Beberapa waktu yang lalu saya membeli pulsa di dekat rumah, warung pulsanya sudah cukup besar, bahkan punya pegawai (sepertinya pegawainya sih masih keluarga). Saya membeli pulsa memang hanya nominal kecil, Rp10.000,-, setelah pegawainya meminta saya mendiktekan nomer saya, saya pun mendiktekannya dengan cara begini 0852-2747-1xxx, tapi dia salah tulis menjadi 0852-27447-1xxx. begitu saya lihat di monitor komputer bahwa dia salah tulis saya langsung bilang "kebanyakan angka empatnya mbak" tapi dia terlanjur pencet "enter". Alhasil request transaksi terkirim, saat itu si bossnya denger dan langsung datang dan menanyakan "ada apa?" yang aku jawab "kebanyakan angka empat, jadinya malah 13 digit". Lalu si bossnya ngeliat angka di monitornya dan yang aneh, bukannya menegur karyawannya yang kurang hati-hati, dia malah, dengan sedikit memarahi, mendikte saya dengan berkata "lain kali mas, kalo ngomongin nomernya misahnya yang enak...kalo nomer kaya gini itu harusnya dibaca 085-22747-1xxx, soalnya ada angka '2' kembar disitu", yang saya jawab ringan, "waduh, aku tu udh terlanjur enak bacanya 0852-2747-1xxx" dan sekali lagi dia menyalahkan saya karena membacanya seperti itu, dia bilang "kalo nomernya 08522747 itu kan ada angka kembarnya '2' itu kan...itu harusnya dibacanya jangan dipisah, jadinya harus dibaca 085-22747, gitu", dan akhirnya saya mengalah, daripada malah terjadi debat kusir ga jelas cuma gara-gara nomer hape.
Sepertinya perkaranya sepele ya? Sekedar membacakan nomer hape, tapi disini ada sesuatu yang salah. Kenapa? Seharusnya si boss itu sebagai penjual tetap menempatkan diri dengan benar, sesuai dengan prinsip dagang bahwa pembeli adalah raja. Mau bagaimanapun cara membacakan nomer hapenya pembeli lah yang benar, karena setiap orang punya cara nyamannya sendiri dalam membaca nomer hape, benar kan? Nah kesalahan yang kedua, tidak ada teguran yang diberikan kepada pegawainya, karena dipikir lebih dalam lagi pun sebetulnya itu murni kesalahan pegawai. Bayangkan kesalahan ketik ada pada angka '4', kenapa pembeli disalahkan untuk angka '2'. OK mungkin ada beberapa perusahaan yang tidak akan pernah menegur karyawannya di depan pembeli. Tapi setidaknya seharusnya kalimat yang benar yang seharusnya diucapkan si boss adalah begini "maaf, ada sedikit kesalahan sepertinya, coba deh dibacakan lagi nomernya", bukannya menimpakan kesalahan pada pembeli.
Kesalahan-kesalahan seperti ini bagi sales akan sangat fatal akibatnya, karena resiko kehilangan pelanggan akan sangat besar. Ingat, tidak ada pembeli/pelanggan yang suka didikte, karena bagaimanapun, pembeli adalah raja, mereka punya uang untuk membeli produk kita, dan tanpa mereka bisnis kita tidak akan pernah berkembang. Bahkan mengenai "pembeli adalah raja", seorang teman yang pernah bekerja di dapur hotel berbintang mengatakan "sesulit apapun permintaan pembeli, kita harus semaksimal mungkin berusaha untuk memenuhinya, tapi si pembeli juga harus paham resikonya, yaitu akan muncul biaya tambahan untuk permintaan yang aneh-aneh", tapi tetap saja, pembeli adalah raja.
Jadi sekali lagi saya tekankan bahwa adalah haram hukumnya bagi para sales untuk mendikte pembeli, karena melakukan persuasi tidaklah sama dengan mendikte, banyak orang yang senang dipengaruhi dengan saran-saran, tapi tidak ada orang yang senang jika didikte tentang bagaimana mereka harus bersikap.
sekian dulu dari saya
Happy Selling....salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar