Senin, 26 September 2011

SALES TIPS : Pembeli Adalah Raja

Beberapa waktu yang lalu saya membeli pulsa di dekat rumah, warung pulsanya sudah cukup besar, bahkan punya pegawai (sepertinya pegawainya sih masih keluarga). Saya membeli pulsa memang hanya nominal kecil, Rp10.000,-, setelah pegawainya meminta saya mendiktekan nomer saya, saya pun mendiktekannya dengan cara begini 0852-2747-1xxx, tapi dia salah tulis menjadi 0852-27447-1xxx. begitu saya lihat di monitor komputer bahwa dia salah tulis saya langsung bilang "kebanyakan angka empatnya mbak" tapi dia terlanjur pencet "enter". Alhasil request transaksi terkirim, saat itu si bossnya denger dan langsung datang dan menanyakan "ada apa?" yang aku jawab "kebanyakan angka empat, jadinya malah 13 digit". Lalu si bossnya ngeliat angka di monitornya dan yang aneh, bukannya menegur karyawannya yang kurang hati-hati, dia malah, dengan sedikit memarahi, mendikte saya dengan berkata "lain kali mas, kalo ngomongin nomernya misahnya yang enak...kalo nomer kaya gini itu harusnya dibaca 085-22747-1xxx, soalnya ada angka '2' kembar disitu", yang saya jawab ringan, "waduh, aku tu udh terlanjur enak bacanya 0852-2747-1xxx" dan sekali lagi dia menyalahkan saya karena membacanya seperti itu, dia bilang "kalo nomernya 08522747 itu kan ada angka kembarnya '2' itu kan...itu harusnya dibacanya jangan dipisah, jadinya harus dibaca 085-22747, gitu", dan akhirnya saya mengalah, daripada malah terjadi debat kusir ga jelas cuma gara-gara nomer hape.
Sepertinya perkaranya sepele ya? Sekedar membacakan nomer hape,  tapi disini ada sesuatu yang salah. Kenapa? Seharusnya si boss itu sebagai penjual tetap menempatkan diri dengan benar, sesuai dengan prinsip dagang bahwa pembeli adalah raja. Mau bagaimanapun cara membacakan nomer hapenya pembeli lah yang benar, karena setiap orang punya cara nyamannya sendiri dalam membaca nomer hape, benar kan? Nah kesalahan yang kedua, tidak ada teguran yang diberikan kepada pegawainya, karena dipikir lebih dalam lagi pun sebetulnya itu murni kesalahan pegawai. Bayangkan kesalahan ketik ada pada angka '4', kenapa pembeli disalahkan untuk angka '2'. OK mungkin ada beberapa perusahaan yang tidak akan pernah menegur karyawannya di depan pembeli. Tapi setidaknya seharusnya kalimat yang benar yang seharusnya diucapkan si boss adalah begini "maaf, ada sedikit kesalahan sepertinya, coba deh dibacakan lagi nomernya", bukannya menimpakan kesalahan pada pembeli.
Kesalahan-kesalahan seperti ini bagi sales akan sangat fatal akibatnya, karena resiko kehilangan pelanggan akan sangat besar. Ingat, tidak ada pembeli/pelanggan yang suka didikte, karena bagaimanapun, pembeli adalah raja, mereka punya uang untuk membeli produk kita, dan tanpa mereka bisnis kita tidak akan pernah berkembang. Bahkan mengenai "pembeli adalah raja", seorang teman yang pernah bekerja di dapur hotel berbintang mengatakan "sesulit apapun permintaan pembeli, kita harus semaksimal mungkin berusaha untuk memenuhinya, tapi si pembeli juga harus paham resikonya, yaitu akan muncul biaya tambahan untuk permintaan yang aneh-aneh", tapi tetap saja, pembeli adalah raja.
Jadi sekali lagi saya tekankan bahwa adalah haram hukumnya bagi para sales untuk mendikte pembeli, karena melakukan persuasi tidaklah sama dengan mendikte, banyak orang yang senang dipengaruhi dengan saran-saran, tapi tidak ada orang yang senang jika didikte tentang bagaimana mereka harus bersikap.
sekian dulu dari saya

Happy Selling....salam

Minggu, 25 September 2011

SALES TIPS : an opening

Beberapa waktu yang lalu saya diberi kesempatan untuk sedikit berbagi mengenai pekerjaan saya, di dalam acara sharing dunia kerja yang merupakan satu rangkaian dari acara Temu Alumni Psikologi Sanata Dharma Yogyakarta. Sharing ini dilakukan oleh alumni untuk mahasiswa yang baru masuk, untuk memperluas dan mempersiapkan pandangan mereka ke depan mengenai dunia kerja.
Memang pekerjaan yang saya kerjakan saat ini sedikit berbelok dari ranah psikologi pada umumnya, selain 3 orang teman saya yang juga membawakan sharing dengan pekerjaan yang sedikit "nyleneh" pada saat itu, yaitu wiraswasta, seniman, dan penyiar radio. Mungkin bagi sebagian besar mahasiswa psikologi yang menganggap bahwa kuliah di psikologi berarti juga bekerja di bidang ilmu psikologi, seperti psikologi industri, psikologi klinis, psikologi pendidikan, ataupun psikologi sosial, pekerjaan kami (atau boleh dibilang pilihan kami ini) sedikit unik dan diluar kewajaran, bahkan ada yang menanyakan "kalo pada akhirnya menjadi wiraswasta, apakah tidak merasa rugi sudah susah payah kuliah di psikologi?". Sebuah pertanyaan yang sangat wajar akan terlontar dari mahasiswa baru, dimana kita masih akan menemukan sebuah idealisme yang besar ketika memilih jurusan psikologi, apalagi jika psikologi itu memang adalah pilihan mereka sendiri.
Menjawab sedikit tentang pertanyaan tersebut, bahwa sebetulnya belajar psikologi adalah belajar tentang manusia, dan bekerja dalam bidang psikologi berarti pula adalah bekerja di segala bidang yang bersinggungan dengan manusia. Jadi menurut saya secara pribadi, apapun pekerjaan kita, kalau itu masih memerlukan sebuah keahlian untuk dapat berkomunikasi, memahami, berempati dan memberi feedback pada manusia lain berarti kita semua masih bekerja dalam jalur psikologi, benar begitu?
OK, kita kembali pada judul di atas, mengenai sales. Banyak orang, apalagi lulusan S1 yang memandang rendah posisi sales ataupun marketing. Padahal perlu diperhatikan, sales atau marketer, atau dalam bahasa Indonesianya bisa kita sebut "PEMASAR" adalah orang-orang besar. Dari deretan daftar orang-orang terkaya di dunia, sebagian besar di antaranya berprofesi sebagai pemasar. Menarik bukan? Selain itu perlu dengan sangat diperhatikan, bahwa untuk bidang industri, apalagi industri yang membutuhkan pemasaran, seperti retail dan distribusi, sales/marketer/pemasar adalah orang-orang terpenting bagi perusahaan, mereka adalah ujung tombak perusahaan, dimana kalau mereka tidak bisa menghasilkan penjualan, perusahaan tidak akan mendapat income, dan perusahaan tidak akan bisa menggaji karyawan-karyawannya. Dengan kata lain adalah : Kami, para sales/marketer/pemasar, adalah orang-orang yang memberi makan ratusan bahkan ribuan orang-orang yang bekerja pada sebuah perusahaan. Cukup hebat bukan? Sangat hebat malah, jadi jangan sekali-sekali memandang sebelah mata pekerjaan ini, dan jangan pernah merasa rendah diri karena bekerja sebagai seorang sales.
OK, tanpa berpanjang lebar lagi, saya ingin berbagi sedikit tips, untuk rekan-rekan yang tertarik terjun ke dunia pemasaran, atau yang sedang bergelut di dalamnya. Apa aja sih yang harus dilakuin oleh sales dan harus dimiliki oleh sales supaya dagangannya bisa laris?
1. Pemahaman Produk
Pastikan kamu paham akan produk yang kamu jual, baik kelebihan maupun kekurangan. Memang perlu mengakui kekurangan produk pada calon pembeli, tapi jangan terlalu sering diungkapkan, unggulkan saja kelebihannya karena itulah yang nantinya akan jadi nilai jual. Mengungkapkan kekurangan produk akan membuat calon pembeli berpikir ulang untuk membeli produk kita. Sedikit tambahan kita juga akan sangat perlu untuk mengenal produk kompetitor, sehingga kita bisa memberikan komparasi, tapi tetap, harus selalu mengunggulkan produk kita, jangan lepas Pe-De.Karena itu seorang sales juga harus mampu untuk melakukan survei pasar dan dapat mengumpulkan produk issue dari produk-produk kompetitor, mulai dari harga hingga pandangan pasar terhadapnya.
2. Percaya Diri
Dalam berjualan produk, usahakan selalu percaya diri dan selalu berpikiran positif. Ingat menjadi seorang sales kita harus bisa menjadi seorang brandsetter, artinya kita harus mampu mengubah mindset calon pembeli supaya mereka menganggap produk kita itu nomer satu dan tiada brand lain selain brand yang kita pasarkan. Sekali lagi, selalu percaya diri, jangan malu untuk bertemu orang baru, atau menelepon orang baru. Selalu pasang pemikiran bahwa mereka yang butuh kita bukan kita yang butuh mereka. Perkenalkan diri dengan baik, dan posisikan diri kita setara dengan calon pembeli. Sebagai seorang sales produk IT, pada saat pertama kali menjadi sales saya selalu minder ketika harus bertemu dengan owner toko-toko komputer ataupun manager-manager purchasing, tapi lama-kelamaan saya menyadari bahwa sebetulnya mereka itu butuh kita, dan sebetulnya hubungan antara kami itu adalah simbiose mutalisme dimana jika tidak ada produk yang saya pasarkan pun toko mereka akan miskin produk dan end user tidak suka itu. Maka sejak saat itu saya menemukan bahwa posisi sales itu sebetulnya sama dengan owner ataupun manager purchasing.
3. Kemampuan Komunikasi Yang Baik
Satu lagi yang dibutuhkan sales, kenapa hal ini penting? Karena menjadi sales berarti bertemu dengan banyak orang baru selama melakukan pekerjaannya, jika seorang sales tidak mempunyai kemampuan komunikasi yang baik, maka yang terjadi adalah sang sales tidak dapat memperkenalkan dirinya dan perusahaannya, yang artinya si sales ini tidak akan dapat menjual produknya. Ingat, salah satu hal yang harus dilakukan sales adalah memperbanyak kenalan dan rekanan, karena semakin banyak kenalan dan rekanan artinya penjualan akan semakin lancar. bayangkan jika setiap bulannya kamu bisa menjual kepada 10% dari kenalanmu, jika kamu cuma punya kenalan 100 maka kamu hanya akan bisa menjual kepada 10 orang, tapi jika kamu punya kenalan 1000, maka kamu akan bisa menjual kepada 100 orang. Lagipula semakin banyak kenalan dan rekanan yang mengenal kamu dan produkmu, berarti semakin banyak media iklan yang kamu punya. Karena jika teman dari seorang kenalanmu ada yang membutuhkan barang yang kamu miliki mereka pasti akan merekomendasikan dirimu, yang artinya penjualan akan terjadi bukan?
Satu hal tambahan dalam kemampuan komunikasi. Seorang sales akan menjadi sangat baik jika mempunyai kemampuan persuasi yang baik, dimana kita bisa mempengaruhi pikiran calon pembeli kita, membuat mereka benar-benar percaya pada kita dan akhirnya mengambil barang yang kita pasarkan.
Well, mungkin sebetulnya masih banyak tips lainnya yang bisa dipelajari. Tapi untuk sementara sekian dulu dari saya, akan saya tambahkan lagi nanti jika ada waktu luang untuk menulis lagi.

Happy Selling....salam

Rabu, 14 September 2011

BESTO PREISO (baca : best place)


Kata orang hidup adalah perjuangan, dan aku pun mengamini kebenarannya, bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang dan bahwa dalam hidup, kita pun punya banyak hal yang harus kita perjuangkan. Setiap kita punya hal-hal yang berbeda untuk kita perjuangkan, satu yang pasti adalah masing-masing dari kita memperjuangkan impian kita masing-masing. Mungkin jika bicara masalah mimpi dan dunia ideal akan terdengar naïf, tapi apa boleh buat, memang itulah yang terjadi kan? Ada orang yang berjuang demi mendapatkan pria/wanita yang mereka sayangi untuk bisa menjadi pasangan seumur hidupnya, ada yang berjuang demi sebuah pekerjaan impiannya, ada yang berjuang untuk terus menerus menggali ilmu, ada yang berjuang demi mendapatkan penghasilan yang lebih besar lagi. Apa pun itu semuanya adalah perjuangan untuk mendapatkan tempat yang terbaik menurut idealisme mereka masing-masing.
Bagi beberapa orang, perjuangan untuk menemukan tempat yang terbaik itu hanya memakan waktu yang singkat dan mudah. Tapi bagi sebagian besar orang hal tersebut bisa terasa sangat panjang dan berat, bahkan terkadang bisa diwarnai dengan darah dan pertempuran. Bahkan ada juga yang tidak pernah bisa menemukan tempat terbaiknya sekalipun dengan perjuangan yang tak pernah berhenti hingga akhir hidupnya.
Beberapa waktu yang lalu aku sendiri berdiskusi dengan seorang teman mengenai “tempat terbaik” ini. Sebuah diskusi yang berujung pada debat kusir, karena pendapat kami berbeda. Aku secara pribadi (aku sebut secara pribadi karena tidak menutup kemungkinan banyak yang berpendapat lain) berpendapat bahwa tempat terbaik itu pasti selalu ada bagi setiap orang, entah dia bisa menemukan tempat itu selama hidup dengan penuh perjuangan, ataupun pada akhirnya hidupnya berakhir dengan tidak sempat menemukan tempat terbaiknya, tapi tidak ditemukan bukan berarti tidak ada kan? ; sedangkan rekan saya berpendapat sedikit berbeda, bahwa tempat terbaik ini bagi beberapa orang memang tidak tersedia, dan dicontohkan pada orang-orang yang berakhir hidupnya tanpa bisa menemukan tempat terbaiknya. Tapi karena ini blogku maka aku akan melanjutkan tulisan ini dengan berdasar pada pendapat pribadiku J
Dalam filsafat Jawa ringan sendiri ada sebuah istilah yaitu “nrimo ing pandum”, dimana seringkali orang berpikir “nrimo ing pandum” itu adalah berserah saja pada apa yang sudah ada. Tapi menurutku itu akan menjadi luar biasa salah. Karena seharusnya yang dimaksud “nrimo ing pandum” adalah sebuah kondisi bersyukur pada Sang Maha Tinggi atas apa yang diterima setelah melakukan perjuangan habis-habisan. Jadi bukan hanya sekedar menerima apa yang terjadi dan berpikir “sudahlah, begini saja sudah baik”, tapi terus memperbaikin diri, dan terus giat bekerja, jika hasilnya tidak sesuai yang diharapkan maka bersyukurlah. Itu yang disebut “nrimo ing pandum”
Dengan berdasarkan pada pendapat bahwa tempat terbaik itu selalu ada maka kita akan selalu punya semangat juang dan selalu bisa berkembang lebih dan lebih lagi. Bayangkan kalau kita sudah berpatokan pada “jangan-jangan aku tidak memiliki tempat terbaik” dan lalu berhenti pada titik dimana kita berada, lalu merasa nyaman, menurutku itu akan membuat kita berhenti berkembang kan? Hanya berhenti pada suatu kemapanan yang absurd dan tidak bertumbuh. Kalau mau dibikin sedikit menohok mungkin bisa dibilang “berhenti untuk jadi seorang pecundang”, karena menurutku secara pribadi “pecundang bukanlah seorang yang kalah, tapi pecundang adalah seorang yang berhenti mencoba setelah dia mengalami kekalahan”, tetap berjuang dan mungkin kita bisa menjadi pemenang dan berujung pada penemuan tempat terbaik, bener ga? Jaman dulu kalau si Edison itu berhenti berjuang karena berpikir bahwa tempat terbaik itu tidak tersedia untuk dirinya, mungkin kita masih memakai obor, dan kita tidak pernah mengenal kamera.
Bagi yang suka anime dan manga mungkin ga asing dengan “shaman king”, dan kalau ga asing dengan shaman king pasti ga asing dengan karakter Bokuto no Ryu (Ryu si pedang kayu). Dia adalah seorang kepala gangster yang punya impian menemukan “besto preiso” (baca : best place) untuk dirinya dan ganknya, dimana mereka bisa diterima dan bisa tinggal nyaman. Hal itu diperjuangkannya karena dia dan anak buahnya mempunyai sebuah perasaan sama, yaitu ditolak oleh masyarakat, sehingga mereka bersama-sama berjuang untuk menemukan tempat yang terbaik dalam hidupnya yang berujung pada perkenalannya dengan tokoh utama dalam cerita itu, dan terus melanjutkan perjuangannya. Pada akhir cerita, Ryu sendiri belum berhasil menemukan tempat terbaik yang nyata secara harafiah untuk dia dan anak buahnya, tapi dia tetap melanjutkan pencariannya dengan berkendara diatas motornya. Well, kalau mau ambil contoh dari manga itu sih (walapun resikonya dibilang naïf, atau dibilang kaya anak kecil) kita bisa lihat bahwa Ryu pun sampai akhir ceritanya tidak menemukan tempat terbaik yang dicarinya, tapi itu tidak membuatnya berhenti, bahkan mungkin kalau mau dibuat sampai dia mati, dia tetap tidak menemukan tempat terbaik bagi dirinya, tapi kalau mau dilihat dari sudut pandang lain, mungkin perjuangannya itu akan menginspirasi banyak anak buahnya, dan mungkin nantinya salah satu anak buahnya bisa menemukan tempat terbaik dengan bermodal mimpi yang diwariskan oleh Ryu. Begitupun kita, aku pikir suatu saat jika sekalipun hidup kita berakhir dengan tanpa bisa menemukan tempat terbaik untuk kita beristirahat mungkin hidup yang kita perjuangkan itu akan menginspirasi orang-orang yang memiliki mimpi yang sama dengan kita dan bisa membantu mereka menemukan tempat terbaik mereka (yang jika mimpi mereka sama dengan mimpi kita bukannya itu berarti mereka juga menemukan tempat terbaik untuk kita?)
Dilihat dari sudut pandang keTuhanan juga, aku percaya bahwa Tuhan selalu menyiapkan hal yang terbaik untuk kita sesuai dengan apa yang kita minta (mana ada bapak yang kasih ular ketika anaknya minta roti?). Jadi aku pun percaya bahwa Dia sudah siapkan tempat terbaik sama seperti apa yang aku impikan dan inginkan, semuanya tergantung pada seberapa gigih aku memperjuangkan dan membawanya dalam doa.
Dan pada akhirnya paragraf terakhir, dari apa yang sudah aku jabarkan panjang-panjang di atas, aku hanya pengin bilang, bahwa dalam hidup jangan pernah berhenti pada suatu titik nyaman dan merasa sudah mapan di titik itu (kecuali jika titik itu adalah mimpimu), terus berjuang sekalipun kamu sudah kehabisan keringat, tapi tetap bersyukur pada kondisi yang ada, dan ga lupa doakan semua mimpimu, bawa ke hadapan Tuhan, and I do truly believe that everything is gonna be  just great for all of us.