Pertama kali belajar filsafat manusia, pasti dihadapkan dengan sebuah istilah Cogito Ergo Sum, dimana di situ ada satu pertanyaan mendasar tentang "ada". Benarkah kita ini benar-benar ada? jika menurutmu memang benar apa buktinya? Pertanyaan yang dilontarkan oleh René Descartes, yang dijawab dengan sebuah kesadaran mengenai "ada" itu, dimana satu bukti bahwa kita ini ada adalah karena kita ini berpikir. Kita bisa berpikir bahwa kita ini ada sudah menjadi satu bukti bahwa kita ada. Kita berpikir bahwa kita ini ada, mempunyai kesadaran, dan memiliki mimpi adalah bukti ke"ada"an kita.
Kemarin saya baru saja selesai membaca sebuah novel baru, karangan Dony Dhirgantoro, novel keduanya yang berjudul "2". Sebuah novel yang bercerita mengenai perjuangan, perjuangan seorang ayah, perjuangan seorang ibu, perjuangan seorang kekasih, sahabat, teman, saudara, atlit, dan perjuangan seorang pelatih demi mewujudkan mimpi mereka.
Sebuah novel yang memberi saya sebuah pemahaman baru bahwa bila kita memiliki mimpi sebesar apapun itu tapi jika kita tidak mengiringinya dengan kerja keras dan perjuangan untuk mencapainya, maka kita adalah pembual terbesar bagi diri kita. Sebaliknya, sekeras apapun kita berusaha dan berjuang jika tidak dilandasi sebuah mimpi, maka kita sudah menjadi pembual terbesar bagi dunia.
Seperti judul di atas, Certamen Ergo Sum, yang dapat diterjemahkan "saya berjuang maka saya ada". Sebuah pernyataan yang cukup membuka mata saya, bahwa sekarang ini di hukum dunia yang berlaku sekarang ini, seseorang dinilai ada ataupun tidak ada, dianggap sebagai manusia ataupun sebagai sampah masyarakat, dari perjuangannya dalam menempuh hidup, dalam menggapai impian. Seorang ayah, baru akan dikasihi, dicintai tulus oleh keluarganya hanya bila si ayah mau berjuang demi keluarganya apapun yang terjadi, mau berdiri dan pasang badan untuk kebahagiaan keluarganya apapun yang terjadi. Seorang ibu, baru akan dianggap sebagai ibu, dikasihi, dicintai oleh anak-anak dan suaminya hanya bila dia mau berjuang memberikan cintanya tanpa pamrih paa keluarganya. Dan masing-masing dari kita baru akan dianggap ada, bila kita semua mau berjuang demi apa yang kita cintai, kita inginkan, dan kita impikan.
Berbeda dengan Cogito Ergo Sum, dimana orang bisa dianggap ada ketika dia berpikir, punya mimpi dan punya cita-cita. Certamen Ergo Sum menyatakan bahwa bermimpi pun seringkali tidak akan pernah cukup untuk menjadikanmu sebagai manusia. Banyak harga yang harus dibayar untuk menggapai cita-citamu, dan perjuanganmu itu lah yang menjadikanmu ada sebagai manusia.
"Bagaimana kalau kita menghadapi sebuah halangan besar dalam perjuangan kita?", well, sedikit saran, ubah paradigma kita mengenai permasalahan. Jika kita menganggap masalah sebagai masalah, maka yang terjadi adalah kita akan merasa lelah dan lemah dalam menghadapinya. Jangan pandang masalah sebagai masalah, pandanglah masalah itu sebagai tantangan baru. Dengan begitu kita pasti merasa ingin menaklukkannya. Percaya atau tidak dalam setiap detik di hidup kita, kita pasti bertemu dengan masalah (yang harus kita pandang sebagai tantangan) baru yang siap menantang langkah kita, dan memang inilah hidup. Bahwa hidup tidak akan pernah hadir sempurna. Sempurna, hadir tanpa permasalahan dan halangan. Sempurna, bahwa tanpa diperjuangkan pun mimpi kita bisa hadir dan menjadi nyata. TIDAK AKAN PERNAH ADA!! Sekali lagi, saya katakan, jangan pernah mengharapkan hidup yang sempurna itu, yang mengharapkan hidup yang sempurna hanyalah seorang pengecut yang tidak berani mengangkat dagu dan membusungkan dada, berjalan maju dalam hidup.
Mimpi, setiap orang punya mimpi. Cita-cita, setiap orang punya cita-cita. Bukan masalah apakah mimpi itu jadi kenyataan ataupun tidak, bukan masalah cita-cita itu bisa diraih ataupun tidak, tapi sebesar apa perjuangan kita menggapai mimpi dan cita-cita kita. Seperti salah satu quote yang saya suka "taruhlah cita-citamu setinggi langit, sekalipun suatu saat kamu tidak mampu menggapainya, setidaknya saat itu kamu sudah ada di antara bintang-bintang". Menurut saya sangat benar, sekalipun mimpi tidak tercapai, orang-orang disekelilingmu akan melihatmu sebagai seseorang yang luar biasa.
Jadi mari kita letakkan mimpi kita, TINGGI, dan mari kita bersama-sama BERJUANG KERAS untuk menggapainya, sehingga kita akan menjadi "ada", dan sekalipun akhirnya hidup kita berakhir tanpa pernah menggapai cita-cita kita, orang-orang terdekat kita akan melihat kita sebagai seseorang yang mengakhiri hidup dalam perjuangan, bukan seseorang yang pengecut dan tinggal diam menerima apa saja yang diberikan dalam hidup kita, sekalipun itu bukanlah hal yang baik dalam hidup kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar