Senin, 15 April 2013

YOGYAKARTA - (bebas) PREMANISME - eps. Parkir

Beberapa waktu ini kota Yogyakarta dipanaskan dengan kasus preman yang dieksekusi diluar jalur hukum di LP Cebongan, Sleman oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab dari kesatuan Kopasus. Selang beberapa waktu setelah kejadian itu, mulai banyak bertebaran spanduk-spanduk maupun poster-poster yang menyuarakan Yogyakarta bebas premanisme. 
Benarkah kota Yogyakarta tercinta ini tidak setuju dengan premanisme? Karena saya sendiri, secara pribadi berpandangan bahwa Kota Yogyakarta ini sebetulnya malah mengizinkan premanisme berkembang luas seperti jamur.
Dulu waktu saya masih jauh lebih muda dibanding saat ini, saya ingat adanya iklan berbentuk baliho dari pemerintah yang mengatakan bahwa membayar parkir motor/mobil itu bukan membayar penitipan namun membayar retribusi, yang mana nantinya akan masuk ke dinas pendapatan daerah. Dimasukkan dalam retribusi karena parkiran yang biasanya di pinggir jalan itu menggunakan badan jalan, fasilitas yang seharusnya milik publik, sama seperti pedagang kaki lima. Berbeda dengan parkiran mall, rumah sakit, atau toko-toko yang memiliki parkiran sendiri di bagian dalam gedungnya. Mereka tidak diharuskan membayar retribusi parkir karena tidak menggunakan fasilitas publik.

Menilik pada iklan pada masa lampau tersebut, saya lalu berpikir demikian, "dulu jika kita parkir, kita akan selalu diberi karcis parkir, sementara saat ini jangankan diberi dengan kesadaran tukang parkirnya, diminta saja belum tentu ada". Nah, sudah kelihatan kan bedanya? Perbedaan parkir dulu dan sekarang adalah ada pada karcisnya. Tahukah anda apa fungsi karcis parkir? Fungsi karcis parkir adalah tanda bahwa anda, pengguna jasa parkir, sudah membayar retribusi pada negara yang nantinya akan masuk ke dinas pendapatan daerah. Jadi pada jaman dulu si tukang parkir itu harus membeli "gepokan" karcis parkir tersebut ke dinas terkait, sehingga saya secara pribadi bisa memasukkan tukang parkir ini sebagai pedagang jasa. Seorang pekerja yang digunakan dinas pendapatan daerah untuk memastikan bahwa kita, orang yang menggunakan fasilitas publik, membayar retribusi daerah.

Lepas dari masa lalu, saat ini yang saya lihat dari tukang parkir adalah sosok preman yang mendapatkan uang dari "pungli". Kenapa saya bisa berpikir seperti ini? Mari kita lihat.
Yang pertama, saya punya banyak teman tukang parkir, yang akhirnya dari cerita mereka saya tahu bahwa untuk menjadi tukang parkir di daerah tertentu anda harus membayar kepada "pemilik" tempat itu. Dengan kata lain "mengontrak" tempat kepada seseorang yang sebetulnya bukan pemilik pinggiran jalan tempat anda parkir.
Yang kedua, pernahkah anda diberi karcis parkir? Saya rasa tidak, kecuali anda meminta. Bahkan saya pernah harus memaksa demi diberi karcis parkir, yang itu pun hanya separuh dan saya yakin separuhnya nanti akan diberikan lagi ke orang lain yang meminta. Itu sudah cukup menjadi bukti bahwa kita sudah tidak membayar parkir sebagai retribusi lagi, tetapi sebagai sewa tempat meletakkan kendaraan di wilayah si tukang parkir.
Yang ketiga, pada kejadian kedua masih masuk akal jika si tukang parkir tersebut membantu kita mengeluarkan motor dari tempatnya, atau membantu kita memberi aba-aba untuk memasukkan/mengeluarkan mobil kita dari tempat parkirnya. Pernahkah anda mengalami, ketika datang harus memasukkan motor/mobil sendiri pada tempatnya, ketika pulang anda harus bersusah payah mengeluarkan motor dari tempat parkir yang berdempetan, atau mengeluarkan mobil di jalan yang rame dan macet. Lalu setelah itu tiba-tiba ada sosok berpakaian oranye berdiri 10m dari tempat anda sambil menyorongkan tangan meminta uang parkir? Saya rasa setiap kita pasti pernah.

Tiga bukti, saya rasa cukup. Mulai dari adanya satu atau dua orang, atau bahkan golongan yang menguasai sebuah tempat, yang lalu menyewakannya kepada orang yang mau menjadi tukang parkir di wilayah tersebut sudah menunjukkan adanya kegiatan premanisme. Dari adanya tekanan sewa tempat tersebut menjadikan si tukang parkir sudah tidak mempu lagi membeli "gepokan" karcis parkir dari dinas pendapatan daerah, atau mungkin membeli tapi tidak dalam jumlah yang memadai, dan hanya digunakan jika diminta, sehingga jika kita parkir dia hanya akan menerima uang tanpa harus menyalurkannya ke dinas terkait dengan cara membeli "gepokan" karcis itu sudah merujuk pada kegiatan pungli yang terkait premanisme. Karena merasa mudah mendapatkan uang, sebagian tukang parkir lalu menjadi malas dan merasa bahwa membayar parkir sudah menjadi kewajiban kita, memang kewajiban jika si tukang parkir memberikan bukti pembayaran retribusi,  lalu mereka tidak beritikad baik dengan membantu kita untuk memasukkan/mengeluarkan kendaraan. Melainkan hanya bersantai melihat dan akan meminta uang, yang sangat jelas tidak akan pernah masuk ke dinas terkait, yang jika nantinya kita hitung hasilnya jelas tidak pernah sedikit.
Saya sendiri pernah menghitung bahwa di tempat-tempat tertentu penghasilan satu hari tidak akan pernah kurang dari Rp200.000,- ( http://news.detik.com/read/2013/03/22/101943/2200850/10/?nd772204topnews ) . Pernah membayangkan? Karena angka itu hanya membutuhkan 200 sepeda motor yang parkir. Saya sendiri pernah ditawari sebuah area di Malioboro, sebuah area yang paling padat di Kota Yogyakarta, dimana jika dihitung kasar satu bulannya saya bisa menghasilkan profit bersih sekitar 4-6juta, sudah dipotong biaya tukang parkir dan preman. Pernah membayangkan angka yang cukup fantastis ini? Semoga pernah.
Nah, saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, paling tidak saudaraku yang tinggal di Kota Yogyakarta tercinta ini. Setelah membaca paparan yang cukup panjang ini, masihkah anda-anda berpikir bahwa Yogyakarta tidak mendukung premanisme? Karena setiap hari premanisme dipupuk dan dipelihara dengan sangat baik di Yogyakarta tercinta kita ini?
Bagaimana cara menghapusnya? Saya pikir akan sangat sulit, sama seperti ide menghapus terorisme. Saya sendiri berpikir ide tentang GENOCIDE, tapi sepertinya terlalu ekstrim. Ide sederhananya adalah mengajak teman-teman untuk mulai menegakkan lagi adanya bukti pembayaran retribusi, yaitu karcis parkir. Ya benar, selalu meminta karcis parkir. Jika itu dilakukan secara masal dan terus menerus, maka tukang parkir akan tersudut dan dipaksa secara benar untuk kembali menggunakan karcis parkir, yang secara legal adalah bukti pembayaran retribusi.
Terkait dengan pemerintah, pasti saudara-saudara langsung terpikir mengenai dikorupnya uang retribusi kita kan? Well, mungkin itu akan kita bahas lain kali, saat ini kita fokus dulu untuk melenyapkan praktek premanisme dan pungli terselubung ini, okay? Tapi mengenai bersedia atau tidaknya, saya kembalikan lagi kepada saudara semua.
Terima kasih, selamat malam, dan tetap semangat sekalipun kehidupan ini keras.

Salam

Jumat, 12 April 2013

WEDANG - GAMBARAN HIDUP SOSIAL

Dalam kehidupan manusia ada satu kegiatan yang tidak akan pernah bisa ditinggalkan, bahkan menjadi sebuah kegiatan absolut yang bisa dikatakan mengikat raganya, jika tidak dilakukan akan mati. Kegiatan tersebut adalah minum. Yak benar, sejak manusia diciptakan manusia sudah melakukan minum untuk meneruskan hidupnya.
Pada jaman manusia masih hidup sangat sederhana, manusia melakukan kegiatan keberminuman langsung dari mata air ataupun sungai, hingga ditemukannya api yang akhirnya akan menjadi titik awal berubahnya kehidupan manusia.
Sejak ditemukannya api kehidupan manusia, khususnya yang terkait dengan kegiatan makan ataupun minum berubah 180 derajat. Yang tadinya selalu dimakan dan diminum mentah mulai dicoba diolah. Sejak saat itulah secara perlahan manusia mulai mengenal "rasa" pada makanan atupun minumannya.
Dalam tradisi suku Jawa (karena saya lahir dan besar di lingkungan suku Jawa) kegiatan keberminuman biasa disebut sebagai "wedangan" sebuah kegiatan yang dilakukan pada waktu senggang, untuk bersantai baik sendiri maupun bersama teman-teman sambil berbagi cerita melepas penat setelah lelah bekerja. "Wedang" sendiri dalam bahasa jawa adalah sebuah akronim dari "Ngawe Kadang" (memanggil saudara - red). Memang dalam tradisi Jawa sendiri wedangan ini seringkali digunakan sebagai sarana menambah teman. Fenomena ini tampak sangat jelas di warung-warung angkringan, dimana kita bisa duduk, memesan minuman sederhana sambil berbincang dengan orang-orang yang duduk disitu, baik teman dekat, penjual, maupun orang-orang yang belum kenal disitu. Yang akhirnya dari situ kita bisa menambah teman lewat perbincangan-perbincangan singkat.
Di budaya barat sendiri khususnya Eropa, kita mengenal tempat yang disebut "Pub" (Public House - red). Disana budaya keberminuman juga digunakan sebagai sarana bersosialisasi. Tempat ini adalah tempat bebas, dimana orang bisa masuk tanpa harus membayar tiket masuk. Pub sendiri biasanya menawarkan minuman beralkohol kelas ringan, seperti bir. Kenapa bir? Karena bir sendiri, sama seperti kopi dan teh, termasuk ke dalam minuman sosial. Anda tidak akan mabuk asal tidak minum lebih dari 1 botol dan bir sendiri juga memunculkan sensasi santai. Sehingga anda akan merasa rileks dalam berbincang.
Dua contoh yang menarik mengenai kehidupan keberminuman manusia, yang pada masa purba hanyalah digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan pokok dan mengalami perubahan fungsi pada masa ini.
Dalam sebuah kuliah filsafat yang pernah saya jalani, seorang dosen pernah mengajar dengan membawa satu gelas besar, beberapa butir batu, segenggam kerikil, satu gelas kecil pasir dan secangkir kopi. Mengawali kuliah beliau bertanya, "adakah yang mengerti artinya?", yang dijawab dengan keheningan seluruh kelas. Lalu beliau mulai menaruh batu-batu besar ke dalam gelas sambil berkata, "batu-batu besar ini mewakili Tuhan, atau apapun keyakinanmu dalam hidup". Lalu beliau melanjutkan dengan menuangkan kerikil kerikil kecil yang mulai mengisi tempat-tempat kosong diantara batu-batu besar tadi. Sambil menuangkan kerikil beliau berkata, "kerikil ini mewakili hal-hal penting dalam hidupmu, seperti kuliahmu, pekerjaanmu, keluargamu, dan orang-orang yang kamu kasihi". Setelah itu beliau menuangkan pasir ke dalam gelas, yang lalu menutup rapat semua lubang-lubang kecil diantara batu-batu dan kerikil tadi. Beliau berkata "Pasir ini melambangkan hal-hal kecil yang sebetulnya perlu ada dalam hidup kita, seperti bermain game, bersantai, membaca novel, berwisata, dan sebagainya. Hal-hal tersebut kecil, tapi sangat perlu ada dalam kita menjalani hari-hari. Tanpa hal-hal kecil ini hidup kita bisa berantakan". Menutup pembicaraannya mengenai gelas, batu, kerikil dan pasir tersebut dosen saya berkata, "Ketiga hal tersebut adalah hal-hal yang penting dalam hidup kita, hanya saja jangan pernah salah mengurutkannya. Karena jika kita salah mengurutkannya, seperti mengisi hidup kita dengan pasir dan kerikil terlebih dulu maka tidak akan tersisa tempat dalam hidup kita untuk batu-batu yang besar, yang mana hal itu seharusnya kita letakkan terlebih dulu dalam hidup kita". Karena penasaran seorang rekan dalam kelas bertanya "lalu kopi itu melambangkan apa pak?". Dosen saya pun berkata "Saya senang ada yang menanyakannya". Lalu sambil menuangkan kopi ke dalam gelas besar tersebut, dimana kopi ini langsung mengisi semua celah yang ada tanpa kecuali, beliau mengatakan sebuah kalimat yang tidak akan pernah saya lupakan, "Kopi ini adalah sebuah benda ajaib, sama seperti ketika dia mengisi semua celah dalam gelas tanpa kecuali, dia juga adalah hal-hal luar biasa kecil yang kadang kita lupakan, namun sebetulnya dia mampu melengkapi hidup kita dan membuatnya hangat. Kopi ini adalah perlambangan saat-saat santai dengan orang-orang terdekat kita. Dengan kopi ini saya mau mengatakan bahwa sekalipun hidup kita terlihat sibuk dengan batu-batu besar, kerikil, dan pasir itu, tetap sediakanlah sedikit waktumu untuk secangkir kopi dengan sahabat atau orang-orang terdekatmu. Itu akan membuat hidupmu lebih berarti".
Well, konklusinya adalh bahwa sekalipun hidup keberminuman manusia yang terlihat sebagai sebuah hal sederhana dan kecil, namun bisa membuat hidup kita lebih hangat dan berwarna. Sesibuk-sibuknya kita dalam menjalani hidup bersosialisasi dan meluangkan waktu untuk menjalani keberminuman bersama orang-orang yang kita cintai akan membuat hidup kita lebih berarti. Jadi sekali lagi, luangkanlah sedikit waktu untuk secangkir kopi bersama sahabat.