angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi.
Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah. Yang
lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di
tingkat SLTA di Selandia Baru.
Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam 10
besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan
waktu beberapa hari untuk mewawancarai lulusan sekolah itu
masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan
mengintip bagaimana pelajaran diajarkan.
Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.
Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah
kita yang terlalu kognitif, dengan guruguru yang merasa hebat kalau
muridnya bisa dapat nilai ratarata di atas 80 (betapapun stresnya
mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif, namun
tak menguasai semua subjek.
Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan
kemampuan mengopi isi buku dan catatan. Entah di mana keguruan itu
muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita
mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan
bebek-bebek dogmatik.
Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri,
mungkin guruguru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon
maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip
nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun
di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar
negeri.
Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? ”Undang-undang menjamin
semua orang punya hak yang sama untuk belajar,” ujar seorang guru di
Selandia Baru. Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan input-nya?
”Itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya,” ujar putra sulung saya
yang kuliah di Auckland University tahun ketiga.
Maksudnya,tes masuk tetap ada,tetapi hanya dipakai untuk penempatan
dan kualifikasi. Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil
dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu Matematika dan Bahasa
Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori:
akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan.
Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik tinggi
karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak,
khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati.
Mereka hanya super di kedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur.
Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya
diberikan secara kognitif. Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran
pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masingmasing.
Bagi mereka yang bercita- cita menjadi dokter, biologi dan ilmu kimia
wajib dikuasai.
Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia.
Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting,
statistik,dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu
belajar biologi dan fisika.
Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata
pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di
atas kriteria ketuntasan minimal (KKM).
Bayangkan, bukankah citacita pembuat kurikulum itu orangnya hebat
sekali? Mungkin dia manusia super.
Seorang lulusan SLTA tahun pertama harus menguasai empat bidang sains
(biologi,ilmu kimia, fisika, dan matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa
Indonesia, Inggris, dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah,
sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga, dan komputer.
Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat
menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek,
dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Seperti
kurikulum program S-1 20 tahun lalu yang sejajar dengan program S-1
yang digabung hingga S-3 di Amerika.
Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga
tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor
menyelesaikan di atas 100 SKS, sehingga hampir tak ada yang lulus.
Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun. Anda bisa saja
mengatakan, dulu kita juga demikian, tapi tak ada masalah kok!
Di mana masalahnya?
Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah
mengubah banyak hal, anakanak kita dikepung informasi yang lebih
bersifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi datang dengan lebih
menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, melainkan dari segala
resources.
Ilmu belajar menjadi lebih penting dari apa yang dipelajari itu
sendiri,sehingga diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu
pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk
dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa
guru, lifelong learning. Saya saksikan metode belajar telah jauh
berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan,
”Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak 10 tahun lalu. Maka
itu, sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada
paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah.
Guru kami ubah,metode diperbarui,fasilitas baru dibangun,” ujar
seorang guru.
Masih banyak yang ingin saya diskusikan,tapi sampai di sini ada
baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah
dan untuk apa kita bersekolah?
Mudah-mudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu depan dan
semoga anak-anak kita mendapatkan masa depan yang lebih baik. RHENALD
KASALI Ketua Program MM UI
Repost dari :http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/411134/34/Sekolahuntuk Apa?
Langganan:
Postingan (Atom)