Jumat, 03 Agustus 2012

WHAT IS NAME - eps.1. Peterpan to NOAH

Beberapa hari ini dunia musik Indonesia cukup dihebohkan dengan kembalinya Ariel (Nazril Irham -red) Peterpan ke dunia musik, paska dibebaskannya dia dari tahanan beberapa waktu yang lalu. Menyambut bebasnya sang vokalis tersebut band Peterpan ini melakukan sebuah gebrakan yang cukup menghentak dengan mengubah nama bandnya menjadi NOAH. 
Yang mau saya soroti disini bukanlah pada Peterpan, ataupun si Nazril Irham tersbut, namun penggantian nama dan minimnya pemahaman fans Peterpan (NOAH) maupun fans Nazril mengenai arti nama band pujaan mereka dan arti nama alias sang vokalis pujaan mereka.
Sedikit peringatan di awal, bagi anda yang anti Yahudi, anti Amerika, dan anti Ibrani, setelah anda membaca tulisan saya ini, mungkin anda akan segera ingin menghubungi pihak manajemen Peterpan (NOAH) agar segera melakukan revisi nama. Penjabaran akan saya mulai di paragraf berikut ini.
Nazril Irham, dilahirkan sebagai seorang Islam dan tentunya seorang Muslim, tapi mungkin pemilihan nama alias sebagai Ariel adalah sebuah pilihan yang kurang tepat jika dia memiliki banyak fans yang anti Yahudi. Kenapa? Karena nama Ariel adalah nama yang berasal dari bahasa Ibrani, bahasa yang digunakan oleh kaum Ibrani (sebutan Yahudi sebelum era Yesus) yang berarti "The Lion of El (GOD)", nama Ariel juga merupakan sebutan bagi kota Yerusalem (sumber : http://www.thinkbabynames.com/meaning/1/Ariel ; http://en.wikipedia.org/wiki/Ariel_(given_name) ; http://en.wikipedia.org/wiki/Ariel ). Mulai sedikit berpikir? Mungkinkah bukan hanya Ahmad Dhani, musisi yang memiliki singgungan-singgungan tertentu dengan Yahudi (meskipun mungkin hanya hoax). Karena jelas nama alias yang digunakan bersumber dari bahasa Ibrani (bahasa kaum Yahudi kuno).
Bahasan yang kedua adalah pengubahan nama band mereka. Dari Peterpan menjadi NOAH. Tahukan anda apa arti nama NOAH? Dalam wawancara dengan personil band NOAH berarti 'orang yang membuat nyaman, damai, dan berumur panjang' (http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=15806132). Namun tahukah anda arti sebenarnya dari nama NOAH, dan dari bahasa apakah nama itu berasal? Noah adalah sebutan dalam bahasa Ibrani untuk Nuh (nabi yang membuat bahtera raksasa).  Pengejaan Noah juga digunakan dalam bahasa Inggris dan jadi nama yang umum digunakan oleh umat Yahudi hingga era modern ini. Mengenai arti namanya memang sama seperti yang disebutkan oleh personil Peterpan (NOAH) itu (sumber : http://www.thinkbabynames.com/meaning/1/Noah) . Namun sekali lagi, nama ini sudah sangat jelas berasal dari bahasa Ibrani, dan masih umum digunakan oleh kaum Yahudi pada era modern ini.
Dari dua ulasan nama tersebut mungkin akan membuat kita semua kembali berpikir, apakah ada keterkaitan antara Noah (Peterpan), Ariel (Nazril Irham) dan budaya Yahudi? Seperti yang selama ini kita pikir terjadi pada Ahmad Dhani. Atau mungkin ini hanya kebetulan dan sekedar HOAX saja?
Jawaban saya kembalikan kepada saudara-saudara semua. :)

salam :)

ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR

Ini pertama kalinya saya membuat tulisan terkait dengan kajian HR. Diawali dari bidang kerja saya sebagai pengusaha dan terkait pernah membuat sebuah karya tulisan akhir kuliah di bidang yang sama, sehingga membuat saya banyak berpikir mengenai tulisan tentang OCB (organizational citizenship behavior) ini.
OCB yang bisa diartikan sebagai sebuah perilaku sebagai warga yang baik dalam sebuah organisasi adalah sebuah perusahaan yang bisa muncul ketika seorang karyawan merasa bahwa dia merupakan suatu bagian dari sebuah kesatuan besar perusahaan, yang lalu memunculkan sense of belongings yang tinggi pada diri karyawan itu. Berawal dari munculnya sense of belonging pada diri karyawan tersebutlah kemudian bisa berujung pada dimunculkannya extra roles oleh karyawan bersangkutan.
Bagi perusahaan sendiri hal ini bisa menjadi suatu hal yang menguntungkan, karena extra roles yang dimunculkan oleh karyawan tersebut jelas akan memudahkan banyak hal dalam sistem perusahaan tersebut. Sebagai contoh, ketika seorang waiter memiliki OCB yang baik, maka dia akan memunculkan extra role seperti menyapu, mengepel, membantu mencuci piring. Ditilik dari sisi perusahaan, hal tersebut jelas sangat membantu.
Bagi perusahaan yang sudah besar dan memiliki kapital yang mantap tentunya ada tidaknya OCB tidak akan begitu terasa, karena job desc  memang sudah terbagi dengan baik, e.g : di sebuah restoran seperti KFC pembagian kerja seperti tukang pel, customer service, cook, valet, dan satpam semuanya sudah terbagi dan jarang terjadi penumpukan job desc. Sangat berbeda dengan sebuah industri yang baru dibangun, dimana sebetulnya saling mengisi kekosongan dalam tugas akan jadi sangat membantu.
Sedikit bercerita mengenai pengalaman saya dalam menjalankan sebuah usaha warung kopi kecil-kecilan yang mana pada mulanya saya dibantu oleh istri saya. Namun lama kelamaan karena kesibukan istri saya, akhirnya kami memutuskan untuk hire seorang karyawan. Ketika itu alih-alih hire seorang karyawan bergaji rendah, saya memutuskan untuk hire seorang partner yang bergaji relatif tinggi. Hal tersebut dikarenakan saya membutuhkan partner untuk membantu saya melebarkan market warung kopi saya tersebut.
Kegiatan pun berjalan terus, namun pada akhirnya saya mendapati bahwa partner saya tersebut kurang efektif dan kurang memiliki kompetensi dalam mengerjakan tugasnya. Sementara gaji yang dia terima sudah terlalu besar kalau hanya dipekerjakan sebagai pekerja dapur. Oleh karena itu saya mulai menambah jobdes partner saya tersebut dengan tugas tambahan membantu saya memantau stok dan belanja sesuai dengan kebutuhan warung. Bukan sebuah tambahan tugas yang berat, karena hanya akan menuntut berangkat kerja lebih dini sekitar 30-60 menit. Namun disini saya menemukan sebuah failure dalam pelaksanaannya. Dengan gaji yang besar, dan bonus yang saya tawarkan 5% dari kelebihan achievement (jika achievement adalah 9 juta dan omset mencapai 10 juta maka dia berhak atas bonus 5%x1 juta) yang saya harapkan adalah sebuah perilaku excelent sebagai karyawan, dan tentunya adalah kemunculan OCB yang baik, yang nantinya akan memunculkan perilaku positif dan upaya untuk mengembangkan usaha kami ini. Namun yang saya alami justru sebaliknya, mulai dari klaim bensin dengan alasan adanya tugas tambahan belanja, kedatangan yang terus menerus terlambat, dan ketidak mampuan belanja (terlihat dari membengkaknya pengeluaran belanja yang berakibat semakin menipisnya profit karena bahan baku yang dibeli terlalu mahal) adalah beberapa kejadian yang terus menerus terjadi.
Hal-hal yang terjadi diatas menyebabkan munculnya tekanan berat dalam menjalani usaha saya ini. Karena lalu harga yang saya bayarkan untuk menggaji karyawan saya ini dan pola perlakuan saya kepadanya, yang tidak menganggap dia sebagai karyawan tapi sebagai partner ini tidak berbuah sebuah kinerja yang excellent tapi sebaliknya, sama sekali tidak sebanding. Dari sudut pandang saya sebagai orang yang setiap hari 10 jam bersama partner saya tersebut hal tersebut dimunculkan karena kurangnya rasa memiliki  dan hanya menganggap tempat ini adalah tempat kerjanya, dimana dari tempat kerja tersebut dia tidak bisa mendapatkan hasil yang memuaskan (dari ceritanya ke beberapa orang dekatnya, sekalipun sebetulnya hasil yang didapatnya sudah relatif luar biasa besar jika dibandingkan dengan jobdesnya). Karena menganggap tempat kerja ini tidak menghasilkan akhirnya dia tidak berupaya untuk memberikan sesuatu yang lebih (bahkan cenderung sangat kurang), atau dalam hal ini dia berperilaku sebagai anggota sebuah organisasi dengan perilaku yang "kurang" baik, atau dengan bahasa kerennya OCB yang rendah.
Dari sharing saya diatas tadi bisa dilihat betapa menyusahkannya memiliki orang-orang dengan OCB yang rendah dalam sebuah perusahaan, terutama jika perbandingan antara karyawan yang memunculkan OCB rendah dan tinggi memiliki derajat tinggi ke arah kemunculan OCB yang rendah (pada perusahaan saya sangat terasa, karena saya hanya mengerjakan warung itu bertiga bersama seorang part timer).
Dari kesimpulan kecil ini saya hendak menyarankan kepada teman-teman yang menekuni psikologi industri dan berkecimpung dalam dunia HR, untuk mulai mencermati sesuatu yang disebut OCB ini. Karena kemunculan positifnya bisa memberikan sumbangan yang luar biasa menyenangkan bagi organisasi/perusahaan, dan sebaliknya, kemunculan negatifnya akan memberikan sebuah tekanan besar dan masalah bagi organisasi/perusahaan.