Jumat, 03 Agustus 2012

WHAT IS NAME - eps.1. Peterpan to NOAH

Beberapa hari ini dunia musik Indonesia cukup dihebohkan dengan kembalinya Ariel (Nazril Irham -red) Peterpan ke dunia musik, paska dibebaskannya dia dari tahanan beberapa waktu yang lalu. Menyambut bebasnya sang vokalis tersebut band Peterpan ini melakukan sebuah gebrakan yang cukup menghentak dengan mengubah nama bandnya menjadi NOAH. 
Yang mau saya soroti disini bukanlah pada Peterpan, ataupun si Nazril Irham tersbut, namun penggantian nama dan minimnya pemahaman fans Peterpan (NOAH) maupun fans Nazril mengenai arti nama band pujaan mereka dan arti nama alias sang vokalis pujaan mereka.
Sedikit peringatan di awal, bagi anda yang anti Yahudi, anti Amerika, dan anti Ibrani, setelah anda membaca tulisan saya ini, mungkin anda akan segera ingin menghubungi pihak manajemen Peterpan (NOAH) agar segera melakukan revisi nama. Penjabaran akan saya mulai di paragraf berikut ini.
Nazril Irham, dilahirkan sebagai seorang Islam dan tentunya seorang Muslim, tapi mungkin pemilihan nama alias sebagai Ariel adalah sebuah pilihan yang kurang tepat jika dia memiliki banyak fans yang anti Yahudi. Kenapa? Karena nama Ariel adalah nama yang berasal dari bahasa Ibrani, bahasa yang digunakan oleh kaum Ibrani (sebutan Yahudi sebelum era Yesus) yang berarti "The Lion of El (GOD)", nama Ariel juga merupakan sebutan bagi kota Yerusalem (sumber : http://www.thinkbabynames.com/meaning/1/Ariel ; http://en.wikipedia.org/wiki/Ariel_(given_name) ; http://en.wikipedia.org/wiki/Ariel ). Mulai sedikit berpikir? Mungkinkah bukan hanya Ahmad Dhani, musisi yang memiliki singgungan-singgungan tertentu dengan Yahudi (meskipun mungkin hanya hoax). Karena jelas nama alias yang digunakan bersumber dari bahasa Ibrani (bahasa kaum Yahudi kuno).
Bahasan yang kedua adalah pengubahan nama band mereka. Dari Peterpan menjadi NOAH. Tahukan anda apa arti nama NOAH? Dalam wawancara dengan personil band NOAH berarti 'orang yang membuat nyaman, damai, dan berumur panjang' (http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=15806132). Namun tahukah anda arti sebenarnya dari nama NOAH, dan dari bahasa apakah nama itu berasal? Noah adalah sebutan dalam bahasa Ibrani untuk Nuh (nabi yang membuat bahtera raksasa).  Pengejaan Noah juga digunakan dalam bahasa Inggris dan jadi nama yang umum digunakan oleh umat Yahudi hingga era modern ini. Mengenai arti namanya memang sama seperti yang disebutkan oleh personil Peterpan (NOAH) itu (sumber : http://www.thinkbabynames.com/meaning/1/Noah) . Namun sekali lagi, nama ini sudah sangat jelas berasal dari bahasa Ibrani, dan masih umum digunakan oleh kaum Yahudi pada era modern ini.
Dari dua ulasan nama tersebut mungkin akan membuat kita semua kembali berpikir, apakah ada keterkaitan antara Noah (Peterpan), Ariel (Nazril Irham) dan budaya Yahudi? Seperti yang selama ini kita pikir terjadi pada Ahmad Dhani. Atau mungkin ini hanya kebetulan dan sekedar HOAX saja?
Jawaban saya kembalikan kepada saudara-saudara semua. :)

salam :)

ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR

Ini pertama kalinya saya membuat tulisan terkait dengan kajian HR. Diawali dari bidang kerja saya sebagai pengusaha dan terkait pernah membuat sebuah karya tulisan akhir kuliah di bidang yang sama, sehingga membuat saya banyak berpikir mengenai tulisan tentang OCB (organizational citizenship behavior) ini.
OCB yang bisa diartikan sebagai sebuah perilaku sebagai warga yang baik dalam sebuah organisasi adalah sebuah perusahaan yang bisa muncul ketika seorang karyawan merasa bahwa dia merupakan suatu bagian dari sebuah kesatuan besar perusahaan, yang lalu memunculkan sense of belongings yang tinggi pada diri karyawan itu. Berawal dari munculnya sense of belonging pada diri karyawan tersebutlah kemudian bisa berujung pada dimunculkannya extra roles oleh karyawan bersangkutan.
Bagi perusahaan sendiri hal ini bisa menjadi suatu hal yang menguntungkan, karena extra roles yang dimunculkan oleh karyawan tersebut jelas akan memudahkan banyak hal dalam sistem perusahaan tersebut. Sebagai contoh, ketika seorang waiter memiliki OCB yang baik, maka dia akan memunculkan extra role seperti menyapu, mengepel, membantu mencuci piring. Ditilik dari sisi perusahaan, hal tersebut jelas sangat membantu.
Bagi perusahaan yang sudah besar dan memiliki kapital yang mantap tentunya ada tidaknya OCB tidak akan begitu terasa, karena job desc  memang sudah terbagi dengan baik, e.g : di sebuah restoran seperti KFC pembagian kerja seperti tukang pel, customer service, cook, valet, dan satpam semuanya sudah terbagi dan jarang terjadi penumpukan job desc. Sangat berbeda dengan sebuah industri yang baru dibangun, dimana sebetulnya saling mengisi kekosongan dalam tugas akan jadi sangat membantu.
Sedikit bercerita mengenai pengalaman saya dalam menjalankan sebuah usaha warung kopi kecil-kecilan yang mana pada mulanya saya dibantu oleh istri saya. Namun lama kelamaan karena kesibukan istri saya, akhirnya kami memutuskan untuk hire seorang karyawan. Ketika itu alih-alih hire seorang karyawan bergaji rendah, saya memutuskan untuk hire seorang partner yang bergaji relatif tinggi. Hal tersebut dikarenakan saya membutuhkan partner untuk membantu saya melebarkan market warung kopi saya tersebut.
Kegiatan pun berjalan terus, namun pada akhirnya saya mendapati bahwa partner saya tersebut kurang efektif dan kurang memiliki kompetensi dalam mengerjakan tugasnya. Sementara gaji yang dia terima sudah terlalu besar kalau hanya dipekerjakan sebagai pekerja dapur. Oleh karena itu saya mulai menambah jobdes partner saya tersebut dengan tugas tambahan membantu saya memantau stok dan belanja sesuai dengan kebutuhan warung. Bukan sebuah tambahan tugas yang berat, karena hanya akan menuntut berangkat kerja lebih dini sekitar 30-60 menit. Namun disini saya menemukan sebuah failure dalam pelaksanaannya. Dengan gaji yang besar, dan bonus yang saya tawarkan 5% dari kelebihan achievement (jika achievement adalah 9 juta dan omset mencapai 10 juta maka dia berhak atas bonus 5%x1 juta) yang saya harapkan adalah sebuah perilaku excelent sebagai karyawan, dan tentunya adalah kemunculan OCB yang baik, yang nantinya akan memunculkan perilaku positif dan upaya untuk mengembangkan usaha kami ini. Namun yang saya alami justru sebaliknya, mulai dari klaim bensin dengan alasan adanya tugas tambahan belanja, kedatangan yang terus menerus terlambat, dan ketidak mampuan belanja (terlihat dari membengkaknya pengeluaran belanja yang berakibat semakin menipisnya profit karena bahan baku yang dibeli terlalu mahal) adalah beberapa kejadian yang terus menerus terjadi.
Hal-hal yang terjadi diatas menyebabkan munculnya tekanan berat dalam menjalani usaha saya ini. Karena lalu harga yang saya bayarkan untuk menggaji karyawan saya ini dan pola perlakuan saya kepadanya, yang tidak menganggap dia sebagai karyawan tapi sebagai partner ini tidak berbuah sebuah kinerja yang excellent tapi sebaliknya, sama sekali tidak sebanding. Dari sudut pandang saya sebagai orang yang setiap hari 10 jam bersama partner saya tersebut hal tersebut dimunculkan karena kurangnya rasa memiliki  dan hanya menganggap tempat ini adalah tempat kerjanya, dimana dari tempat kerja tersebut dia tidak bisa mendapatkan hasil yang memuaskan (dari ceritanya ke beberapa orang dekatnya, sekalipun sebetulnya hasil yang didapatnya sudah relatif luar biasa besar jika dibandingkan dengan jobdesnya). Karena menganggap tempat kerja ini tidak menghasilkan akhirnya dia tidak berupaya untuk memberikan sesuatu yang lebih (bahkan cenderung sangat kurang), atau dalam hal ini dia berperilaku sebagai anggota sebuah organisasi dengan perilaku yang "kurang" baik, atau dengan bahasa kerennya OCB yang rendah.
Dari sharing saya diatas tadi bisa dilihat betapa menyusahkannya memiliki orang-orang dengan OCB yang rendah dalam sebuah perusahaan, terutama jika perbandingan antara karyawan yang memunculkan OCB rendah dan tinggi memiliki derajat tinggi ke arah kemunculan OCB yang rendah (pada perusahaan saya sangat terasa, karena saya hanya mengerjakan warung itu bertiga bersama seorang part timer).
Dari kesimpulan kecil ini saya hendak menyarankan kepada teman-teman yang menekuni psikologi industri dan berkecimpung dalam dunia HR, untuk mulai mencermati sesuatu yang disebut OCB ini. Karena kemunculan positifnya bisa memberikan sumbangan yang luar biasa menyenangkan bagi organisasi/perusahaan, dan sebaliknya, kemunculan negatifnya akan memberikan sebuah tekanan besar dan masalah bagi organisasi/perusahaan.

Minggu, 01 April 2012

DEMO, ANARKI, DAN KEPEDULIAN

Beberapa waktu lalu kita dihadapkan pada kondisi yang cukup panas, ketika petinggi-petinggi di negeri ini berniat menaikkan harga BBM premium demi melindungi dana APBN dan mengurangi hutang negara (katanya). Memang demo-demo itu sudah berlalu, seiring dengan ditundanya kenaikan harga BBM tersebut, tapi ada beberapa fenomena yang cukup menarik untuk disoroti dan mungkin dijadikan pelajaran ke depan.
Saya tidak tahu apakah rekan-rekan memperhatikan atau tidak, bahwa selama teman-teman mahasiswa melakukan demo. Banyak komentar miring yang dikeluarkan oleh rekan-rekan lain yang notabene sebetulnya juga tidak setuju dengan kenaikan harga BBM tersebut. Memang, pada beberapa kota demo diwarnai dengan kekerasan dan vandalisme. Tapi bukankah di beberapa kota lainnya demo dilakukan dengan damai? Saya sendiri tidak habis pikir mengenai hal ini, di saat rekan-rekan mahasiswa turun ke jalan meneriakkan tuntutan yang sebenarnya juga kita inginkan, tapi yang mereka dapatkan hanyalah cacian. Bukankah yang mereka teriak-teriakkan itu juga suara kita? Sekalipun saya sendiri tidak ikut aksi turun ke jalan, tapi saya bersyukur, setidaknya ada beberapa rekan saya yang berani, rela memberikan sedikit waktunya untuk langsung berhadapan dengan aparat, hanya demi dapat memaksa petinggi-petinggi negeri mengubah pikirannya.
Ada beberapa orang yang bilang "kenapa sih harus demo? Kan ada cara yang lebih pintar", pertanyaan tersebut bisa dengan mudah saya balikkan demikian "Apakah menurut anda, rekan-rekan mahasiswa itu sebelumnya tidak mengirimkan surat? Apakah mereka sebelumnya tidak menyuarakan permintaannya melalui jalur birokrasi yang diminta?". Saya yakin sudah, karena bagaimanapun dan di manapun aksi turun ke jalan adalah sebuah langkah akhir yang hanya akan dilakukan jika cara yang normal sudah tidak berhasil. Sehingga satu-satunya cara adalah aksi turun ke jalan dan melakukan protes radikal.
Ada juga beberapa rekan yang mengungkapkan ketidak setujuan mereka mengenai aksi anarki dan vandalisme yang terjadi pada saat demo berlangsung. Saya sendiri pun tidak setuju dengan hal tersebut. Tapi bukankah itu terjadi hanya di beberapa titik tertentu? Yang kalau mau diperhatikan di beberapa media, hal tersebut juga dipicu karena kemunculan provokator? Jadi kesimpulannya adalah, bukankah tidak semua rekan mahasiswa berotak anarki? Yah mungkin kita perlu menganggap bahwa rekan-rekan yang melakukan anarki tersebut adalah mahasiswa ndeso, yang tidak paham bagaimana cara berorasi dan menyampaikan suaranya dengan cantik.
Jadi menurut saya sebetulnya kita tidak pantas menghina dan mencaci rekan-rekan mahasiswa yang turun ke jalan tersebut, hanya karena mereka melakukannya dengan radikal, dan terkadang merepotkan kita dengan menyebabkan macet. Karena bagaimanapun untuk melakukan sebuah perubahan mereka harus sedikit menyentil penguasa dengan berbagai cara. Cara paling damai ya dengan melakukan long march ke gedung penguasa terdekat. Dimana jika hal itu terjadi, otomatis jalanan akan sedikit dipenuhi oleh pengunjuk rasa dan hal tersebut akan menyebabkan sedikit kemacetan. Jalan keluarnya, cobalah cari jalur alternatif. Sekali lagi, jangan caci maki mereka selama mereka melakukannya dengan tertib dan bebas dari anarki, karena bagaimanapun yang mereka teriakkan adalah suara kita.
Masih terkait dengan isu kenaikan BBM ini. Seorang teman pada salah satu akun jejaring sosial menuliskan "Wahai wakil rakyat alias pelayan rakyat, tuan kalian yaitu rakyat Indonesia tidak akan ribut sampe spt ini jika BBM naik. Semua manusia pny cara menyesuaikan diri dg situasi, sehingga mungkin di hari2 pertama akan sulit, tapi berujung akan diterima". Menanggapi status demikian saya sendiri beropini, BENAR setiap orang pada akhirnya akan menerima kenaikan BBM tersebut dan tetap akan membeli berapapun harganya. Tapi menerima yang seperti apa? Karena kalau yang saya dapati di lapangan yang terjadi adalah sebuah penerimaan yang terpaksa. Bahkan lebih tepat disebut sebuah sikap menerima yang dimunculkan oleh pesimisitas terhadap pemerintah. Pesimis, karena berapa kali pun berteriak tidak akan mengubah kondisi, kondisi ini lebih tepat disamakan dengan seorang bapak yang mendapati anaknya akan menikah dengan orang yang sama sekali tidak diharapkan. Setelah menikah sekalipun harus melihat anaknya menderita dalam rumah tangganya, tapi apa mau dikata, bagaimanapun juga tetap harus memberikan suport kepada anaknya dan keluarganya. Jadi sama sekali jauh dari sikap menerima.
Selain itu mengenai menerima dan menyesuaikan diri pada keadaan yang berubah drastis. Ada pandangan bahwa setiap orang akan dapat beradaptasi. Memang setiap orang pada akhirnya akan beradaptasi pada kondisi yang ada. Tapi bagaimanapun juga kemampuan adaptasi setiap orang akan berbeda-beda. Ada yang tingga mencari penghasilan tambahan sudah cukup, ada yang tinggal memotong anggaran sudah cukup. Tapi bagaimana yang terjadi pada saudara kita yang belum juga mampu beradaptasi, eh kondisinya sudah tambah memburuk? Tindakan nyata apa yang akan kita ambil? Mengingat tekanan hidup mereka itu juga sebagian adalah salah kita.
Meenanggapi hal di atas, menurut rekan-rekan semua alasan apa sih yang pada akhirnya menyebabkan BBM bersubsidi menjadi sorotan? Menurut saya, salah satunya adalah tingginya permintaan atas BBM bersubsidi. Sementara dana yang digunakan untuk menyokong produksinya terbatas. Sehingga seperti teori supply-demand akhirnya munculah pemikiran untuk menaikkan harga. Lalu bagaimana cara supaya hal tersebut bisa diredam? salah satu caranya adalah dengan mengurangi penggunaan BBM bersubsidi. Karena memang BBM bersubsidi itu dikhususkan untuk orang-orang yang kurang mampu. Bukan mengenai jenis kendaraan yang rekan-rekan gunakan, tapi lebih pada kemampuan daya beli saudara. Lagipula kecuali kendaraan yang rekan-rekan gunakan berasal dari era 80an mundur, saya pikir pengisian tangki dengan menggunakan BBM non subsidi tidak akan menimbulkan masalah bagi tangki maupun saluran bahan bakarnya. Lagipula penggunaan BBM dengan oktan lebih tinggi dan timbal lebih rendah akan lebih membawa kita pada konsep "green energy". Sekalipun bagaimanapun juga energi fosil tidak akan pernah menjadi green energy. Jadi sekali lagi jenis BBM mana yang anda gunakan bukan terpatok pada jenis kendaraan, tapi pada kesadaran masing-masing anda sendiri. Jadi kalau memang ingin membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu beradaptasi untuk bisa lebih siap beradaptasi, bisa dimulai dengan mengurangi penggunaan segala macam barang yang bersubsidi. Terkait dengan isu ini ya kurangilah penggunaan BBM bersubsidi anda.
Satu hal lagi, ada komentar demikian mengenai para pengunjuk rasa "Saya mau liat smua org yg demo bbrp hari ni, jika bbm naik apakah mreka tdk akan menggunakan bbm untuk kendaraan mereka??". Menanggapi komentar seperti ini, saya lalu bertanya-tanya dalam hati "Sebetulnya orang ini paham atau tidak sih konsep rekan-rekan mahasiswa turun ke jalan?". Bukankah rekan-rekan mahasiswa ini turun ke jalan bukan hanya menyuasakan suara mereka sendiri, tapi lebih pada menyuarakan teriakan saudara-saudara kita yang memiliki kekuarang dalam hal kemampuan beradaptasi (kalau boleh meminjam istilah adaptasi). Sehingga kalau BBM naik, yang notabene harga-harga kebutuhan pokok pun akan ikut naik mengikuti harga transportasi umum yang juga akan melonjak, saudara-saudara kita yang seperti itu akan dihadapkan pada sebuah tekanan besar dan harus mengambil keputusan yang mungkin harus terpaksa mengorbankan beberapa hal penting dalam hidupnya, seperti sekolah anaknya, beberapa ekor ayamnya, atau bahkan kehilangan sepeda onthelnya yang setiap hari dijadikan alat transportasi untuk mencari nafkah. Menurut saya pribadi, ketika harga BBM ini naik, pengaruhnya tidak hanya akan dirasakan kita-kita ini yang menggunakan kendaraan bermotor, tapi yang paling parah merasakannya justru saudara-saudara kita yang bahkan beli BBM, punya kendaraan untuk dibelikan bensin pun tidak. Jadi jangan pernah berpikir bahwa rekan-rekan mahasiswa itu turun ke jalan hanya untuk diri mereka ataupun motor dan mobil milil mereka dan orang tua mereka. Tapi lebih kepada kepedulian pada saudara-saudara kita yang tidak pernah mengicipi nyamannya punya kendaraan dengan Bahan Bakar Minyak.
Masih menanggapi isu yang sama ada suara muncul demikian "lw udh bljr dr SD klo minyak bumi tuh SDA yg tdk bs d perbaharui?knp lw g mikir dr kecil bwt cr penggantinya?". Bukan saya tidak berniat mencari penggantinya, sejak kecil saya selalu tertarik dengan ulasan mengenai pengganti bahan bakar fosil. Tapi saya sendiri heran, kenapa teknologinya selalu terhenti dan tidak pernah diproduksi masal? Setelah saya pelajari, ternyata ada banyak sekali problema disini. Sebagai contoh adalah penciptaan biosolar dari minyak jarak. Solusi yang luar biasa, tapi ternyata untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sejumlah yang biasa kitta pakai, perlu jutaan hektar kebun jarak, sehingga bahan bakar ini menjadi sebuah utopia. Sementara di sisi lain juga adanya konflik kepentingan berbau politik yang dikeluarkan dari berbagai perusahaan energi di dunia, yang akan selalu menghalangi penciptaan bahan bakar alternatif. Sama seperti kepentingan perusahaan pembuat senjata, yang akan selalu berusaha memunculkan perang dan konflik, apapun yang terjadi. Jadi menjawab pertanyaan mengenai energi alternatif tersebut akan saya jawab "Saya sejak kecil selalu tertarik dengan isu ini, tapi mungkin karena keterbatasan intelegensi akhirnya saya tidak bisa masuk ke kelas ilmu pasti, hanya mampu di kelas sosial, jadi untuk masalah ini saya serahkan saja pada saudara-saudara saya yang ada di ranah ilmu pasti, sementara saya yang ada di ranah sosial akan melakukan perubahan melalui ranah sosial, dengan cara "mungkin" melakukan pendampingan dunia kerja untuk saudara-saudara saya yang kurang mampu beradaptasi, berjuang semampu saya memberi mereka peluang kerja dan terkadang kalau ada rejeki ya mungkin membantu mereka menyekolahkan anak-anaknya, sehingga impian keluarganya bisa tetap berjalan". Ya, mungkin sementara cuma itu yang bisa saya lakukan. Bagaimana dengan anda?
Salam kegerakan dan salam perubahan, tetap tersenyum, tetap berjuang, dang selalu peduli dengan sekitar anda.
Let's show that we care (tema Akrab Psikologi Univ. Sanata Dharma 2003)

Selasa, 28 Februari 2012

PERCINTAAN MAUT

Langkah kaki terayun gontai
Coba tuk terus berjalan ungkap hidup
enggan tuk lepas jiwa diri
Dalam megahnya arti hidup

Onggokan bangkai itu terus coba maju
tak peduli tubuh
yang penuh bercak kotoran dunia

Menengadah ke langit
tuk teriakkan lara tak tertahan
tapi langit tersenyum sinis
menatap seonggok tubuh
tak berdaya dalam cengkraman maut

Ketika dia berteriak pada bunda bumi
bumi membuangnya
membuatnya hilang dari abad-abad sejarah
hingga onggokan bangkai itu haya mampu berjalan
pelan, melayangkan kakinya
berat, dan terus melangkah,
melanjutkan percintaannya dengan kematian

Senin, 30 Januari 2012

RENUNGAN KARTU DOMINO

Beberapa waktu ini setiap pagi saya terbangun dengan harapan saya sedang bermimpi, bahkan ketika saya tidur sungguhan dan bermimpi, mimpi yang dulu saya anggap indah saat ini menjadi mimpi-mimpi yang menyesakkan saya ketika nanti bangun. Saking sesaknya, saya sendiri berharap realita ini adalah mimpi dan mimpi itu adalah realita.
Bukan bermaksud curhat ataupun sharing mengenai kesesakan saya. Disini saya hanya ingin sedikit berbagi renungan dengan teman-teman sekalian. Semuanya bermula dari beberapa waktu yang lalu, ketika saya melakukan sebuah kesalahan besar, yang memiliki sebuah dampak besar dalam hidup saya yang mengharuskan saya memilih, dan pada akhirnya saya memilih sebuah pilihan yang benar secara kognitif namun cukup "miring" secara afektif. Dimana pilihan saya ini akhirnya harus mengorbankan perasaan orang yang paling saya sayangi dan juga perasaan terdalam saya. Secara kognitif saya tidak memiliki beban apapun atas pilihan yang saya ambil ini, tapi secara perasaan ada banyak sekali orang yang dikorbankan termasuk orang yang paling saya sayangi. Dan semuanya itu bermula hanya karena sebuah tindakan yang salah, hanya sebuah "belokan sedikit tajam" dalam hidup, hanya sebuah hal yang biasa disebut orang sebagai sebuah kenakalan. Bahkan kalau boleh saya bilang adalah sebuah hal kecil dalam hidup yang begitu besar ini. Tapi efek yang saya rasakan dan yang orang lain rasakan sangatlah besar.
Kenapa bukan disebut "efek bola salju"? Bukan, karena permasalahan yang muncul tidak membesar, hanya saja berantai dan terus menerus. Karena itu maka disebut "efek domino", karena bersifat seperti kartu domino, yang dalam permainannya akan terus menerus berantai, sampai kartu yang di tangan pemain habis. Sama seperti pada hidup kita. Akan terus menerus dirasakan sampai hidup kita habis, dan bukan hanya itu, tapi efeknya juga akan bercabang-cabang, bukan hanya saya, tapi juga orang-orang yang saya sayangi dan orang yang paling saya sayangi dalam hidup saya.
Bercermin dari masalah saya yang memang tidak akan saya ceritakan disini, sedikit nasehat untuk teman-teman yang membaca. Ketika teman-teman hendak melakukan sesuatu, apalagi itu adalah "sesuatu yang salah" perhitungkanlah baik-baik apa yang akan teman-teman lakukan. Karena jika yang teman-teman lakukan itu adalah sebuah kesalahan, efeknya akan seperti yang saya rasakan, berantai, dan terus menerus, serta bercabang. Jangan pernah memandang bahwa sebuah kesalahan itu adalah sebuah kesalahan kecil. Karena seperti bola salju, kesalahan kecil jika berulang dan terus bergulir akan menjadi besar dan efeknya akan benar-benar mengerikan.
Hal ini saya ungkapkan karena seringkali dalam hidup kita, kita berpikir "ah tenang cuma beginian doang kok, kan ga ada yang tau". Percayalah teman, itu adalah pemikiran yang salah. Kesalahan adalah sebuah kesalahan dan pasti akan ada akibatnya. Bukan berarti saya mengajarkan mengenai karma ataupun hukum timbal balik. Tapi itulah yang terjadi pada saya, sebuah kesalahan yang saya sepelekan, berakhir pada sebuah penyesalan besar seumur hidup saya.
Bahkan mengubah pandangan besar saya, yang dulu pernah memiliki moto "jangan pernah menyesal, dan berbuat sebaik mungkin, sehingga jika sesuatu gagal maka kamu tidak akan menyesal". Tapi sekarang yang saya hadapi hanyalah sebuah penyesalan yang seumur hidup. Menyesal karena melakukan kesalahan ini, menyesal karena menyakiti perasaan orang yang paling saya sayangi dalam hidup saya, dan menyesal karena gagal menjalani hidup ini dengan baik.
Saya berbagi bukan karena saya ingin diperhatikan, tapi saya berbagi karena saya tidak ingin yang saya alami ini terjadi pada hidup teman-teman semua.
Mari menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai melakukan blunder, karena itu hanya berbuah penyesalan.

Salam.

Jumat, 06 Januari 2012

SI KAYA vs SI PAS-PASAN

Beberapa waktu lalu melihat rencan pemerintah untuk menghentikan penjualan BBM premium kepada kendaraan roda empat berplat hitam. Sebagai pengguna kendaraan roda dua dalam hati saya berpikir, syukurlah masih pake kendaraan bermotor roda dua. Menilik opini masyarakat mengenai hal tersebut, ternyata banyak sekali yang menentang kebijakan tersebut dengan berbagai alasan. Well, mengenai hal ini, secara pribadi, saya sendiri berikiran bahwa pembatasan penggunaan BBM premium, yang notabene adalah bahan bakar bersubsidi, adalah cukup masuk akal. Kenapa? Karena menurut saya ketika seseorang mampu membeli mobil, apalagi yang tahun pembuatannya 4 tahun ke bawah ini berarti orang tersebut termasuk dalam golongan orang-orang berkecukupan. Karena sekalipun second harga mobil itu pasti minimal 90an juta. Seharga 7 buah motor bebek kan? Dan sudah dapat dipastikan bahwa jika seseorang itu berkeluarga dan punya mobil pasti dia juga punya sepeda motor, sekalipun cuma satu unit yang dipakai oleh anaknya mungkin, atau digunakan oleh pembantunya untuk belanja. Dari situ saja sudah kelihatan bahwa ketika seseorang memiliki mobil -yang tahun pembuatannya tergolong baru- pasti adalah orang yang tergolong berkecukupan. Nah, menurut anda seharusnya orang tersebut mampu atau tidak untuk membeli bahan bakar yang non subsidi seperti pertamax, yang harganya dua kali lipat harga BBM bersubsidi? Menurut saya sebetulnya mereka mampu. Tapi apa kira-kira yang membuat mereka menolak kebijakan tersebut?
Sedikit beralih dari masalah BBM itu. Di Yogyakarta belakangan ini banyak dibangun rusunawa, yang mana target awalnya adalah orang-orang dengan taraf ekonomi menengah dan menengah ke bawah. Dengan harga sewa yang relatif sangat murah (sebelum diurus oleh calo-calo yang tidak bertanggung jawab-red). Namun dalam realisasinya ketika menilik parkiran rusunawa tersebut isinya adalah mobil-mobil buatan tahun-tahun terakhir ini, bahkan ada juga beberapa mobil mewah dengan plat nomer non AB.
Melihat dua fenomena tersebut saya sendiri jadi berpikir, apakah mentalitas orang Indonesia memang sudah tidak bisa menempatkan diri pada posisi yang seharusnya? Menggunakan fasilitas yang seharusnya tidak diperuntukkan untuk kalangannya. Seperti pada ketika ada bantuan untuk keluarga tidk mampu (pra sejahtera), keluarga yang tergolong mampu pun ikut mendaftarkan diri.
Sebetulnya akan menjadi hal yang layak ditertawakan sih. Atau mungkin memang karena sejak kecil kita sudah ditekankan menggunakan prinsip ekonomi? Dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil semaksimal mungkin?sehingga semua fasilitas murah dan bersubsidi yang tadinya diperuntukka untuk orang-orang yang kurang mampu akhirnya dilahap oleh orang-orang yang sebetulnya mampu untuk menggunakan fasilitas yang lebih mahal?
Mungkin saya berpikir seperti ini karena saya belum mampu untuk membeli mobil atau membeli sebuah flat di apartemen yang mahal ya? Sehingga saya bisa berpikir bahwa, memang seharusnya jika mampu membeli mobil (terutama yang tergolong baru) seharusnya juga mampu membeli BBM non subsidi, dan saya juga berpikir bahwa sebuah kesalahan ketika melihat rusunawa tersebut digunakan orang-orang yang tergolong orang mampu dan berkantong cukup tebal. Pemikiran selanjutnya mungkin hanya bisa saya serahkan kepada teman-teman yang membaca tulisan ini.

Salam,