Beberapa waktu lalu kita dihadapkan pada kondisi yang cukup panas, ketika petinggi-petinggi di negeri ini berniat menaikkan harga BBM premium demi melindungi dana APBN dan mengurangi hutang negara (katanya). Memang demo-demo itu sudah berlalu, seiring dengan ditundanya kenaikan harga BBM tersebut, tapi ada beberapa fenomena yang cukup menarik untuk disoroti dan mungkin dijadikan pelajaran ke depan.
Saya tidak tahu apakah rekan-rekan memperhatikan atau tidak, bahwa selama teman-teman mahasiswa melakukan demo. Banyak komentar miring yang dikeluarkan oleh rekan-rekan lain yang notabene sebetulnya juga tidak setuju dengan kenaikan harga BBM tersebut. Memang, pada beberapa kota demo diwarnai dengan kekerasan dan vandalisme. Tapi bukankah di beberapa kota lainnya demo dilakukan dengan damai? Saya sendiri tidak habis pikir mengenai hal ini, di saat rekan-rekan mahasiswa turun ke jalan meneriakkan tuntutan yang sebenarnya juga kita inginkan, tapi yang mereka dapatkan hanyalah cacian. Bukankah yang mereka teriak-teriakkan itu juga suara kita? Sekalipun saya sendiri tidak ikut aksi turun ke jalan, tapi saya bersyukur, setidaknya ada beberapa rekan saya yang berani, rela memberikan sedikit waktunya untuk langsung berhadapan dengan aparat, hanya demi dapat memaksa petinggi-petinggi negeri mengubah pikirannya.
Ada beberapa orang yang bilang "kenapa sih harus demo? Kan ada cara yang lebih pintar", pertanyaan tersebut bisa dengan mudah saya balikkan demikian "Apakah menurut anda, rekan-rekan mahasiswa itu sebelumnya tidak mengirimkan surat? Apakah mereka sebelumnya tidak menyuarakan permintaannya melalui jalur birokrasi yang diminta?". Saya yakin sudah, karena bagaimanapun dan di manapun aksi turun ke jalan adalah sebuah langkah akhir yang hanya akan dilakukan jika cara yang normal sudah tidak berhasil. Sehingga satu-satunya cara adalah aksi turun ke jalan dan melakukan protes radikal.
Ada juga beberapa rekan yang mengungkapkan ketidak setujuan mereka mengenai aksi anarki dan vandalisme yang terjadi pada saat demo berlangsung. Saya sendiri pun tidak setuju dengan hal tersebut. Tapi bukankah itu terjadi hanya di beberapa titik tertentu? Yang kalau mau diperhatikan di beberapa media, hal tersebut juga dipicu karena kemunculan provokator? Jadi kesimpulannya adalah, bukankah tidak semua rekan mahasiswa berotak anarki? Yah mungkin kita perlu menganggap bahwa rekan-rekan yang melakukan anarki tersebut adalah mahasiswa ndeso, yang tidak paham bagaimana cara berorasi dan menyampaikan suaranya dengan cantik.
Jadi menurut saya sebetulnya kita tidak pantas menghina dan mencaci rekan-rekan mahasiswa yang turun ke jalan tersebut, hanya karena mereka melakukannya dengan radikal, dan terkadang merepotkan kita dengan menyebabkan macet. Karena bagaimanapun untuk melakukan sebuah perubahan mereka harus sedikit menyentil penguasa dengan berbagai cara. Cara paling damai ya dengan melakukan long march ke gedung penguasa terdekat. Dimana jika hal itu terjadi, otomatis jalanan akan sedikit dipenuhi oleh pengunjuk rasa dan hal tersebut akan menyebabkan sedikit kemacetan. Jalan keluarnya, cobalah cari jalur alternatif. Sekali lagi, jangan caci maki mereka selama mereka melakukannya dengan tertib dan bebas dari anarki, karena bagaimanapun yang mereka teriakkan adalah suara kita.
Masih terkait dengan isu kenaikan BBM ini. Seorang teman pada salah satu akun jejaring sosial menuliskan "Wahai wakil rakyat alias pelayan rakyat, tuan kalian yaitu rakyat Indonesia tidak akan ribut sampe spt ini jika BBM naik. Semua manusia pny cara menyesuaikan diri dg situasi, sehingga mungkin di hari2 pertama akan sulit, tapi berujung akan diterima". Menanggapi status demikian saya sendiri beropini, BENAR setiap orang pada akhirnya akan menerima kenaikan BBM tersebut dan tetap akan membeli berapapun harganya. Tapi menerima yang seperti apa? Karena kalau yang saya dapati di lapangan yang terjadi adalah sebuah penerimaan yang terpaksa. Bahkan lebih tepat disebut sebuah sikap menerima yang dimunculkan oleh pesimisitas terhadap pemerintah. Pesimis, karena berapa kali pun berteriak tidak akan mengubah kondisi, kondisi ini lebih tepat disamakan dengan seorang bapak yang mendapati anaknya akan menikah dengan orang yang sama sekali tidak diharapkan. Setelah menikah sekalipun harus melihat anaknya menderita dalam rumah tangganya, tapi apa mau dikata, bagaimanapun juga tetap harus memberikan suport kepada anaknya dan keluarganya. Jadi sama sekali jauh dari sikap menerima.
Selain itu mengenai menerima dan menyesuaikan diri pada keadaan yang berubah drastis. Ada pandangan bahwa setiap orang akan dapat beradaptasi. Memang setiap orang pada akhirnya akan beradaptasi pada kondisi yang ada. Tapi bagaimanapun juga kemampuan adaptasi setiap orang akan berbeda-beda. Ada yang tingga mencari penghasilan tambahan sudah cukup, ada yang tinggal memotong anggaran sudah cukup. Tapi bagaimana yang terjadi pada saudara kita yang belum juga mampu beradaptasi, eh kondisinya sudah tambah memburuk? Tindakan nyata apa yang akan kita ambil? Mengingat tekanan hidup mereka itu juga sebagian adalah salah kita.
Meenanggapi hal di atas, menurut rekan-rekan semua alasan apa sih yang pada akhirnya menyebabkan BBM bersubsidi menjadi sorotan? Menurut saya, salah satunya adalah tingginya permintaan atas BBM bersubsidi. Sementara dana yang digunakan untuk menyokong produksinya terbatas. Sehingga seperti teori supply-demand akhirnya munculah pemikiran untuk menaikkan harga. Lalu bagaimana cara supaya hal tersebut bisa diredam? salah satu caranya adalah dengan mengurangi penggunaan BBM bersubsidi. Karena memang BBM bersubsidi itu dikhususkan untuk orang-orang yang kurang mampu. Bukan mengenai jenis kendaraan yang rekan-rekan gunakan, tapi lebih pada kemampuan daya beli saudara. Lagipula kecuali kendaraan yang rekan-rekan gunakan berasal dari era 80an mundur, saya pikir pengisian tangki dengan menggunakan BBM non subsidi tidak akan menimbulkan masalah bagi tangki maupun saluran bahan bakarnya. Lagipula penggunaan BBM dengan oktan lebih tinggi dan timbal lebih rendah akan lebih membawa kita pada konsep "green energy". Sekalipun bagaimanapun juga energi fosil tidak akan pernah menjadi green energy. Jadi sekali lagi jenis BBM mana yang anda gunakan bukan terpatok pada jenis kendaraan, tapi pada kesadaran masing-masing anda sendiri. Jadi kalau memang ingin membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu beradaptasi untuk bisa lebih siap beradaptasi, bisa dimulai dengan mengurangi penggunaan segala macam barang yang bersubsidi. Terkait dengan isu ini ya kurangilah penggunaan BBM bersubsidi anda.
Satu hal lagi, ada komentar demikian mengenai para pengunjuk rasa "Saya mau liat smua org yg demo bbrp hari ni, jika bbm naik apakah mreka tdk akan menggunakan bbm untuk kendaraan mereka??". Menanggapi komentar seperti ini, saya lalu bertanya-tanya dalam hati "Sebetulnya orang ini paham atau tidak sih konsep rekan-rekan mahasiswa turun ke jalan?". Bukankah rekan-rekan mahasiswa ini turun ke jalan bukan hanya menyuasakan suara mereka sendiri, tapi lebih pada menyuarakan teriakan saudara-saudara kita yang memiliki kekuarang dalam hal kemampuan beradaptasi (kalau boleh meminjam istilah adaptasi). Sehingga kalau BBM naik, yang notabene harga-harga kebutuhan pokok pun akan ikut naik mengikuti harga transportasi umum yang juga akan melonjak, saudara-saudara kita yang seperti itu akan dihadapkan pada sebuah tekanan besar dan harus mengambil keputusan yang mungkin harus terpaksa mengorbankan beberapa hal penting dalam hidupnya, seperti sekolah anaknya, beberapa ekor ayamnya, atau bahkan kehilangan sepeda onthelnya yang setiap hari dijadikan alat transportasi untuk mencari nafkah. Menurut saya pribadi, ketika harga BBM ini naik, pengaruhnya tidak hanya akan dirasakan kita-kita ini yang menggunakan kendaraan bermotor, tapi yang paling parah merasakannya justru saudara-saudara kita yang bahkan beli BBM, punya kendaraan untuk dibelikan bensin pun tidak. Jadi jangan pernah berpikir bahwa rekan-rekan mahasiswa itu turun ke jalan hanya untuk diri mereka ataupun motor dan mobil milil mereka dan orang tua mereka. Tapi lebih kepada kepedulian pada saudara-saudara kita yang tidak pernah mengicipi nyamannya punya kendaraan dengan Bahan Bakar Minyak.
Masih menanggapi isu yang sama ada suara muncul demikian "lw udh bljr dr SD klo minyak bumi tuh SDA yg tdk bs d perbaharui?knp lw g mikir dr kecil bwt cr penggantinya?". Bukan saya tidak berniat mencari penggantinya, sejak kecil saya selalu tertarik dengan ulasan mengenai pengganti bahan bakar fosil. Tapi saya sendiri heran, kenapa teknologinya selalu terhenti dan tidak pernah diproduksi masal? Setelah saya pelajari, ternyata ada banyak sekali problema disini. Sebagai contoh adalah penciptaan biosolar dari minyak jarak. Solusi yang luar biasa, tapi ternyata untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sejumlah yang biasa kitta pakai, perlu jutaan hektar kebun jarak, sehingga bahan bakar ini menjadi sebuah utopia. Sementara di sisi lain juga adanya konflik kepentingan berbau politik yang dikeluarkan dari berbagai perusahaan energi di dunia, yang akan selalu menghalangi penciptaan bahan bakar alternatif. Sama seperti kepentingan perusahaan pembuat senjata, yang akan selalu berusaha memunculkan perang dan konflik, apapun yang terjadi. Jadi menjawab pertanyaan mengenai energi alternatif tersebut akan saya jawab "Saya sejak kecil selalu tertarik dengan isu ini, tapi mungkin karena keterbatasan intelegensi akhirnya saya tidak bisa masuk ke kelas ilmu pasti, hanya mampu di kelas sosial, jadi untuk masalah ini saya serahkan saja pada saudara-saudara saya yang ada di ranah ilmu pasti, sementara saya yang ada di ranah sosial akan melakukan perubahan melalui ranah sosial, dengan cara "mungkin" melakukan pendampingan dunia kerja untuk saudara-saudara saya yang kurang mampu beradaptasi, berjuang semampu saya memberi mereka peluang kerja dan terkadang kalau ada rejeki ya mungkin membantu mereka menyekolahkan anak-anaknya, sehingga impian keluarganya bisa tetap berjalan". Ya, mungkin sementara cuma itu yang bisa saya lakukan. Bagaimana dengan anda?
Salam kegerakan dan salam perubahan, tetap tersenyum, tetap berjuang, dang selalu peduli dengan sekitar anda.
Let's show that we care (tema Akrab Psikologi Univ. Sanata Dharma 2003)