Jumat, 21 Oktober 2011

RENUNGAN MATA UANG

Setiap kali melihat pertandingan sepak bola, untuk mengundi siap dapat bola pertama wasit pasti akan melempar koin dan ketika koin jatuh, tim yang memiliki sisi koin yang menghadap ke atas berhak mendapatkan bola pertama.
Bagaimanapun kita semua tahu koin memiliki dua sisi, dan ketika koin itu dilempar lalu jatuh pasti yang tampak hanyalah satu sisi, entah itu sisi yang diharapkan ataupun yang tidak diharapkan. Tidak akan pernah terjadi dua sisi muncul secara bersamaan, bisa terjadi dengan kemungkinan kecil koin akan berdiri di tengah - tapi sangat kecil-.
Hidup ini pun seperti halnya koin, segala sesuatu penuh pilihan dan setiap pilihan pasti memiliki dua sisi, entah itu tindakan yang dipandang baik ataupun tindakan yang dipandang buruk. Seperti halnya seorang pencuri jemuran, sekalipun banyak orang yang memandang itu sebagai sebuah tindakan kriminal yang jahat, tapi terkadang kalau kita mau membalik koin yang dimiliki si maling ini yang kita temukan adalah sebuah kisah menyedihkan.
Sebuah cerita pernah diceritakan oleh bapak saya, mengenai seorang pencuri sepeda, yang pernah mencuri sepeda milik bapak saya. Setelah beberapa hari kemudia si pencuri itu kembali dengan membawa sepeda dikarenakan setelah mencuri sepeda anaknya demam tinggi dan sempat kejang-kejang. Berhubung jaman itu masyarakat masih sangat percaya klenik, si pencuri berpikir bahwa demam anaknya diakibatkan oleh "sesuatu" yang dikirim kakek saya karena sepeda anaknya dicuri.
Ketika si pencuri ini datang mengembalikan sepeda sambil menangis, kakek saya menanyakan, "kenapa maling sepeda" dan dijawab untuk makan keluarga. Nah, saat itu yang dilakukan kakek saya adalah, memberikan sepedanya ditambah dengan uang untuk berobat dan sedikit uang untuk biaya hidup keluarga selama beberapa hari.
Dikaitkan dengan keping uang tadi. Seringkali yang kita lihat dari tindakan orang lain yang mana tindakan itu merugikan hanyalah memberikan cap bahwa orang tersebut jahat, dan tindakannya menimbulkan kerugian serta rasa sakit bagi korban. Tapi kita sendiri jarang mau mencoba membalik koin yang dimiliki pelaku. Memang semua perbuatan negatif pasti memiliki hasil negatif, tapi bagaimana jika memang sudah tidak ada kesempatan lain atau pilihan lain yang bisa dipilih selain berbuat jahat? Atau bagaimana jika menyakiti dan berbuat jahat memang adalah pilihan terbaik yang dimiliki orang tersebut karena alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam hidupnya?
Bahkan seringkali dalam perbuatan baik seseorang, jika kita membalik koin yang dimiliki orang tersebut kita juga akan menemukan sisi koin yang buruk bahkan cacat. Contohnya adalah ketika kita melihat banyak orang yang bisa menyumbang uang, berderma, dan lain sebagainya, yang jika dilihat sisi koin yang tampak ke atas, perbuatan tersebut adalah perbuatan yang sangat mulia. Tapi mungkin jika kita balik koin orang tersebut, yang kita temukan adalah sebuah korupsi besar-besaran yang dilakukan dengan mengambil hak orang lain.
Yang mau saya sampaikan di sini melalui cerita-cerita tersebut adalah, jangan terlalu cepat menghakimi orang, apapun yang dilakukannya, sesakit apapun orang itu menyakitimu. Jangan cuma lihat sisi koin yang tampak, tapi cobalah baliklah sisi koin yang tidak tampak itu, mungkin kita akan melihat sebuah kisah yang cukup menarik tentang latar belakang tindakan orang tersebut.
Satu hal lagi, sekedar mengingatkan bahwa penghakiman bukanlah hak manusia. Jadi mari kita jangan pernah malas membalik setiap koin yang kita temui.

Selamat menikmati hari ini, Tuhan memberkati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar