Sabtu, 06 Oktober 2018

YOGYAKARTA (TIDAK) BERHATI NYAMAN - 1

Mungkin bagi teman-teman yang pernah merasakan tinggal di Jogja, baik kost ataupun memang asli Jogja, sekitar 15 tahun yang lalu pernah merasakan betapa ramahnya Jogja. Misal nih, yang namanya anak kost kan duit pasti mepet ya, kita cari makan dengan menu, porsi, dan rasa memadai masih banyak warung yang menyediakan dengan harga Rp2500.Saat itu UMP di DIY Rp400.000, dan rata-rata harga kost masih Rp100.000. Sehingga untuk kost dan makan 90x/bulan hanya membutuhkan  Rp325.000, sisanya, untuk level pekerja kelas bawah, masih ada yang bisa dikirim untuk orang tua di desa.
Tapi pernahkan terpikir untuk saat ini apakah Jogja masih ramah untuk orang-orang yang betul-betul asli Jogja, maupun orang-orang yang memilih untuk mengadu nasib di kota kecil yang pelan-pelan berubah menggendut ini?
Saat ini (2018) UMP untuk provisi DIY sebesar Rp1.454.154,15. Sementar untuk UMK terbagi sebagai berikut, Kota Yogyakarta Rp1.709.150, Kabupaten Sleman Rp1.574.550, Kabupaten Bantul Rp1.572.150, Kabupaten Kulonprogo Rp1.493.250, dan Kabupaten Gunung Kidul Rp1.454.200. Secara persentase memang kenaikannya cukup tinggi dibanding 15 tahun yang lalu, sekitar 350%. Tapi jika bercermin dari kebutuhan hidup, angka penghasilan tersebut akan terlihat kecil.
Mari kita coba hitung pengeluaran hidup single di seputaran DIY yang memiliki UMP Rp1.454.154 tersebut. Kenapa disini saya menggunakan UMP DIY, bukan UMK Kota Yogyakarta yang lebih tinggi? Karena memang sebagian besar perusahaan, sekalipun berdiri di tengah Kota Yogyakarta menggunakan standar UMP untuk pengupahan karyawannya. Hal tersebut dilakukan karena memang dianggap sebagai penghematan bagi perusahaan. Untuk pemerintah, mungkin kedepannya harus mulai memikirkan untuk menetapkan besaran UMP lebih besar dari UMK, supaya tidak ada pekerja yang dirugikan.
OK, kita kembali pada percobaan hitungan pengeluaran untuk pekerja yang hidup sendiri a.k.a single. Saat ini, untuk biaya kos di tengah Kota Yogyakarta, untuk kamar yang sederhana dan layak huni sudah ada di kisaran Rp400.000/bulan. Itu belum termasuk listrik jika si pemondok membawa unit televisi/laptop/dispenser panas dingin/rice cooker, yang biasanya per unit akan dibebani biaya listrik Rp50.000/bulan, jadi kita hitung saja sebesar Rp450.000/bulan. Untuk makan harian di tempat makan yang menyediakan makanan dengan porsi, kebersihan, dan rasa yang layak per porsi akan dipatok sekitar Rp12.000, itupun minumnya air putih. Jadi setiap hari si pekerja tersebut akan mengeluarkan dana sebesar Rp36.000 untuk makan, dan mungkin kita tambahkan Rp6.000 lagi untuk uang kopi. Sehingga pengeluaran konsumsi kita patok Rp42.000/hari, sehingga untuk satu bulan dia akan menghabiskan Rp.1.260.000. Jika biaya konsumsi tersebut kita tambahkan uang kos tersebut total akan menjadi Rp1.660.000.
Angka pengeluaran bulanan tersebut sudah ada di atas UMP Prov.DIY. Jadi apakah masih berpikir bahwa Yogyakarta masih menjadi kota yang ramah?
Saya sendiri pernah memiliki rekan kerja ber-upah standar yang demi bisa menabung dan membeli rokok setidaknya dia terpaksa berpuasa 3-4 kali seminggu, supaya bisa mengurangi jatah pengeluaran untuk makannya.
Sedikit tambahan, hitungan tadi masih dihitung untuk pekerja yang hidup sendiri, dan belum memiliki tanggungan. Memang ketika berkeluarga, dimana si suami dan istri sama-sama bekerja maka penghasilan akan berlipat, dan untuk konsumsi harian bisa dihemat dengan memasak makanan di rumah. Tapi bukankah ketika sudah mulai punya anak, pengeluaran tambahan akan membengkak lagi? Lagipula, ketika kedua orang tua bekerja, dan si anak dititipkan asisten rumah tangga ataupun salah satu keluarga nantinya aka muncul satu masalah lagi, dimana perkembangan anak secara emosional ataupun sikap akan sedikit melenceng dari standar yang ditetapkan orang tuanya (yang ini saya alami sendiri). Tapi faktor seperti ini kita kesampingkan dari pembicaraan kali ini supaya tidak menambah permasalahannya. Hanya sebatas pada pengeluaran tambahan untuk anak itu saja.
Jadi, apakah masih berpikir bahwa Yogyakarta itu adalah kota yang ramah hai kita kita yang asli lahir, tinggal, dan berpenghasilan di Yogyakarta ini (karena akan berbeda jika anda orang asal DIY tapi bekerja di Jakarta)??

Salam

Selasa, 08 Oktober 2013

MASALAH PERKOTAAN (1) – Histeria Mobil Murah

Beberapa waktu belakangan ini kita semua mendengar tentang sudah pastinya pemasaran mobil murah, yang harganya di kisaran 70-120jt. Awalnya saya sendiri cukup bersemangat mendengarnya, karena berarti saya juga punya kesempatan untuk membeli mobil baru (karena selama ini mobil yang saya miliki adalah mobil keluaran tahun 1994). Selain itu saya juga berpikir bahwa masuknya mobil murah akan disambut sangat positif, karena berarti banyak kalangan menengah yang akan mulai merasakan naik mobil baru, dan tidak perlu lagi berkonvoi motor jika pergi sekeluarga bersama-sama.
Memang kemunculan mobil murah ini cukup terdengar fantastis, dan banyak hal menyenangkan yang ditawarkan dari segi pemasarannya. Tapi setelah saya salami lebih dalam lagi, ternyata nantinya akan banyak masalah yang muncul, mengekor dari releasenya mobil tersebut. Masalah-masalah tersebut akan lebih terasa di wilayah kota-kota besar.
Masalah pertama yang akan muncul jelas adalah kemacetan. Jangankan di Jakarta yang sudah padat seperti itu, saya saja yang tinggal di Jogja merasakan dampak atas semakin meningkatnya jumlah kendaraan pribadi, walaupun di Jogja pertumbuhan terbesar ada di kendaraan pribadi roda dua. Tiga belas tahun yang lalu (tahun 2000), ketika saya masih awal-awal kuliah, jumlah kendaraan pribadi belumlah sebanyak saat ini. Saat itu kalangan mahasiswa dan pelajar lebih banyak memilih menggunakan moda angkutan umum. Terlebih untuk moda bus kota di Yogyakarta untuk mahasiswa dan pelajar ada harga special, sehingga tidak terasa berat di kantong.
Waktu itu jalanan Jogja, yang lebarnya tidak sebesar jalan-jalan tol di Jakarta maupun jalan raya di Surabaya, masih terasa lengang dan nyaman untuk dilewati karena masih sedikitnya pengguna jalan yang melintas dengan kendaraan pribadi. Tahun berganti tahun, ketika banyak orang mulai berpikir bahwa mereka membutuhkan kecepatan, dibarengi dengan banyaknya promo kredit kendaraan pribadi, jumlah  kendaraan pribadi pun mulai meningkat, dan jalanan mulai terasa penuh dan sesak. Terlebih akhir-akhir ini, di Kota Jogja, yang dulu benar-benar Berhati Nyaman sekarang jika pagi, tengah hari, dan sore hari akan menghasilkan banyak titik macet. Hal tersebut sebetulnya cukup membuat gerah, apalagi banyak diantara kendaraan tersebut bukan kendaraan plat AB.
Tingkat kemacetan di Jogja ini semakin lama semakin bertambah, mengingat setiap tahun penduduk Jogja juga semakin bertambah (saat ini kepadatan penduduk di Kota Yogyakarta hampir sama dengan kepadatan penduduk di DKI Jakarta), sehingga setiap tahun jumlah kepadatan kendaraan pribadi pun semakin bertambah, dan tak ayal lagi Yogyakarta pun akan semakin gerah. Saya sendiri tak bisa membayangkan jika mobil murah mulai merambah kota yang katanya Berhati Nyaman ini. Saya pun yakin bahwa pembeli mobil (yang katanya) murah dan (katanya) diperuntukkan bagi masyarakat menengah ini (karena sudah dipublish bahwa harga murahnya terkait dengan subsidi mobil murah dari pemerintah) nantinya sebagian besar akan dimiliki oleh kaum diatas kapasitas menengah. Sehingga kemunculannya dan subsidi yang diberikan pemerintah jelas tidak akan tepat sasaran (sepertinya jarang subsidi dari pemerintah yang tepat sasaran) dan memunculkan masalah yang cukup signifikan dalam hal kepadatan jalan, yang hingga saat ini tidak memiliki solusi yang mampu mengurainya dengan efektif dan efisien. Dan jika yang saya ramalkan tadi benar, bahwa penggunaan mobil murah tidak akan tepat sasaran, terjadi maka masalah kedua yang muncul adalah kesenjangan sosial yang semakin tinggi karena semakin berjubelnya mobil berlalu lalang di jalanan kota-kota besar sementara di sisi lain banyak keluarga kelas menengah yang masih berjuang membayar kontrakan rumah.
Masalah ketiga adalah ketika mobil ini nanti mulai merambat di jalanan, sekalipun (katanya) didesain untuk menggunakan pertamax dan bisa rusak dalam dua tahun jika menggunakan premium, saya yakin bahwa nantinya pengguna mobil ini tetap akan ngotot mengisi kendaraannya dengan menggunakan bahan bakar premium alih-alih menggunakan pertamax yang menurut ukuran dompet mereka (yang seharusnya masuk dalam kategori “mampu”) cenderung mahal. Saya sangat yakin akan hal ini, karena saya sendiri sering melihat orang-orang dengan mobil-mobil mahal (seharusnya lebih mampu daripada pengguna mobil murah besok) dengan harga 250juta ke atas mengisi tangki mobilnya dengan bahan bakar premium. Padahal (katanya) premium hanya diperuntukkan bagi golongan tidak mampu. Memang secara langsung hal ini tidak akan menjadi masalah. Tapi dengan munculnya fenomena tersebut, kebutuhan akan bahan bakar bersubsidi akan semakin melonjak. Ujung-ujungnya, dengan alasan seperti yang sudah-sudah, “untuk menekan pengeluaran Negara atas bahan bakar bersubsidi”, maka pemerintah akan menaikkan lagi harga bahan bakar minyak kelas premium. Yang nantinya akan diikuti dengan naiknya harga kebutuhan pokok (yang paling dirasakan oleh masyarakat menengah kebawah), dan naiknya harga berbagai bahan baku, seperti harga bahan bangunan. Yang berekor pada harga properti yang kian naik, sehingga untuk masyarakat kelas menengah yang masih berjuang untuk kontrak rumah semakin susah untuk membeli rumah sendiri untuk keluarganya. Sementara untuk kalangan atas (yang saya ramalkan sebagai pengguna mobil murah terbesar) kenaikan BBM tidak akan memiliki pengaruh yang signifikan. Sehingga ujung-unjungnya, sekali lagi kembali pada permasalahan ketiga, kesenjangan sosial semakin tajam.
Saya sendiri belum tahu dan belum mencari tahu apakah pemerintah sudah menyiapkan solusi untuk berbagai masalah, yang saya piker akan muncul paska kemunculan mobil murah tersebut. Tapi kalau boleh usul, mengenai penggunaan bahan bakar non subsidi tersebut, ada satu cara yang menurut saya akan cukup efisien untuk mengantisipasinya, yaitu mengaktifkan pers public untuk memantaunya. Caranya adalah sebagai berikut :
  1. Munculkan regulasi yang mengharuskan seri mobil, yang biasanya tertempel di belakang mobil, untuk mobil murah juga harus tertempel di sisi depan mobil, sehingga pegawai pompa bensin bisa langsung mengenalinya.
  2. Masukkan mobil murah tersebut dalam daftar “mobil yang tidak boleh menggunakan bahan bakar subsidi” dan pasang daftar tersebut di setiap pom bensin.
  3. Aktifkan public pers untuk ikut memntau jika terjadi pelanggaran. Dan beri reward bagi yang bisa memberikan bukti pelanggaran. Dan beri punishment berupa denda yang cukup besar bagi pelanggar yang terbukti (berdasarkan nomor polisi yang terlapor).

Untuk langkah punishment dan reward sendiri adalah sebagai berikut. Dalam pembelian mobil murah akan selallu disertai surat pernyataan bahwa pembeli sanggup tidak menggunakan BBM bersubsidi, dan surat perjanjian akan dikembalikan kepada pihak pemerintah yang memberikan subsidi mobil murah. Jika ada pelanggaran yang dilakukan dengan bukti foto atau video, maka pihak pemerintah (entah DLLAJ atau dinas perindustrian atau entah dinas apa) bekerja sama dengan polisi untuk memproses nomor polisi terlapor tersebut dan memanggilnya untuk mendapat surat denda yang cukup besar (entah 2jt atau 5jt) dimana nantinya 75% dari denda yang dikenakan tersebut akan diberikan kepada pihak pelapor. Saya yakin nantinya masyarakat akan beramai-ramai menjadi “polisi” untuk mengawasi penggunaan BBM bersubsidi tersebut.

Ini pendapat saya. Bagaimana pendapat anda?

Rabu, 04 September 2013

ANARKI SUPORTER - JOGJA-SOLO (4 Sept 2013)

Rabu, 4 September 2013, seputaran Jogja-Prambanan-Klaten dipanaskan dengan kejadian pemukulan, penganiayaan dan penjarahan oleh oknum (yang diduga supporter) dalam jumlah besar. Dilaporkan oleh tribunnews.com ada 7 orang Koran luka akibat dikeroyok dengan 1 orang diantaranya kritis (http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/04/7-orang-luka-akibat-kerusuhan-persis-solo-vs-pss-sleman). Selain itu masih ada laporan adanya pengerusakan yang disertai penjarahan di sebuah bengkel di Klaten yang menyebabkan kerugian puluhan juta rupiah (http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/04/sekelompok-massa-yang-diduga-suporter-sepak-bola-merusak-bengkel-di-klaten), serta tindakan yang menurut saya sangat tidak bertanggung jawab dan tidak jantan adalah adanya pemukulan terhadap 2 orang pengendara motor yang lalu motornya dibakar habis (http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/04/dua-orang-pemuda-dikeroyok-suporter-sepakbola). Tindakan-tindakan anarki tersebut masih berujung lagi pada adanya isu akan diadakannya sweeping oleh beberapa pihak terkait akan adanya aksi balas dendam.
Sekalipun pihak polisi sudah mengkonfirmasikan bahwa tidak aka nada sweeping oleh pihak-pihak tertentu terkait kejadian kemarin itu, namun sudah sangat jelas kejadian tersebut beserta isu sweeping ini sudah meimbulkan keresahan masyarakat.
Pertanyaan terbesar bagi saya adalah :
   1. Sebetulnya dimana sih otak orang-orang pelaku tindaka anarki tersebut?
   2. Bagi para korban, siapa yang lalu bertanggung jawab?

Untuk pertanyaan pertama :
Saya sendiri sebetulnya malu, jika melihat tindakan di luar batas yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dan diduga supporter tim sepak bola tersebut. Kita ini hidup di jaman yang modern. Semua punya aturan, dan seharusnya semuanya bisa saling menghormati. Apa iya, Cuma gara-gara masalah kalah di sebuah pertandingan lalu harus membalas dengan tindakan anarki di dalam dan di luar lapangan?
Apakah ini pengaruh dari kapasitas otak yang berbeda? Apakah mereka yang melakukan tindakan anarki itu punya kapasitas dan batang otak yang lebih kecil dari rata-rata kita semua yang digolongkan dan disebut Homo Sapiens atau manusia modern? Sehingga mereka tidak bisa berpikir secara rasio dan hanya bertindak berdasarkan emosi mereka, sehingga hanya gara-gara pertandingan sepak bola tega menyakiti dan merugikan orang lain? Atau mungkin kah mereka sama-sama manusia, hanya saja selama ini tinggal di tengah hutan dan tidak bisa menghormati hak-hak orang lain karena mereka tidak puya etika dan norma?
Sekali lagi, kalau mereka mengaku supporter entah dari tim mana, yang jelas itu termasuk dalam sepak bola Indonesia,  saya jadi malu memiliki ekosistem olah raga, khususnya sepakbola, yang tergolong bar-bar dan tidak beretika seperti itu. Dan saya sendiri masih bingung dan tidak bisa mengeluarkan ide tentang sebetulnya sebesar apakah permasalahan di lapangan (pertandngan-red) hingga bisa berujung pada kejadian yang cukup menggetarkan tersebut? Bagaimana jika terjadi pembunuhan? Apakah cukup worth it jika sebuah kekalahan di lapangan harus dibayar dengan kematian seseorang yang (mungkin saja) tidak tahu menahu bahkan mungkin malah tidak mau tahu tentang pertandingan tersebut?
Tolong bantu saya untuk menemukan pencerahan atas pertanyaan tersebut.

Untuk pertanyaan kedua :
Jelas sekali ada korban dalam kejadian tersebut. Tribunnews merilis sedikitnya ada 7 korban luka-luka dengan 1 orang kritis. Berarti mereka jelas ada di rumah sakit. Lalu ada 1 motor yang terbakar, dan satu bengkel yang dirusak dan dijarah (berdasarkan kabar tanggal 4 sept 2013).
Dari segi kerugian fisik sudah jelas dapat dilihat. Puluhan juta untuk bengkel dan jutaan untuk biaya rumah sakit per korban, serta belasan juta untuk motor yang dibakar habis tersebut.
Pertanyaan yang muncul di kepala saya adalah : siapa nantinya yang akan menanggung kerugian tersebut? Pihak klub kah? Karena yang melakukan adalah supporter tim mereka, sekalipun dalam beberapa kasus atribut supporter sudah dilepas. Atau karena banyak pelaku yang tidak menggunakan atribut sehingga nantinya tidak aka nada pertanggung jawaban sama sekali karena dianggap sebagai aksi massa?
Satu permasalahan yang mungkin ketika itu dianggap aksi massa dan tidak ada pertanggung jawaban dari klub ataupun komunitas supporter adalah korban tidak mungkin bisa menuntut siapapun atas apa yang mereka derita. Karena nyaris mustahil mengidentifikasi pelaku yang begitu banyak.
Jika pun nantinya ada yang mau bertanggung jawab, apakah ganti rugi hanya akan diberikan sebatas pada ganti rugi materi kerugian fisik? Karena jika ditilik dari sisi korban (atau/dan pegawai korban, pada kasus perusakan dan penjarahan) kerugian bukan hanya dari segi fisik tapi juga munculnya ketakutan traumatis karena peristiwa tersebut. Yang mana jika itu dinilai dengan uang juga bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Lalu bagaimana dengan masyarakat Jogja-Solo dan sekitarnya, yang masih trauma untuk melakukan perjalanan keluar kota karena adanya isu-isu terkait peristiwa tersebut? Adakah jaminan bagi mereka?
Jadi sekali lagi, siapa kah yang mau bertanggung jawab atas peristiwa ini? Dan sebatas mana kah pertanggung jawabannya? Tolong beri saya pencerahan lebih lanjut.

Lepas dari itu semua. Saya lalu memiliki pandangan bahwa banyak diantara masyarakat Indonesia belum memiliki mental yang baik, terbukti dari peristiwa ini yang jelas-jelas menggambarkan bahwa belum adanya sportivitas dalam olah raga Indonesia, atau kalo tidak boleh dibilang “dunia olah raga” ya berarti yang tidak punya sportivitas adalah suporternya. Dan saya sebagai bagian dari Indonesia, sekali lagi, merasa sangat malu dan terpukul oleh kenyataan itu.

Semoga menteri pemuda dan olah raga kita, yang pintar telematika dan salah menyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya, bisa memiliki langkah taktis dan efektif untuk masalah ini.

#berharap #Indonesialebihbaik #tetapNKRI


Salam

Jumat, 05 Juli 2013

SALES TIPS : dreams as an ultimate weapon

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sinopsis sebuah buku tentang dunia salesman. Cukup menarik menurut saya ketika buku tersebut ternyata berbicara tentang memotivasi seorang salesman. 
Sejak awal kita tahu bahwa bekerja sebagai sales adalah berarti kita ada di garis depan, diletakkan sebagai ujung tombak sebuah perusahaan. Bahkan seorang teman yang berposisi sebagai HRD di salah satu perusahaan raksasa di Indonesia pernah secara vulgar mengatakan demikian "kalian para sales lah yang sebetulnya setiap hari banting tulang buat ngisi perut kami yang ada di kantor, mulai dari tukang sapu sampai kepada direktur". Jika dipikir memang para salesman adalah piston perusahaan, yang memberinya tenaga untuk bergerak. Tidak berfungsinya sales berarti perusahaan pun terancam berhenti, karena pendapatan perusahaan diusahakan oleh sales. Maka dari itu teman saya tersebut juga menambahkan "Makanya sales itu biasanya reward, komisi, maupun bonusnya lebih besar daripada karyawan di bagian lain perusahaan, dan fasilitas perusahaan biasanya terbuka lebih luas untuk para sales dan seluruh divisi pemasaran, dibandingkan divisi lainnya".
Ketika membicarakan bonus, komisi, ataupun reward lainnya serta fasilitas perusahaan yang lainnya, kita tidak berbicara jauh dari mimpi seorang salesman. Seorang salesman sering dibilang memiliki gaji yang tidak terbatas, karena sekalipun gaji pokok ada di batas nadir, bisa dibilang gaji minimal, namun pendapatannya yang dihasilkan dari bonus maupun komisi, belum lagi reward-reward lainnya ditambah fasilitas yang luar biasa dari perusahaan akan menjadikan seorang sales memiliki penghasilan luar biasa, yang tentu saja semua bergantung pada sebanyak apa si sales berjualan dan menghasilkan omset bagi perusahaan. Sekali lagi, jika sales adalah mesin yang menggerakkan perusahaan, maka mimpi yang terkait pada reward bagi sales dari perusahaan adalah mesin yang menggerakkan sales untuk bekerja.
Saya sendiri saat ini bekerja sebagai salah satu sampel dari keseluruhan sales di seluruh Indonesia. Saya sudah beberapa kali berpindah perusahaan, bahkan pernah menjalani hidup sebagai seorang wirausaha, sekalipun akhirnya belum berhasil dan kembali belajar lagi menjadi seorang sales. Setelah menjalani tiga kehidupan perusahaan sebagai sales, akhirnya saya menyadari bahwa menjadi sales berarti mengejar mimpi.
Saya mengatakan "mengejar mimpi" karena memang benar itulah yang dilakukan seorang sales ketika berkegiatan menjual. Sales akan menjadi mesin uang yang benar-benar gila jika perusahaan bisa royal terhadap sales.
Di perusahaan pertama saya, memang tidak diterapkan sistem komisi, sehingga saya tidak akan mendapatkan reward jika belum mencapai target penjualan tertentu. Tapi ada dua hal (atau mungkin bahkan lebih) yang memacu saya sebagai sales untuk bekerja. Pertama insentif per produk. Pada perusahaan tersebut, tiap brand produk memiliki manajer yang berbeda-beda dan sumber dana dari principle yang berbeda-beda pula. Sehingga seringkali tiap product manager mengeluarkan promo insentif bagi sales-sales mereka dengan angka yang berbeda-beda. Menghandle beberapa brand waktu itu memberikan saya beberapa angka insentif yang cukup besar, mulai dari beberapa puluh dolar dari $0.1 per produk yang saya jual, hingga pada total Rp1.800.000 dari sebuah projek kecil. Selain itu perusahaan tersebut juga membebaskan sales untuk menjual setinggi apa pun produk mereka dan mengambil selisihnya (sama seperti broker properti) selama sales masih produktif dan menghasilkan omset yang signifikan bagi perusahaan. Dari situ saya pernah mengantongi Rp40.000.000 dari sebuah projek yang cukup besar. Itu dua hal yang memacu saya untuk terus berkembang di perusahaan pertama saya tersebut. belum lagi beberapa produk level utama jelas memiliki jadwal training (disebut training walaupun sebetulnya acara jalan-jalan) minimal satu atau dua kali setahun di kota-kota wisata di seluruh Indonesia, dan perlu dicatat "HANYA UNTUK SALES".
Setelah belajar selama satu setengah tahun dan mengalami berbagai kejatuhan  serta kebangunan dahsyat (harap dimaklumi, karena pengalaman pertama bekerja sebagai pemasar dalam perusahaan) akhirnya saya berpindah tempat kerja, sekaligus menaikkan posisi saya sebagai sales supervisor di perusahaan yang bergerak di bidang yang serupa. Kali memang tanpa fasilitas, bahkan laptop pun tidak, pinjaman komputer/PC? dipakai bersama-sama. Cukup mengenaskan bukan? Dengan posisi seperti itu sebenarnya cukup menyedihkan. Tapi perusahaan kali ini menawarkan sesuatu yang luar biasa kepada salesnya. Seberapapun kamu menjual, banyak ataupun sedikit, kamu akan mendapat komisi.
Jadi bagi perusahaan yang ini bukan bonus achievement yang diterapkan, tapi komisi. Sama seperti sales-sales yang saya bawahi, saya pun mendapatkan komisi, yang dihitung dari penjualan mereka. Jadi semakin besar angka yang mereka berikan kepada perusahaan, yang berarti semakin besar komisi mereka, maka semakin besar pula komisi yang saya terima. Saya pernah mengantongi angka yang cukup besar, terutama untuk ukuran kota budaya yang saya cintai ini, Yogyakarta, dimana pendapatan di atas 3juta sudah cukup WOW. Dan saya mencatatkan angka cukup jauh di atasnya. Semua saya dapatkan dari hasil kerja sales-sales saya. Disini sekalipun yang bekerja secara langsung adalah sales, karena saya sebetulnya dibatasi untuk turun langsung, namun karena komisi saya tersebut saya dapatkan dari hasil penghitungan komisi sales, maka saya pun secara internal tertarik untuk terus-terusan membantu sales saya untuk berjualan tanpa berkeluh kesah merasa lelah pada sales-sales yang penjualannya kurang bagus. Karena tugas saya dan sebuah tambahan jika saya bisa membantu sales tersebut menaikkan angka penjualannya. Karena jika saya bisa membantu penjualan sales saya tersebut berarti saya akan mencatatkan tambahan angka pada komisi saya tersebut. Sebuah analogi yang cukup menarik bukan?
Jika ditanya "kenapa mengundurkan diri?" saya hanya bisa menjawab "ada perbedaan nilai moril antara saya pribadi dan keputusan atasan". Itu saja.
Setelah itu saya menjalani hidup sebagai seorang wirausahawan, yang akhirnya kurang berhasil. Setelah itu saya berhenti sejenak dan menjalani pertapaan pengengguran selama beberapa bulan, hingga akhirnya terdampar di pekerjaan saya yang ketiga sebagai sales lagi.
Kali inis ebuah perusahaan yang memiliki nama besar, tapi jika dilihat dari dalam, ada beberapa sales yang cukup kelelahan dan kurang motivasi. Kenapa bisa begitu? Saya melakukan sebuah observasi partisipan, karena memang saya dalam kondisi terpartisipan, yang akhirnya saya sendiri cukup bisa menemukan jawabannya. "Sebagai mesin, sales-sales disini kurang diberi bahan bakar". Maksudnya? Apakah tidak ada bonus atau komisi? Saya menjawab "ADA", jelas ada, namun...Ada sebuah "NAMUN" yang sangat besar disini. Bahwa perusahaan yang kali ini (entah kebijakan besar skala nasional ataukah kebijakan lokal BM) menjalankan sistem reward yang sangat aneh. Kami diberi tawaran komisi, namun keluarnya komisi diberikan dengan sistem bonus achievement. Secara rinci : memang ada komisi penjualan dinilai dari pembagian gross profit per produk yang dijual. Namun komisi tersebut hanya akan dikeluarkan perusahaan ketika penjualan sales mencapai minimal 80% target. Sehingga karena pada main product angkanya sudah mencapai titik mustahil dan nyaris menjadi legenda, serta pada produk pendamping masih pada skala pembentukan brand dan market imaging sehingga pencapaian tersebut bisa terbilang sebuah mitos. Bukan skala yang mustahil karena jelas achievable, namun perlu perjuangan yang melelahkan. Apalagi jika sales dikekang dengan aturan-aturan yang cukup tidak masuk akal dilakukan seorang salesman, seperti visit yang sekiranya boleh dilakukan setelah jam makan siang, karena diharapkan sales ada di kantor 3-4 jam tiap harinya (kalau 3 jam diasumsikan mulai masuk jam9 maka visit akan dilakukan setelah makan siang). Dari tiga orang sales salah satunya harus ada di kantor setiap harinya untuk piket kantor (sepertinya sih ini tugas telesales). Belum lagi tambahan tugas pencatatan hasil kumpulan point promo, yang seharusnya dilakukan oleh sales admin, dilimpahkan kepada sales sehingga kerja sales untuk melakukan product and brand imaging pun tidak optimal. Hasilnya angka untuk bisa menembus 80% pun menjadi sebuah mitos. Pada akhirnya, sales-sales pun kehilangan motivasi dan kehabisan bahan bakar.
Pada perusahaan yang memiliki manajer yang pintar, target ditetapkan bukan untuk membebani sales, tapi untuk memacu sales. Banyak sales yang bilang, bahwa target itu diciptakan memang bukan untuk dipenuhi, tapi dikejar. Memang sangat benar, bahakn tempat kerja saya yang pertama tersebut jika menentukan target akan terlebih dulu sounding kepada BM dan sales terkait, dan akan ada negosiasi. Begitu pula di pekerjaan saya yang kedua, penentuan target terjadi dari hasil negosiasi yang cukup alot dengan BIG-BOSS. Sehingga pada kedua perusahaan tersebut target bukanlah sebuah guci emas di ujung pelangi , yang tidak akan pernah ditemukan sekalipun kita mengejarnya dengan menggunakan mobil F-1, tapi target lebih dipandang sebagai sebuah medali yang digantungkan di dekat garis finish.
Bagi para sales medali tersebutlah yang kemudian akan memacu kami para sales. Memacu kami untuk terus berlari mengejarnya. Pada satu quarter kami bisa mencapainya maka kami akan dengan yakin berani menambahkan total target pada quarter berikutnya, dengan angka yang masuk akal tentunya. Dan tentunya perusahaan pun akan bertambah senang dengan angka yang kami berikan, dan sales-sales pun akan senang dengan angka yang mereka dapatkan dari perusahaan sebagai hasil dari "balap lari" tersebut.
Sebaliknya, perusahaan dan manajer yang kurang pandai akan memberikan angka mustahil. Sekalipun tidak ada yang mustahil, namun mustahil ini akan muncul ketika manajer tidak bisa membaca kondisi brand dan market yang sama sekali belum terbentuk tapi terus-terusan menekan sales untuk menginjeksikan "steroid" pada brand dan market tersebut. Pada kasus seperti ini yang didapatkan hanyalah sales-sales yang kelelahan. Apalagi jika komisi yang diberikan perusahaan tidak seimbang dengan pengorbanan yang harus diberikan si sales. Akhirnya yang muncul hanyalah pikiran "yang penting berdasarkan hitungan profit, profit yang aku hasilkan sudah cukup untuk menggaji diriku sendiri dan ada sedikit sisa untuk dibagikan untuk perusahaan", please, corect me if i'm wrong.
Sebetulnya tulisan ini saya tulis bukan mengarah kepada para sales, tapi kepada para pengendali kebijakan di perusahaan. Supaya perusahaan tidak salah dalam memberikan titik mimpi pada para salesnya. Karena impian tersebut bisa menjadi "ultimate weapon" yang akan menjadikan sales-sales anda mesin-mesin pencetak profit yang luar biasa. Sebaliknya jika perusahaan tidak mampu mengelola target dan impian sales, maka sales pun akan menjadi mayat hidup di perusahaan, yang mati enggan hidup tak mau, dimana sales hanya akan menunggu orderan, tanpa niat sedikit pun untuk jemput bola.

Sekali lagi, 
Untuk perusahaan : Menjadi bijak lah dalam menentukan target dan reward. Berilah sedikit ruang gerak untuk sales, karena seharusnya sama seperti seorang kiper yang tekanan mentalnya paling besar sales harus diberi kebebasan mengekspresikan diri mereka. Jangan permasalahkan hal kecil, karena yang penting ditekankan kepada sales adalah bukan cara mereka berpakaian, berbicara, makan, dsb, tapi lebih pada sebanyak apa mereka menjual.
Untuk BM ataupun Sales SPV : Jika penghasilan tambahan anda, entah itu bonus ataupun komisi, anda dapatkan dari hasil jerih payah langsung dari sales, maka jangan pernah merasa lelah ataupun terbebani untuk membantu sales berjualan. Jangan hanya mempasrahkan segalanya kepada sales ataupun menekan sales untuk melakukan segalanya. Tapi bantulah sales dengan pemikiran anda, jika perlu dampingi sales berjualan, kenalkan sales dengan semua relasi potensial anda.
Untuk sales : Kita memiliki kemungkinan mendapatkan penghasilan tak terhingga, gunakan lah itu untuk meraih mimpi kita, saya yakin banyak diantara kita punya mimpi-mimpi indah, jadi kejarlah target, dapatkan reward yang luar biasa dan raihlah mimpi.

Sekian dari saya yang masih belajar,

HAPPY SELLING GUYS



PS : Saya sendiri sedang mengalami sindrom sales mayat hidup, karena perusahaan hanya menjanjikan "KOMISI" yang tidak sampai Rp500.000 untuk target minimal 80% dari total 3200 unit yang harus terjual di produk yang saya handle. Jadi mari kita nikmati hidup.

Senin, 15 April 2013

YOGYAKARTA - (bebas) PREMANISME - eps. Parkir

Beberapa waktu ini kota Yogyakarta dipanaskan dengan kasus preman yang dieksekusi diluar jalur hukum di LP Cebongan, Sleman oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab dari kesatuan Kopasus. Selang beberapa waktu setelah kejadian itu, mulai banyak bertebaran spanduk-spanduk maupun poster-poster yang menyuarakan Yogyakarta bebas premanisme. 
Benarkah kota Yogyakarta tercinta ini tidak setuju dengan premanisme? Karena saya sendiri, secara pribadi berpandangan bahwa Kota Yogyakarta ini sebetulnya malah mengizinkan premanisme berkembang luas seperti jamur.
Dulu waktu saya masih jauh lebih muda dibanding saat ini, saya ingat adanya iklan berbentuk baliho dari pemerintah yang mengatakan bahwa membayar parkir motor/mobil itu bukan membayar penitipan namun membayar retribusi, yang mana nantinya akan masuk ke dinas pendapatan daerah. Dimasukkan dalam retribusi karena parkiran yang biasanya di pinggir jalan itu menggunakan badan jalan, fasilitas yang seharusnya milik publik, sama seperti pedagang kaki lima. Berbeda dengan parkiran mall, rumah sakit, atau toko-toko yang memiliki parkiran sendiri di bagian dalam gedungnya. Mereka tidak diharuskan membayar retribusi parkir karena tidak menggunakan fasilitas publik.

Menilik pada iklan pada masa lampau tersebut, saya lalu berpikir demikian, "dulu jika kita parkir, kita akan selalu diberi karcis parkir, sementara saat ini jangankan diberi dengan kesadaran tukang parkirnya, diminta saja belum tentu ada". Nah, sudah kelihatan kan bedanya? Perbedaan parkir dulu dan sekarang adalah ada pada karcisnya. Tahukah anda apa fungsi karcis parkir? Fungsi karcis parkir adalah tanda bahwa anda, pengguna jasa parkir, sudah membayar retribusi pada negara yang nantinya akan masuk ke dinas pendapatan daerah. Jadi pada jaman dulu si tukang parkir itu harus membeli "gepokan" karcis parkir tersebut ke dinas terkait, sehingga saya secara pribadi bisa memasukkan tukang parkir ini sebagai pedagang jasa. Seorang pekerja yang digunakan dinas pendapatan daerah untuk memastikan bahwa kita, orang yang menggunakan fasilitas publik, membayar retribusi daerah.

Lepas dari masa lalu, saat ini yang saya lihat dari tukang parkir adalah sosok preman yang mendapatkan uang dari "pungli". Kenapa saya bisa berpikir seperti ini? Mari kita lihat.
Yang pertama, saya punya banyak teman tukang parkir, yang akhirnya dari cerita mereka saya tahu bahwa untuk menjadi tukang parkir di daerah tertentu anda harus membayar kepada "pemilik" tempat itu. Dengan kata lain "mengontrak" tempat kepada seseorang yang sebetulnya bukan pemilik pinggiran jalan tempat anda parkir.
Yang kedua, pernahkah anda diberi karcis parkir? Saya rasa tidak, kecuali anda meminta. Bahkan saya pernah harus memaksa demi diberi karcis parkir, yang itu pun hanya separuh dan saya yakin separuhnya nanti akan diberikan lagi ke orang lain yang meminta. Itu sudah cukup menjadi bukti bahwa kita sudah tidak membayar parkir sebagai retribusi lagi, tetapi sebagai sewa tempat meletakkan kendaraan di wilayah si tukang parkir.
Yang ketiga, pada kejadian kedua masih masuk akal jika si tukang parkir tersebut membantu kita mengeluarkan motor dari tempatnya, atau membantu kita memberi aba-aba untuk memasukkan/mengeluarkan mobil kita dari tempat parkirnya. Pernahkah anda mengalami, ketika datang harus memasukkan motor/mobil sendiri pada tempatnya, ketika pulang anda harus bersusah payah mengeluarkan motor dari tempat parkir yang berdempetan, atau mengeluarkan mobil di jalan yang rame dan macet. Lalu setelah itu tiba-tiba ada sosok berpakaian oranye berdiri 10m dari tempat anda sambil menyorongkan tangan meminta uang parkir? Saya rasa setiap kita pasti pernah.

Tiga bukti, saya rasa cukup. Mulai dari adanya satu atau dua orang, atau bahkan golongan yang menguasai sebuah tempat, yang lalu menyewakannya kepada orang yang mau menjadi tukang parkir di wilayah tersebut sudah menunjukkan adanya kegiatan premanisme. Dari adanya tekanan sewa tempat tersebut menjadikan si tukang parkir sudah tidak mempu lagi membeli "gepokan" karcis parkir dari dinas pendapatan daerah, atau mungkin membeli tapi tidak dalam jumlah yang memadai, dan hanya digunakan jika diminta, sehingga jika kita parkir dia hanya akan menerima uang tanpa harus menyalurkannya ke dinas terkait dengan cara membeli "gepokan" karcis itu sudah merujuk pada kegiatan pungli yang terkait premanisme. Karena merasa mudah mendapatkan uang, sebagian tukang parkir lalu menjadi malas dan merasa bahwa membayar parkir sudah menjadi kewajiban kita, memang kewajiban jika si tukang parkir memberikan bukti pembayaran retribusi,  lalu mereka tidak beritikad baik dengan membantu kita untuk memasukkan/mengeluarkan kendaraan. Melainkan hanya bersantai melihat dan akan meminta uang, yang sangat jelas tidak akan pernah masuk ke dinas terkait, yang jika nantinya kita hitung hasilnya jelas tidak pernah sedikit.
Saya sendiri pernah menghitung bahwa di tempat-tempat tertentu penghasilan satu hari tidak akan pernah kurang dari Rp200.000,- ( http://news.detik.com/read/2013/03/22/101943/2200850/10/?nd772204topnews ) . Pernah membayangkan? Karena angka itu hanya membutuhkan 200 sepeda motor yang parkir. Saya sendiri pernah ditawari sebuah area di Malioboro, sebuah area yang paling padat di Kota Yogyakarta, dimana jika dihitung kasar satu bulannya saya bisa menghasilkan profit bersih sekitar 4-6juta, sudah dipotong biaya tukang parkir dan preman. Pernah membayangkan angka yang cukup fantastis ini? Semoga pernah.
Nah, saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, paling tidak saudaraku yang tinggal di Kota Yogyakarta tercinta ini. Setelah membaca paparan yang cukup panjang ini, masihkah anda-anda berpikir bahwa Yogyakarta tidak mendukung premanisme? Karena setiap hari premanisme dipupuk dan dipelihara dengan sangat baik di Yogyakarta tercinta kita ini?
Bagaimana cara menghapusnya? Saya pikir akan sangat sulit, sama seperti ide menghapus terorisme. Saya sendiri berpikir ide tentang GENOCIDE, tapi sepertinya terlalu ekstrim. Ide sederhananya adalah mengajak teman-teman untuk mulai menegakkan lagi adanya bukti pembayaran retribusi, yaitu karcis parkir. Ya benar, selalu meminta karcis parkir. Jika itu dilakukan secara masal dan terus menerus, maka tukang parkir akan tersudut dan dipaksa secara benar untuk kembali menggunakan karcis parkir, yang secara legal adalah bukti pembayaran retribusi.
Terkait dengan pemerintah, pasti saudara-saudara langsung terpikir mengenai dikorupnya uang retribusi kita kan? Well, mungkin itu akan kita bahas lain kali, saat ini kita fokus dulu untuk melenyapkan praktek premanisme dan pungli terselubung ini, okay? Tapi mengenai bersedia atau tidaknya, saya kembalikan lagi kepada saudara semua.
Terima kasih, selamat malam, dan tetap semangat sekalipun kehidupan ini keras.

Salam

Jumat, 12 April 2013

WEDANG - GAMBARAN HIDUP SOSIAL

Dalam kehidupan manusia ada satu kegiatan yang tidak akan pernah bisa ditinggalkan, bahkan menjadi sebuah kegiatan absolut yang bisa dikatakan mengikat raganya, jika tidak dilakukan akan mati. Kegiatan tersebut adalah minum. Yak benar, sejak manusia diciptakan manusia sudah melakukan minum untuk meneruskan hidupnya.
Pada jaman manusia masih hidup sangat sederhana, manusia melakukan kegiatan keberminuman langsung dari mata air ataupun sungai, hingga ditemukannya api yang akhirnya akan menjadi titik awal berubahnya kehidupan manusia.
Sejak ditemukannya api kehidupan manusia, khususnya yang terkait dengan kegiatan makan ataupun minum berubah 180 derajat. Yang tadinya selalu dimakan dan diminum mentah mulai dicoba diolah. Sejak saat itulah secara perlahan manusia mulai mengenal "rasa" pada makanan atupun minumannya.
Dalam tradisi suku Jawa (karena saya lahir dan besar di lingkungan suku Jawa) kegiatan keberminuman biasa disebut sebagai "wedangan" sebuah kegiatan yang dilakukan pada waktu senggang, untuk bersantai baik sendiri maupun bersama teman-teman sambil berbagi cerita melepas penat setelah lelah bekerja. "Wedang" sendiri dalam bahasa jawa adalah sebuah akronim dari "Ngawe Kadang" (memanggil saudara - red). Memang dalam tradisi Jawa sendiri wedangan ini seringkali digunakan sebagai sarana menambah teman. Fenomena ini tampak sangat jelas di warung-warung angkringan, dimana kita bisa duduk, memesan minuman sederhana sambil berbincang dengan orang-orang yang duduk disitu, baik teman dekat, penjual, maupun orang-orang yang belum kenal disitu. Yang akhirnya dari situ kita bisa menambah teman lewat perbincangan-perbincangan singkat.
Di budaya barat sendiri khususnya Eropa, kita mengenal tempat yang disebut "Pub" (Public House - red). Disana budaya keberminuman juga digunakan sebagai sarana bersosialisasi. Tempat ini adalah tempat bebas, dimana orang bisa masuk tanpa harus membayar tiket masuk. Pub sendiri biasanya menawarkan minuman beralkohol kelas ringan, seperti bir. Kenapa bir? Karena bir sendiri, sama seperti kopi dan teh, termasuk ke dalam minuman sosial. Anda tidak akan mabuk asal tidak minum lebih dari 1 botol dan bir sendiri juga memunculkan sensasi santai. Sehingga anda akan merasa rileks dalam berbincang.
Dua contoh yang menarik mengenai kehidupan keberminuman manusia, yang pada masa purba hanyalah digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan pokok dan mengalami perubahan fungsi pada masa ini.
Dalam sebuah kuliah filsafat yang pernah saya jalani, seorang dosen pernah mengajar dengan membawa satu gelas besar, beberapa butir batu, segenggam kerikil, satu gelas kecil pasir dan secangkir kopi. Mengawali kuliah beliau bertanya, "adakah yang mengerti artinya?", yang dijawab dengan keheningan seluruh kelas. Lalu beliau mulai menaruh batu-batu besar ke dalam gelas sambil berkata, "batu-batu besar ini mewakili Tuhan, atau apapun keyakinanmu dalam hidup". Lalu beliau melanjutkan dengan menuangkan kerikil kerikil kecil yang mulai mengisi tempat-tempat kosong diantara batu-batu besar tadi. Sambil menuangkan kerikil beliau berkata, "kerikil ini mewakili hal-hal penting dalam hidupmu, seperti kuliahmu, pekerjaanmu, keluargamu, dan orang-orang yang kamu kasihi". Setelah itu beliau menuangkan pasir ke dalam gelas, yang lalu menutup rapat semua lubang-lubang kecil diantara batu-batu dan kerikil tadi. Beliau berkata "Pasir ini melambangkan hal-hal kecil yang sebetulnya perlu ada dalam hidup kita, seperti bermain game, bersantai, membaca novel, berwisata, dan sebagainya. Hal-hal tersebut kecil, tapi sangat perlu ada dalam kita menjalani hari-hari. Tanpa hal-hal kecil ini hidup kita bisa berantakan". Menutup pembicaraannya mengenai gelas, batu, kerikil dan pasir tersebut dosen saya berkata, "Ketiga hal tersebut adalah hal-hal yang penting dalam hidup kita, hanya saja jangan pernah salah mengurutkannya. Karena jika kita salah mengurutkannya, seperti mengisi hidup kita dengan pasir dan kerikil terlebih dulu maka tidak akan tersisa tempat dalam hidup kita untuk batu-batu yang besar, yang mana hal itu seharusnya kita letakkan terlebih dulu dalam hidup kita". Karena penasaran seorang rekan dalam kelas bertanya "lalu kopi itu melambangkan apa pak?". Dosen saya pun berkata "Saya senang ada yang menanyakannya". Lalu sambil menuangkan kopi ke dalam gelas besar tersebut, dimana kopi ini langsung mengisi semua celah yang ada tanpa kecuali, beliau mengatakan sebuah kalimat yang tidak akan pernah saya lupakan, "Kopi ini adalah sebuah benda ajaib, sama seperti ketika dia mengisi semua celah dalam gelas tanpa kecuali, dia juga adalah hal-hal luar biasa kecil yang kadang kita lupakan, namun sebetulnya dia mampu melengkapi hidup kita dan membuatnya hangat. Kopi ini adalah perlambangan saat-saat santai dengan orang-orang terdekat kita. Dengan kopi ini saya mau mengatakan bahwa sekalipun hidup kita terlihat sibuk dengan batu-batu besar, kerikil, dan pasir itu, tetap sediakanlah sedikit waktumu untuk secangkir kopi dengan sahabat atau orang-orang terdekatmu. Itu akan membuat hidupmu lebih berarti".
Well, konklusinya adalh bahwa sekalipun hidup keberminuman manusia yang terlihat sebagai sebuah hal sederhana dan kecil, namun bisa membuat hidup kita lebih hangat dan berwarna. Sesibuk-sibuknya kita dalam menjalani hidup bersosialisasi dan meluangkan waktu untuk menjalani keberminuman bersama orang-orang yang kita cintai akan membuat hidup kita lebih berarti. Jadi sekali lagi, luangkanlah sedikit waktu untuk secangkir kopi bersama sahabat.

Jumat, 03 Agustus 2012

WHAT IS NAME - eps.1. Peterpan to NOAH

Beberapa hari ini dunia musik Indonesia cukup dihebohkan dengan kembalinya Ariel (Nazril Irham -red) Peterpan ke dunia musik, paska dibebaskannya dia dari tahanan beberapa waktu yang lalu. Menyambut bebasnya sang vokalis tersebut band Peterpan ini melakukan sebuah gebrakan yang cukup menghentak dengan mengubah nama bandnya menjadi NOAH. 
Yang mau saya soroti disini bukanlah pada Peterpan, ataupun si Nazril Irham tersbut, namun penggantian nama dan minimnya pemahaman fans Peterpan (NOAH) maupun fans Nazril mengenai arti nama band pujaan mereka dan arti nama alias sang vokalis pujaan mereka.
Sedikit peringatan di awal, bagi anda yang anti Yahudi, anti Amerika, dan anti Ibrani, setelah anda membaca tulisan saya ini, mungkin anda akan segera ingin menghubungi pihak manajemen Peterpan (NOAH) agar segera melakukan revisi nama. Penjabaran akan saya mulai di paragraf berikut ini.
Nazril Irham, dilahirkan sebagai seorang Islam dan tentunya seorang Muslim, tapi mungkin pemilihan nama alias sebagai Ariel adalah sebuah pilihan yang kurang tepat jika dia memiliki banyak fans yang anti Yahudi. Kenapa? Karena nama Ariel adalah nama yang berasal dari bahasa Ibrani, bahasa yang digunakan oleh kaum Ibrani (sebutan Yahudi sebelum era Yesus) yang berarti "The Lion of El (GOD)", nama Ariel juga merupakan sebutan bagi kota Yerusalem (sumber : http://www.thinkbabynames.com/meaning/1/Ariel ; http://en.wikipedia.org/wiki/Ariel_(given_name) ; http://en.wikipedia.org/wiki/Ariel ). Mulai sedikit berpikir? Mungkinkah bukan hanya Ahmad Dhani, musisi yang memiliki singgungan-singgungan tertentu dengan Yahudi (meskipun mungkin hanya hoax). Karena jelas nama alias yang digunakan bersumber dari bahasa Ibrani (bahasa kaum Yahudi kuno).
Bahasan yang kedua adalah pengubahan nama band mereka. Dari Peterpan menjadi NOAH. Tahukan anda apa arti nama NOAH? Dalam wawancara dengan personil band NOAH berarti 'orang yang membuat nyaman, damai, dan berumur panjang' (http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=15806132). Namun tahukah anda arti sebenarnya dari nama NOAH, dan dari bahasa apakah nama itu berasal? Noah adalah sebutan dalam bahasa Ibrani untuk Nuh (nabi yang membuat bahtera raksasa).  Pengejaan Noah juga digunakan dalam bahasa Inggris dan jadi nama yang umum digunakan oleh umat Yahudi hingga era modern ini. Mengenai arti namanya memang sama seperti yang disebutkan oleh personil Peterpan (NOAH) itu (sumber : http://www.thinkbabynames.com/meaning/1/Noah) . Namun sekali lagi, nama ini sudah sangat jelas berasal dari bahasa Ibrani, dan masih umum digunakan oleh kaum Yahudi pada era modern ini.
Dari dua ulasan nama tersebut mungkin akan membuat kita semua kembali berpikir, apakah ada keterkaitan antara Noah (Peterpan), Ariel (Nazril Irham) dan budaya Yahudi? Seperti yang selama ini kita pikir terjadi pada Ahmad Dhani. Atau mungkin ini hanya kebetulan dan sekedar HOAX saja?
Jawaban saya kembalikan kepada saudara-saudara semua. :)

salam :)