Sabtu, 06 Oktober 2018

YOGYAKARTA (TIDAK) BERHATI NYAMAN - 1

Mungkin bagi teman-teman yang pernah merasakan tinggal di Jogja, baik kost ataupun memang asli Jogja, sekitar 15 tahun yang lalu pernah merasakan betapa ramahnya Jogja. Misal nih, yang namanya anak kost kan duit pasti mepet ya, kita cari makan dengan menu, porsi, dan rasa memadai masih banyak warung yang menyediakan dengan harga Rp2500.Saat itu UMP di DIY Rp400.000, dan rata-rata harga kost masih Rp100.000. Sehingga untuk kost dan makan 90x/bulan hanya membutuhkan  Rp325.000, sisanya, untuk level pekerja kelas bawah, masih ada yang bisa dikirim untuk orang tua di desa.
Tapi pernahkan terpikir untuk saat ini apakah Jogja masih ramah untuk orang-orang yang betul-betul asli Jogja, maupun orang-orang yang memilih untuk mengadu nasib di kota kecil yang pelan-pelan berubah menggendut ini?
Saat ini (2018) UMP untuk provisi DIY sebesar Rp1.454.154,15. Sementar untuk UMK terbagi sebagai berikut, Kota Yogyakarta Rp1.709.150, Kabupaten Sleman Rp1.574.550, Kabupaten Bantul Rp1.572.150, Kabupaten Kulonprogo Rp1.493.250, dan Kabupaten Gunung Kidul Rp1.454.200. Secara persentase memang kenaikannya cukup tinggi dibanding 15 tahun yang lalu, sekitar 350%. Tapi jika bercermin dari kebutuhan hidup, angka penghasilan tersebut akan terlihat kecil.
Mari kita coba hitung pengeluaran hidup single di seputaran DIY yang memiliki UMP Rp1.454.154 tersebut. Kenapa disini saya menggunakan UMP DIY, bukan UMK Kota Yogyakarta yang lebih tinggi? Karena memang sebagian besar perusahaan, sekalipun berdiri di tengah Kota Yogyakarta menggunakan standar UMP untuk pengupahan karyawannya. Hal tersebut dilakukan karena memang dianggap sebagai penghematan bagi perusahaan. Untuk pemerintah, mungkin kedepannya harus mulai memikirkan untuk menetapkan besaran UMP lebih besar dari UMK, supaya tidak ada pekerja yang dirugikan.
OK, kita kembali pada percobaan hitungan pengeluaran untuk pekerja yang hidup sendiri a.k.a single. Saat ini, untuk biaya kos di tengah Kota Yogyakarta, untuk kamar yang sederhana dan layak huni sudah ada di kisaran Rp400.000/bulan. Itu belum termasuk listrik jika si pemondok membawa unit televisi/laptop/dispenser panas dingin/rice cooker, yang biasanya per unit akan dibebani biaya listrik Rp50.000/bulan, jadi kita hitung saja sebesar Rp450.000/bulan. Untuk makan harian di tempat makan yang menyediakan makanan dengan porsi, kebersihan, dan rasa yang layak per porsi akan dipatok sekitar Rp12.000, itupun minumnya air putih. Jadi setiap hari si pekerja tersebut akan mengeluarkan dana sebesar Rp36.000 untuk makan, dan mungkin kita tambahkan Rp6.000 lagi untuk uang kopi. Sehingga pengeluaran konsumsi kita patok Rp42.000/hari, sehingga untuk satu bulan dia akan menghabiskan Rp.1.260.000. Jika biaya konsumsi tersebut kita tambahkan uang kos tersebut total akan menjadi Rp1.660.000.
Angka pengeluaran bulanan tersebut sudah ada di atas UMP Prov.DIY. Jadi apakah masih berpikir bahwa Yogyakarta masih menjadi kota yang ramah?
Saya sendiri pernah memiliki rekan kerja ber-upah standar yang demi bisa menabung dan membeli rokok setidaknya dia terpaksa berpuasa 3-4 kali seminggu, supaya bisa mengurangi jatah pengeluaran untuk makannya.
Sedikit tambahan, hitungan tadi masih dihitung untuk pekerja yang hidup sendiri, dan belum memiliki tanggungan. Memang ketika berkeluarga, dimana si suami dan istri sama-sama bekerja maka penghasilan akan berlipat, dan untuk konsumsi harian bisa dihemat dengan memasak makanan di rumah. Tapi bukankah ketika sudah mulai punya anak, pengeluaran tambahan akan membengkak lagi? Lagipula, ketika kedua orang tua bekerja, dan si anak dititipkan asisten rumah tangga ataupun salah satu keluarga nantinya aka muncul satu masalah lagi, dimana perkembangan anak secara emosional ataupun sikap akan sedikit melenceng dari standar yang ditetapkan orang tuanya (yang ini saya alami sendiri). Tapi faktor seperti ini kita kesampingkan dari pembicaraan kali ini supaya tidak menambah permasalahannya. Hanya sebatas pada pengeluaran tambahan untuk anak itu saja.
Jadi, apakah masih berpikir bahwa Yogyakarta itu adalah kota yang ramah hai kita kita yang asli lahir, tinggal, dan berpenghasilan di Yogyakarta ini (karena akan berbeda jika anda orang asal DIY tapi bekerja di Jakarta)??

Salam