Senin, 30 Januari 2012

RENUNGAN KARTU DOMINO

Beberapa waktu ini setiap pagi saya terbangun dengan harapan saya sedang bermimpi, bahkan ketika saya tidur sungguhan dan bermimpi, mimpi yang dulu saya anggap indah saat ini menjadi mimpi-mimpi yang menyesakkan saya ketika nanti bangun. Saking sesaknya, saya sendiri berharap realita ini adalah mimpi dan mimpi itu adalah realita.
Bukan bermaksud curhat ataupun sharing mengenai kesesakan saya. Disini saya hanya ingin sedikit berbagi renungan dengan teman-teman sekalian. Semuanya bermula dari beberapa waktu yang lalu, ketika saya melakukan sebuah kesalahan besar, yang memiliki sebuah dampak besar dalam hidup saya yang mengharuskan saya memilih, dan pada akhirnya saya memilih sebuah pilihan yang benar secara kognitif namun cukup "miring" secara afektif. Dimana pilihan saya ini akhirnya harus mengorbankan perasaan orang yang paling saya sayangi dan juga perasaan terdalam saya. Secara kognitif saya tidak memiliki beban apapun atas pilihan yang saya ambil ini, tapi secara perasaan ada banyak sekali orang yang dikorbankan termasuk orang yang paling saya sayangi. Dan semuanya itu bermula hanya karena sebuah tindakan yang salah, hanya sebuah "belokan sedikit tajam" dalam hidup, hanya sebuah hal yang biasa disebut orang sebagai sebuah kenakalan. Bahkan kalau boleh saya bilang adalah sebuah hal kecil dalam hidup yang begitu besar ini. Tapi efek yang saya rasakan dan yang orang lain rasakan sangatlah besar.
Kenapa bukan disebut "efek bola salju"? Bukan, karena permasalahan yang muncul tidak membesar, hanya saja berantai dan terus menerus. Karena itu maka disebut "efek domino", karena bersifat seperti kartu domino, yang dalam permainannya akan terus menerus berantai, sampai kartu yang di tangan pemain habis. Sama seperti pada hidup kita. Akan terus menerus dirasakan sampai hidup kita habis, dan bukan hanya itu, tapi efeknya juga akan bercabang-cabang, bukan hanya saya, tapi juga orang-orang yang saya sayangi dan orang yang paling saya sayangi dalam hidup saya.
Bercermin dari masalah saya yang memang tidak akan saya ceritakan disini, sedikit nasehat untuk teman-teman yang membaca. Ketika teman-teman hendak melakukan sesuatu, apalagi itu adalah "sesuatu yang salah" perhitungkanlah baik-baik apa yang akan teman-teman lakukan. Karena jika yang teman-teman lakukan itu adalah sebuah kesalahan, efeknya akan seperti yang saya rasakan, berantai, dan terus menerus, serta bercabang. Jangan pernah memandang bahwa sebuah kesalahan itu adalah sebuah kesalahan kecil. Karena seperti bola salju, kesalahan kecil jika berulang dan terus bergulir akan menjadi besar dan efeknya akan benar-benar mengerikan.
Hal ini saya ungkapkan karena seringkali dalam hidup kita, kita berpikir "ah tenang cuma beginian doang kok, kan ga ada yang tau". Percayalah teman, itu adalah pemikiran yang salah. Kesalahan adalah sebuah kesalahan dan pasti akan ada akibatnya. Bukan berarti saya mengajarkan mengenai karma ataupun hukum timbal balik. Tapi itulah yang terjadi pada saya, sebuah kesalahan yang saya sepelekan, berakhir pada sebuah penyesalan besar seumur hidup saya.
Bahkan mengubah pandangan besar saya, yang dulu pernah memiliki moto "jangan pernah menyesal, dan berbuat sebaik mungkin, sehingga jika sesuatu gagal maka kamu tidak akan menyesal". Tapi sekarang yang saya hadapi hanyalah sebuah penyesalan yang seumur hidup. Menyesal karena melakukan kesalahan ini, menyesal karena menyakiti perasaan orang yang paling saya sayangi dalam hidup saya, dan menyesal karena gagal menjalani hidup ini dengan baik.
Saya berbagi bukan karena saya ingin diperhatikan, tapi saya berbagi karena saya tidak ingin yang saya alami ini terjadi pada hidup teman-teman semua.
Mari menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai melakukan blunder, karena itu hanya berbuah penyesalan.

Salam.

Jumat, 06 Januari 2012

SI KAYA vs SI PAS-PASAN

Beberapa waktu lalu melihat rencan pemerintah untuk menghentikan penjualan BBM premium kepada kendaraan roda empat berplat hitam. Sebagai pengguna kendaraan roda dua dalam hati saya berpikir, syukurlah masih pake kendaraan bermotor roda dua. Menilik opini masyarakat mengenai hal tersebut, ternyata banyak sekali yang menentang kebijakan tersebut dengan berbagai alasan. Well, mengenai hal ini, secara pribadi, saya sendiri berikiran bahwa pembatasan penggunaan BBM premium, yang notabene adalah bahan bakar bersubsidi, adalah cukup masuk akal. Kenapa? Karena menurut saya ketika seseorang mampu membeli mobil, apalagi yang tahun pembuatannya 4 tahun ke bawah ini berarti orang tersebut termasuk dalam golongan orang-orang berkecukupan. Karena sekalipun second harga mobil itu pasti minimal 90an juta. Seharga 7 buah motor bebek kan? Dan sudah dapat dipastikan bahwa jika seseorang itu berkeluarga dan punya mobil pasti dia juga punya sepeda motor, sekalipun cuma satu unit yang dipakai oleh anaknya mungkin, atau digunakan oleh pembantunya untuk belanja. Dari situ saja sudah kelihatan bahwa ketika seseorang memiliki mobil -yang tahun pembuatannya tergolong baru- pasti adalah orang yang tergolong berkecukupan. Nah, menurut anda seharusnya orang tersebut mampu atau tidak untuk membeli bahan bakar yang non subsidi seperti pertamax, yang harganya dua kali lipat harga BBM bersubsidi? Menurut saya sebetulnya mereka mampu. Tapi apa kira-kira yang membuat mereka menolak kebijakan tersebut?
Sedikit beralih dari masalah BBM itu. Di Yogyakarta belakangan ini banyak dibangun rusunawa, yang mana target awalnya adalah orang-orang dengan taraf ekonomi menengah dan menengah ke bawah. Dengan harga sewa yang relatif sangat murah (sebelum diurus oleh calo-calo yang tidak bertanggung jawab-red). Namun dalam realisasinya ketika menilik parkiran rusunawa tersebut isinya adalah mobil-mobil buatan tahun-tahun terakhir ini, bahkan ada juga beberapa mobil mewah dengan plat nomer non AB.
Melihat dua fenomena tersebut saya sendiri jadi berpikir, apakah mentalitas orang Indonesia memang sudah tidak bisa menempatkan diri pada posisi yang seharusnya? Menggunakan fasilitas yang seharusnya tidak diperuntukkan untuk kalangannya. Seperti pada ketika ada bantuan untuk keluarga tidk mampu (pra sejahtera), keluarga yang tergolong mampu pun ikut mendaftarkan diri.
Sebetulnya akan menjadi hal yang layak ditertawakan sih. Atau mungkin memang karena sejak kecil kita sudah ditekankan menggunakan prinsip ekonomi? Dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil semaksimal mungkin?sehingga semua fasilitas murah dan bersubsidi yang tadinya diperuntukka untuk orang-orang yang kurang mampu akhirnya dilahap oleh orang-orang yang sebetulnya mampu untuk menggunakan fasilitas yang lebih mahal?
Mungkin saya berpikir seperti ini karena saya belum mampu untuk membeli mobil atau membeli sebuah flat di apartemen yang mahal ya? Sehingga saya bisa berpikir bahwa, memang seharusnya jika mampu membeli mobil (terutama yang tergolong baru) seharusnya juga mampu membeli BBM non subsidi, dan saya juga berpikir bahwa sebuah kesalahan ketika melihat rusunawa tersebut digunakan orang-orang yang tergolong orang mampu dan berkantong cukup tebal. Pemikiran selanjutnya mungkin hanya bisa saya serahkan kepada teman-teman yang membaca tulisan ini.

Salam,