Beberapa waktu lalu melihat rencan pemerintah untuk menghentikan penjualan BBM premium kepada kendaraan roda empat berplat hitam. Sebagai pengguna kendaraan roda dua dalam hati saya berpikir, syukurlah masih pake kendaraan bermotor roda dua. Menilik opini masyarakat mengenai hal tersebut, ternyata banyak sekali yang menentang kebijakan tersebut dengan berbagai alasan. Well, mengenai hal ini, secara pribadi, saya sendiri berikiran bahwa pembatasan penggunaan BBM premium, yang notabene adalah bahan bakar bersubsidi, adalah cukup masuk akal. Kenapa? Karena menurut saya ketika seseorang mampu membeli mobil, apalagi yang tahun pembuatannya 4 tahun ke bawah ini berarti orang tersebut termasuk dalam golongan orang-orang berkecukupan. Karena sekalipun second harga mobil itu pasti minimal 90an juta. Seharga 7 buah motor bebek kan? Dan sudah dapat dipastikan bahwa jika seseorang itu berkeluarga dan punya mobil pasti dia juga punya sepeda motor, sekalipun cuma satu unit yang dipakai oleh anaknya mungkin, atau digunakan oleh pembantunya untuk belanja. Dari situ saja sudah kelihatan bahwa ketika seseorang memiliki mobil -yang tahun pembuatannya tergolong baru- pasti adalah orang yang tergolong berkecukupan. Nah, menurut anda seharusnya orang tersebut mampu atau tidak untuk membeli bahan bakar yang non subsidi seperti pertamax, yang harganya dua kali lipat harga BBM bersubsidi? Menurut saya sebetulnya mereka mampu. Tapi apa kira-kira yang membuat mereka menolak kebijakan tersebut?
Sedikit beralih dari masalah BBM itu. Di Yogyakarta belakangan ini banyak dibangun rusunawa, yang mana target awalnya adalah orang-orang dengan taraf ekonomi menengah dan menengah ke bawah. Dengan harga sewa yang relatif sangat murah (sebelum diurus oleh calo-calo yang tidak bertanggung jawab-red). Namun dalam realisasinya ketika menilik parkiran rusunawa tersebut isinya adalah mobil-mobil buatan tahun-tahun terakhir ini, bahkan ada juga beberapa mobil mewah dengan plat nomer non AB.
Melihat dua fenomena tersebut saya sendiri jadi berpikir, apakah mentalitas orang Indonesia memang sudah tidak bisa menempatkan diri pada posisi yang seharusnya? Menggunakan fasilitas yang seharusnya tidak diperuntukkan untuk kalangannya. Seperti pada ketika ada bantuan untuk keluarga tidk mampu (pra sejahtera), keluarga yang tergolong mampu pun ikut mendaftarkan diri.
Sebetulnya akan menjadi hal yang layak ditertawakan sih. Atau mungkin memang karena sejak kecil kita sudah ditekankan menggunakan prinsip ekonomi? Dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil semaksimal mungkin?sehingga semua fasilitas murah dan bersubsidi yang tadinya diperuntukka untuk orang-orang yang kurang mampu akhirnya dilahap oleh orang-orang yang sebetulnya mampu untuk menggunakan fasilitas yang lebih mahal?
Mungkin saya berpikir seperti ini karena saya belum mampu untuk membeli mobil atau membeli sebuah flat di apartemen yang mahal ya? Sehingga saya bisa berpikir bahwa, memang seharusnya jika mampu membeli mobil (terutama yang tergolong baru) seharusnya juga mampu membeli BBM non subsidi, dan saya juga berpikir bahwa sebuah kesalahan ketika melihat rusunawa tersebut digunakan orang-orang yang tergolong orang mampu dan berkantong cukup tebal. Pemikiran selanjutnya mungkin hanya bisa saya serahkan kepada teman-teman yang membaca tulisan ini.
Salam,
Salam,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar