Kamis, 28 Juli 2011

KENAPA SIH?!?


Tangan yang terulur lemah itu menengadah
sesekali menggenggam kuat
ingin memberi kesan kokoh, tak tergoyah
sekalipun nafasnya sudah terdengar berat

merasa kalau sendiri adalah indah
walaupun sebetulnya ringkih
hanya tak ingin terlihat lemah
hingga diam di sudut merepih

kakinya berdiri tegak sedikit dibuka
sesekali menghentak kuat
ingin memberi kesan kokoh, tak tergoyah
sekalipun sebetulnya gemetar saat penat

merasa kalau sepi adalah sobat
sahabat pemberi konklusi
sekalipun jiwa rindu dipeluk erat
tapi bibir berkata “aku pilih sunyi dan sendiri”

“kenapa mesti sepi?” tanya hati
“kenapa mesti menyudut dan merepih?”
ada tangan lain untukmu yang selalu tersedia
ada pelukan yang akan selalu hangat

“sepi ini beri waktu untuk buka peta”
“tapi kenapa harus buka peta jika ada penunjuk jalan?”
“sepi ini beri kesempatan untuk berpikir maju”
“kenapa harus sepi jika ada tangan yang menggandeng maju?”


dedicated to semua temanku yang berpikir “sendiri” adalah pemecahan masalah

Minggu, 24 Juli 2011

CERTAMEN ERGO SUM

Pertama kali belajar filsafat manusia, pasti dihadapkan dengan sebuah istilah Cogito Ergo Sum, dimana di situ ada satu pertanyaan mendasar tentang "ada". Benarkah kita ini benar-benar ada? jika menurutmu memang benar apa buktinya? Pertanyaan yang dilontarkan oleh René Descartes, yang dijawab dengan sebuah kesadaran mengenai "ada" itu, dimana satu bukti bahwa kita ini ada adalah karena kita ini berpikir. Kita bisa berpikir bahwa kita ini ada sudah menjadi satu bukti bahwa kita ada. Kita berpikir bahwa kita ini ada, mempunyai kesadaran, dan memiliki mimpi adalah bukti ke"ada"an kita.
Kemarin saya baru saja selesai membaca sebuah novel baru, karangan Dony Dhirgantoro, novel keduanya yang berjudul "2". Sebuah novel yang bercerita mengenai perjuangan, perjuangan seorang ayah, perjuangan seorang ibu, perjuangan seorang kekasih, sahabat, teman, saudara, atlit, dan perjuangan seorang pelatih demi mewujudkan mimpi mereka.
Sebuah novel yang memberi saya sebuah pemahaman baru bahwa bila kita memiliki mimpi sebesar apapun itu tapi jika kita tidak mengiringinya dengan kerja keras dan perjuangan untuk mencapainya, maka kita adalah pembual terbesar bagi diri kita. Sebaliknya, sekeras apapun kita berusaha dan berjuang jika tidak dilandasi sebuah mimpi, maka kita sudah menjadi pembual terbesar bagi dunia.
Seperti judul di atas, Certamen Ergo Sum, yang dapat diterjemahkan "saya berjuang maka saya ada". Sebuah pernyataan yang cukup membuka mata saya, bahwa sekarang ini di hukum dunia yang berlaku sekarang ini, seseorang dinilai ada ataupun tidak ada, dianggap sebagai manusia ataupun sebagai sampah masyarakat, dari perjuangannya dalam menempuh hidup, dalam menggapai impian. Seorang ayah, baru akan dikasihi, dicintai tulus oleh keluarganya hanya bila si ayah mau berjuang demi keluarganya apapun yang terjadi, mau berdiri dan pasang badan untuk kebahagiaan keluarganya apapun yang terjadi. Seorang ibu, baru akan dianggap sebagai ibu, dikasihi, dicintai oleh anak-anak dan suaminya hanya bila dia mau berjuang memberikan cintanya tanpa pamrih paa keluarganya. Dan masing-masing dari kita baru akan dianggap ada, bila kita semua mau berjuang demi apa yang kita cintai, kita inginkan, dan kita impikan.
Berbeda dengan Cogito Ergo Sum, dimana orang bisa dianggap ada ketika dia berpikir, punya mimpi dan punya cita-cita. Certamen Ergo Sum menyatakan bahwa bermimpi pun seringkali tidak akan pernah cukup untuk menjadikanmu sebagai manusia. Banyak harga yang harus dibayar untuk menggapai cita-citamu, dan perjuanganmu itu lah yang menjadikanmu ada sebagai manusia.
"Bagaimana kalau kita menghadapi sebuah halangan besar dalam perjuangan kita?", well, sedikit saran, ubah paradigma kita mengenai permasalahan. Jika kita menganggap masalah sebagai masalah, maka yang terjadi adalah kita akan merasa lelah dan lemah dalam menghadapinya. Jangan pandang masalah sebagai masalah, pandanglah masalah itu sebagai tantangan baru. Dengan begitu kita pasti merasa ingin menaklukkannya. Percaya atau tidak dalam setiap detik di hidup kita, kita pasti bertemu dengan masalah (yang harus kita pandang sebagai tantangan) baru yang siap menantang langkah kita, dan memang inilah hidup. Bahwa hidup tidak akan pernah hadir sempurna. Sempurna, hadir tanpa permasalahan dan halangan. Sempurna, bahwa tanpa diperjuangkan pun mimpi kita bisa hadir dan menjadi nyata. TIDAK AKAN PERNAH ADA!! Sekali lagi, saya katakan, jangan pernah mengharapkan hidup yang sempurna itu, yang mengharapkan hidup yang sempurna hanyalah seorang pengecut yang tidak berani mengangkat dagu dan membusungkan dada, berjalan maju dalam hidup.
Mimpi, setiap orang punya mimpi. Cita-cita, setiap orang punya cita-cita. Bukan masalah apakah mimpi itu jadi kenyataan ataupun tidak, bukan masalah cita-cita itu bisa diraih ataupun tidak, tapi sebesar apa perjuangan kita menggapai mimpi dan cita-cita kita. Seperti salah satu quote yang saya suka "taruhlah cita-citamu setinggi langit, sekalipun suatu saat kamu tidak mampu menggapainya, setidaknya saat itu kamu sudah ada di antara bintang-bintang". Menurut saya sangat benar, sekalipun mimpi tidak tercapai, orang-orang disekelilingmu akan melihatmu sebagai seseorang yang luar biasa. 
Jadi mari kita letakkan mimpi kita, TINGGI, dan mari kita bersama-sama BERJUANG KERAS untuk menggapainya, sehingga kita akan menjadi "ada", dan sekalipun akhirnya hidup kita berakhir tanpa pernah menggapai cita-cita kita, orang-orang terdekat kita akan melihat kita sebagai seseorang yang mengakhiri hidup dalam perjuangan, bukan seseorang yang pengecut dan tinggal diam menerima apa saja yang diberikan dalam hidup kita, sekalipun itu bukanlah hal yang baik dalam hidup kita.

SEKOLAH UNTUK APA (by Rhenald Kasali)

Sekolah untuk Apa? (by Rhenald Kasali)
By Rhenald Kasali, Ketua Program MM UI

Thursday, 07 July 2011

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.

Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima,
bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah
kamar”.

Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam
perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan
yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN)
masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di
mana saja.

Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi
sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun
sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu
saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi
masalah hari ini.

Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal
memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja lantaran pindah rumah
biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang
kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan
tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.

Lengkap sudah masalah kita. Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan
untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat
sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk
apa di negeri yang serbasulit ini?

Kesadaran Membangun SDM

Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, Perdana Menteri (PM)
Malaysia Mahathir Mohamad sadar betul pentingnya pembangunan sumber
daya manusia (SDM). Dia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil
gelar S-2 dan S-3 ke berbagai negara maju.

Hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai 10 tahun,lulusan terbaik
itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya Anda bisa lihat
sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula
perusahaan swasta dan birokrasinya. Perubahan bukan hanya sampai di
situ.

Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform
sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old
ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis,serta
peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai
ditinggalkan.

Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan
seterusnya.Tak mengherankan kalau sekolahsekolah di berbagai belahan
dunia pun mulai berubah. Di negeri Belanda saya sempat
terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal
Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa.

”Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak,
jadi mereka yang mendaftar harus kami terima,” ujar seorang dekan di
Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi
privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik.

Seleksinya sangat ketat. Lantas bagaimana membangun bangsa dari
lulusan yang asal masuk ini? ”Mudah saja,” ujar dekan itu. ”Kita
potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi
sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua
orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan
berbeda,”ujarnya.

Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di Selandia Baru. Meski
murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA,
angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi.

Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah. Yang
lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di
tingkat SLTA di Selandia Baru.

Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam 10
besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan
waktu beberapa hari untuk mewawancarai lulusan sekolah itu
masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan
mengintip bagaimana pelajaran diajarkan.

Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.
Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah
kita yang terlalu kognitif, dengan guruguru yang merasa hebat kalau
muridnya bisa dapat nilai ratarata di atas 80 (betapapun stresnya
mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif, namun
tak menguasai semua subjek.

Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan
kemampuan mengopi isi buku dan catatan. Entah di mana keguruan itu
muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita
mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan
bebek-bebek dogmatik.

Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri,
mungkin guruguru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon
maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip
nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun
di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar
negeri.

Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? ”Undang-undang menjamin
semua orang punya hak yang sama untuk belajar,” ujar seorang guru di
Selandia Baru. Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan input-nya?
”Itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya,” ujar putra sulung saya
yang kuliah di Auckland University tahun ketiga.

Maksudnya,tes masuk tetap ada,tetapi hanya dipakai untuk penempatan
dan kualifikasi. Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil
dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu Matematika dan Bahasa
Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori:
akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan.

Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik tinggi
karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak,
khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati.
Mereka hanya super di kedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur.

Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya
diberikan secara kognitif. Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran
pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masingmasing.
Bagi mereka yang bercita- cita menjadi dokter, biologi dan ilmu kimia
wajib dikuasai.

Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia.
Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting,
statistik,dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu
belajar biologi dan fisika.

Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata
pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di
atas kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Bayangkan, bukankah citacita pembuat kurikulum itu orangnya hebat
sekali? Mungkin dia manusia super.

Seorang lulusan SLTA tahun pertama harus menguasai empat bidang sains
(biologi,ilmu kimia, fisika, dan matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa
Indonesia, Inggris, dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah,
sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga, dan komputer.

Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat
menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek,
dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Seperti
kurikulum program S-1 20 tahun lalu yang sejajar dengan program S-1
yang digabung hingga S-3 di Amerika.

Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga
tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor
menyelesaikan di atas 100 SKS, sehingga hampir tak ada yang lulus.
Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun. Anda bisa saja
mengatakan, dulu kita juga demikian, tapi tak ada masalah kok!

Di mana masalahnya?

Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah
mengubah banyak hal, anakanak kita dikepung informasi yang lebih
bersifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi datang dengan lebih
menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, melainkan dari segala
resources.

Ilmu belajar menjadi lebih penting dari apa yang dipelajari itu
sendiri,sehingga diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu
pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk
dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa
guru, lifelong learning. Saya saksikan metode belajar telah jauh
berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan,
”Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak 10 tahun lalu. Maka
itu, sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada
paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah.
Guru kami ubah,metode diperbarui,fasilitas baru dibangun,” ujar
seorang guru.

Masih banyak yang ingin saya diskusikan,tapi sampai di sini ada
baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah
dan untuk apa kita bersekolah?

Mudah-mudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu depan dan
semoga anak-anak kita mendapatkan masa depan yang lebih baik. RHENALD
KASALI Ketua Program MM UI

Repost dari :http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/411134/34/Sekolahuntuk Apa?

Sabtu, 23 Juli 2011

COFFEE - BEER


Beberapa saat yang lalu saya terlibat pembicaraan mengenai bir (beer) dan kopi (coffee). Kedua minuman ini jelas sekali merupakan pilihan utama (terutama di lingkungan pertemanan saya) sebagai opsi minuman kala berinteraksi sosial. Keduanya baru bener-bener berasa nikmatnya kalau diminum bersama teman, sambil berbincang-bincang.
Minum bir sendirian hanya berlaku untuk orang yang sedang patah hati atau kebanyakan utang. Minum kopi sendirian hanya berlaku untuk orang yang sedang lembur atau nonton bola, bahkan nonton bola pun enaknya bareng-bareng temen/tetangga sambil ngopi.
Saya nggak mau kasih judul COFFEE VS BEER karena memang dua hal ini tidak bermusuhan, keduanya punya sifat yang sama yaitu menghangatkan obrolan dan pertemanan, tapi memang dalam habitat yang berbeda.
Dalam perbincangan mengenai kedua hal itu beberapa saat yang lalu, satu komentar saya mengenai perbedaan keduanya adalah, bahwa kopi itu akan berasa nikmat untuk menemani perbincangan yang bersifat smart conversation, tidak terlalu banyak orang, dan sifatnya tenang sama seperti kopi yang hitam dan diam. Berbeda dengan bir, bir akan lebih nikmat jika perbincangan yang muncul bersifat sedikit hura-hura, karena memang begitulah sifat bir, ada teman, ada pesta, ada kesenangan, dan ada bir. Tidak bisa dibayangkan toh, musik yang cukup keras, obrolan sedikit rusuh, sedikit urakan, tapi minumnya espresso panas, atau sebaliknya, sebuah obrolan tenang yang memerlukan sedikit tambahan keseriusan dan muka kalem ditemani dengan sebotol bir di tangan. So, yep, memang dua minuman ini merupakan dua minuman yang punya sifat sama tapi habitat yang berbeda.
Masih terkait dengan hal tersebut, beberapa hari ini, saya yang sedikit agak kacau (kalau ga boleh dibilang “galau” karena terlalu alay) sering mampir ngopi di sebuah coffeshop kecil di bilangan ring road utara bernama coffesophia, dan biasanya memesan espresso basic ga pake gula. Pahit? Ya jelas pahit banget lah, tapi dari pahitnya itu saya teringat dengan omongan seorang teman, Eko Widayanto, yang doyan banget kopi tanpa gula dan bir hitam, yang setiap kali saya tanya kenapa suka, selalu kasih jawab “pahitnya kopi/bir hitam ini selalu mengingatkan untuk tetap bersemangat jalani hidup, karena memang hidup tidak akan pernah sepahit kopi/bir hitam ini”. Well, surely it's a nice quote isn't it? Yah, quote yang akan selalu saya ingat, tapi beberapa hari ini saya ngopi selalu terpikir, sebetulnya apa lagi sih yang ditawarkan kopi dan bir dalam lingkupnya bersosialisasi? Kenapa kopi selalu jadi teman dalam smart conversation dan kenapa bir selalu menjadi teman dalam ber”hura-hura”? Akhirnya kemarin saya temukan sedikit jawabannya, bahwa kopi menawarkan kehangatan di dalam cangkirnya. Kehangatan dalam cangkir dan kedewasaan dalam rasa pahitnya yang terkadang membuat kita mengernyitkan dahi. Dari efeknya pun kafein itu membantu supply darah ke otak, yang berarti oksigen dalam otak pun bertambah dan kerja otak meningkat. Sehingga hasilnya adalah, obrolan cerdas dengan penuh pemikiran dan kedewasaan.
Jadi untuk kopi saya akan menambahkan satu quote lagi, bahwa kopi ini selain selalu mengingatkan kita bahwa hidup ga akan pernah sepait kopi, juga bahwa hidup selalu menawarkan banyak persahabatan yang hangat, sehangat kopi di dalam cangkir ini.
Lalu bagaimana dengan bir?
Pertanyaan simpel, bir paling enak disajikan dingin dalam gelas-gelas dingin juga, karena bir mempunyai tugas mendinginkan kepala yang seharian dipanaskan oleh banyak sekali rutinitas dan pekerjaan. Selain itu bir menawarkan sajian yang sparkle yang dihasilkan dari karbonasinya, sehingga dia selalu membawa keriaan yang besar. Itulah alasannya kenapa bir akan menjadi minuman yang cukup menyenangkan ketika kepala atau hati sudah merasa panas. Dia mendinginkan dan memberi satu sparkling ambience dalam perbincangan, yang tentu saja tanpa perlu tambahan berpikir. Sehingga obrolan yang dihasilkan adalah obrolan-obrolan luar biasa santai, dan mungkin cenderung slengean dan slebor.
Jadi selalu berpikirlah, bahwa hidup itu selalu penuh keceriaan dan kegembiraan, just like a bottle of sparkling beer.
Well, apapun itu, entah kopi, entah bir, keduanya punya kans besar untuk menyebabkan kita kecanduan, jadi, minumlah secara bertanggung jawab.
Mari angkat gelas dan cangkir kita, karena hidup tidak akan pernah terlalu pahit, bahkan banyak sekali kehangatan persahabatan yang bisa kita temukan dalam hidup sekalipun itu hanya berasal dari secangkir kopi, dan selalu ingat untuk selalu ceria, karena bir akan selalu mengajarkan kita untuk tetap tersenyum, so, keep your sparkling smiles up, just like a bottle of sparkling beer,
DAN MARI KITA BERSULANG....KAMPAI...!!!!

Kamis, 14 Juli 2011

SECANGKIR KOPI BERSAMA SAHABAT

Alkisah di suatu kelas filsafat di kampus Psikologi Sanata Dharma Yogyakarta ruang 403....Seorang dosen filsafat berdiri di depan kelas saat kuliah dimulai.  Kemudian dia mengambil toples (bukan top-less) kosong dan mengisi toples itu dengan bola-bola golf.
Kemudian beliau bertanya kepada mahasiswa-mahasiswanya: " Apakah toples ini sudah penuh?". Serentak mahasiswa-mahasiswanya menjawab : "Sudah Romoooooo..!!!". Kemudian beliau pun tersenyum.

Kemudian dia menuangkan batu-batu kerikil ke dalam toples, mengguncang-guncang dengan ringan, sehingga kerikil-kerikil tersebut mengisi tempat-tempat yang kosong di antara bola-bola golf.
Kemudian beliau bertanya lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?". Mahasiswa-mahasiswanya pun menjawab : "Sudaaaaah...!!!". Beliaupun kembali tersenyum.

Selanjutnya beliau menabur pasir ke dalam toples (bukan top-less). Dan pasir pun menutupi semuanya. Kembali beliau bertanya : "Bagaimana sekarang? Penuh sudah?". Mahasiswa menjawab: "Sudah Romooo...!!!"

Dan kemudian, beliau menuangkan dua cangkir kopi ke dalam toples, dan ostosmastis menutup semua ruangan kosong diantara pasir.
Mahasiswa-mahasiswanya pun tertawa.

Kemudian beliau berkata: "Sekarang saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu. Bola2 golf adalah hal-hal yang penting. Yaitu Tuhan, keluarga, anak2, cinta, kesehatan,dll. Jika yang lain hilang, dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu MASIH TETAP PENUH. Batu-batu kerikil adalah hal-hal lain, seperti pekerjaan, rumah, mobil, atau harta benda yang lain. Pasir adalah hal-hal yang sepele. Jika pertama kali kalian memasukkan pasir, maka TIDAK akan tersisa ruangan untuk bola2 golf dan batu kerikil. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu. Jika kalian menghabiskan energi untuk hal2 yang sepele, kalian tidak akan punya ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian. jadi berilah perhatian untuk hal2 yang penting untuk kebahagiaanmu. Bermainlah dengan adik2/kakak2mu/orang tuamu, JAGALAH KESEHATANMU (^_^), ajak pasanganmu untuk keluar makan malam, dsb. Berilah perhatian terlebih dahulu kepada BOLA2 GOLF. Hal-hal yang benar2 penting. Atur prioritasmu, baru yang terakhir urus pasir-pasirnya."

Kemudian salah satu mahasiswa mengangkat tangan dan bertanya: Lalu kopi mewakili apa Romo?"

Beliau pun tersenyum, dan berkata: "Saya senang kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah sangat penuh, TETAP SELALU TERSEDIA TEMPAT UNTUK SECANGKIR KOPI BERSAMA SAHABAT."


**Repost dari http://www.facebook.com/notes/martinus-sinulingga/toples-bukan-top-less-kehidupan/10150256648193190