Rabu, 4 September 2013, seputaran Jogja-Prambanan-Klaten dipanaskan
dengan kejadian pemukulan, penganiayaan dan penjarahan oleh oknum (yang diduga supporter)
dalam jumlah besar. Dilaporkan oleh tribunnews.com ada 7 orang Koran luka
akibat dikeroyok dengan 1 orang diantaranya kritis (http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/04/7-orang-luka-akibat-kerusuhan-persis-solo-vs-pss-sleman).
Selain itu masih ada laporan adanya pengerusakan yang disertai penjarahan di
sebuah bengkel di Klaten yang menyebabkan kerugian puluhan juta rupiah (http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/04/sekelompok-massa-yang-diduga-suporter-sepak-bola-merusak-bengkel-di-klaten), serta tindakan yang menurut saya sangat tidak bertanggung jawab dan tidak
jantan adalah adanya pemukulan terhadap 2 orang pengendara motor yang lalu
motornya dibakar habis (http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/04/dua-orang-pemuda-dikeroyok-suporter-sepakbola).
Tindakan-tindakan anarki tersebut masih berujung lagi pada adanya isu akan
diadakannya sweeping oleh beberapa
pihak terkait akan adanya aksi balas dendam.
Sekalipun pihak polisi sudah mengkonfirmasikan bahwa tidak aka nada sweeping oleh pihak-pihak tertentu
terkait kejadian kemarin itu, namun sudah sangat jelas kejadian tersebut
beserta isu sweeping ini sudah
meimbulkan keresahan masyarakat.
Pertanyaan terbesar bagi saya adalah :
1. Sebetulnya dimana sih otak orang-orang pelaku
tindaka anarki tersebut?
2. Bagi para korban, siapa yang lalu bertanggung
jawab?
Untuk pertanyaan pertama :
Saya sendiri sebetulnya malu, jika melihat tindakan di luar batas yang
dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dan diduga supporter tim sepak bola
tersebut. Kita ini hidup di jaman yang modern. Semua punya aturan, dan
seharusnya semuanya bisa saling menghormati. Apa iya, Cuma gara-gara masalah
kalah di sebuah pertandingan lalu harus membalas dengan tindakan anarki di
dalam dan di luar lapangan?
Apakah ini pengaruh dari kapasitas otak yang berbeda? Apakah mereka
yang melakukan tindakan anarki itu punya kapasitas dan batang otak yang lebih
kecil dari rata-rata kita semua yang digolongkan dan disebut Homo Sapiens atau manusia modern?
Sehingga mereka tidak bisa berpikir secara rasio dan hanya bertindak
berdasarkan emosi mereka, sehingga hanya gara-gara pertandingan sepak bola tega
menyakiti dan merugikan orang lain? Atau mungkin kah mereka sama-sama manusia,
hanya saja selama ini tinggal di tengah hutan dan tidak bisa menghormati hak-hak
orang lain karena mereka tidak puya etika dan norma?
Sekali lagi, kalau mereka mengaku supporter entah dari tim mana, yang
jelas itu termasuk dalam sepak bola Indonesia,
saya jadi malu memiliki ekosistem olah raga, khususnya sepakbola, yang
tergolong bar-bar dan tidak beretika seperti itu. Dan saya sendiri masih
bingung dan tidak bisa mengeluarkan ide tentang sebetulnya sebesar apakah
permasalahan di lapangan (pertandngan-red) hingga bisa berujung pada kejadian
yang cukup menggetarkan tersebut? Bagaimana jika terjadi pembunuhan? Apakah cukup
worth it jika sebuah kekalahan di
lapangan harus dibayar dengan kematian seseorang yang (mungkin saja) tidak tahu
menahu bahkan mungkin malah tidak mau tahu tentang pertandingan tersebut?
Tolong bantu saya untuk menemukan pencerahan atas pertanyaan tersebut.
Untuk pertanyaan kedua :
Jelas sekali ada korban dalam kejadian tersebut. Tribunnews merilis
sedikitnya ada 7 korban luka-luka dengan 1 orang kritis. Berarti mereka jelas
ada di rumah sakit. Lalu ada 1 motor yang terbakar, dan satu bengkel yang
dirusak dan dijarah (berdasarkan kabar tanggal 4 sept 2013).
Dari segi kerugian fisik sudah jelas dapat dilihat. Puluhan juta untuk
bengkel dan jutaan untuk biaya rumah sakit per korban, serta belasan juta untuk
motor yang dibakar habis tersebut.
Pertanyaan yang muncul di kepala saya adalah : siapa nantinya yang
akan menanggung kerugian tersebut? Pihak klub kah? Karena yang melakukan adalah
supporter tim mereka, sekalipun dalam beberapa kasus atribut supporter sudah
dilepas. Atau karena banyak pelaku yang tidak menggunakan atribut sehingga
nantinya tidak aka nada pertanggung jawaban sama sekali karena dianggap sebagai
aksi massa?
Satu permasalahan yang mungkin ketika itu dianggap aksi massa dan
tidak ada pertanggung jawaban dari klub ataupun komunitas supporter adalah korban
tidak mungkin bisa menuntut siapapun atas apa yang mereka derita. Karena nyaris
mustahil mengidentifikasi pelaku yang begitu banyak.
Jika pun nantinya ada yang mau bertanggung jawab, apakah ganti rugi
hanya akan diberikan sebatas pada ganti rugi materi kerugian fisik? Karena jika
ditilik dari sisi korban (atau/dan pegawai korban, pada kasus perusakan dan
penjarahan) kerugian bukan hanya dari segi fisik tapi juga munculnya ketakutan
traumatis karena peristiwa tersebut. Yang mana jika itu dinilai dengan uang
juga bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Lalu bagaimana dengan masyarakat Jogja-Solo dan sekitarnya, yang masih
trauma untuk melakukan perjalanan keluar kota karena adanya isu-isu terkait
peristiwa tersebut? Adakah jaminan bagi mereka?
Jadi sekali lagi, siapa kah yang mau bertanggung jawab atas peristiwa
ini? Dan sebatas mana kah pertanggung jawabannya? Tolong beri saya pencerahan
lebih lanjut.
Lepas dari itu semua. Saya lalu memiliki pandangan bahwa banyak
diantara masyarakat Indonesia belum memiliki mental yang baik, terbukti dari
peristiwa ini yang jelas-jelas menggambarkan bahwa belum adanya sportivitas
dalam olah raga Indonesia, atau kalo tidak boleh dibilang “dunia olah raga” ya
berarti yang tidak punya sportivitas adalah suporternya. Dan saya sebagai
bagian dari Indonesia, sekali lagi, merasa sangat malu dan terpukul oleh
kenyataan itu.
Semoga menteri pemuda dan olah raga kita, yang pintar telematika dan
salah menyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya, bisa memiliki langkah taktis dan
efektif untuk masalah ini.
#berharap #Indonesialebihbaik #tetapNKRI
Salam