Dalam kehidupan manusia ada satu kegiatan yang tidak akan pernah bisa ditinggalkan, bahkan menjadi sebuah kegiatan absolut yang bisa dikatakan mengikat raganya, jika tidak dilakukan akan mati. Kegiatan tersebut adalah minum. Yak benar, sejak manusia diciptakan manusia sudah melakukan minum untuk meneruskan hidupnya.
Pada jaman manusia masih hidup sangat sederhana, manusia melakukan kegiatan keberminuman langsung dari mata air ataupun sungai, hingga ditemukannya api yang akhirnya akan menjadi titik awal berubahnya kehidupan manusia.
Sejak ditemukannya api kehidupan manusia, khususnya yang terkait dengan kegiatan makan ataupun minum berubah 180 derajat. Yang tadinya selalu dimakan dan diminum mentah mulai dicoba diolah. Sejak saat itulah secara perlahan manusia mulai mengenal "rasa" pada makanan atupun minumannya.
Dalam tradisi suku Jawa (karena saya lahir dan besar di lingkungan suku Jawa) kegiatan keberminuman biasa disebut sebagai "wedangan" sebuah kegiatan yang dilakukan pada waktu senggang, untuk bersantai baik sendiri maupun bersama teman-teman sambil berbagi cerita melepas penat setelah lelah bekerja. "Wedang" sendiri dalam bahasa jawa adalah sebuah akronim dari "Ngawe Kadang" (memanggil saudara - red). Memang dalam tradisi Jawa sendiri wedangan ini seringkali digunakan sebagai sarana menambah teman. Fenomena ini tampak sangat jelas di warung-warung angkringan, dimana kita bisa duduk, memesan minuman sederhana sambil berbincang dengan orang-orang yang duduk disitu, baik teman dekat, penjual, maupun orang-orang yang belum kenal disitu. Yang akhirnya dari situ kita bisa menambah teman lewat perbincangan-perbincangan singkat.
Di budaya barat sendiri khususnya Eropa, kita mengenal tempat yang disebut "Pub" (Public House - red). Disana budaya keberminuman juga digunakan sebagai sarana bersosialisasi. Tempat ini adalah tempat bebas, dimana orang bisa masuk tanpa harus membayar tiket masuk. Pub sendiri biasanya menawarkan minuman beralkohol kelas ringan, seperti bir. Kenapa bir? Karena bir sendiri, sama seperti kopi dan teh, termasuk ke dalam minuman sosial. Anda tidak akan mabuk asal tidak minum lebih dari 1 botol dan bir sendiri juga memunculkan sensasi santai. Sehingga anda akan merasa rileks dalam berbincang.
Dua contoh yang menarik mengenai kehidupan keberminuman manusia, yang pada masa purba hanyalah digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan pokok dan mengalami perubahan fungsi pada masa ini.
Dalam sebuah kuliah filsafat yang pernah saya jalani, seorang dosen pernah mengajar dengan membawa satu gelas besar, beberapa butir batu, segenggam kerikil, satu gelas kecil pasir dan secangkir kopi. Mengawali kuliah beliau bertanya, "adakah yang mengerti artinya?", yang dijawab dengan keheningan seluruh kelas. Lalu beliau mulai menaruh batu-batu besar ke dalam gelas sambil berkata, "batu-batu besar ini mewakili Tuhan, atau apapun keyakinanmu dalam hidup". Lalu beliau melanjutkan dengan menuangkan kerikil kerikil kecil yang mulai mengisi tempat-tempat kosong diantara batu-batu besar tadi. Sambil menuangkan kerikil beliau berkata, "kerikil ini mewakili hal-hal penting dalam hidupmu, seperti kuliahmu, pekerjaanmu, keluargamu, dan orang-orang yang kamu kasihi". Setelah itu beliau menuangkan pasir ke dalam gelas, yang lalu menutup rapat semua lubang-lubang kecil diantara batu-batu dan kerikil tadi. Beliau berkata "Pasir ini melambangkan hal-hal kecil yang sebetulnya perlu ada dalam hidup kita, seperti bermain game, bersantai, membaca novel, berwisata, dan sebagainya. Hal-hal tersebut kecil, tapi sangat perlu ada dalam kita menjalani hari-hari. Tanpa hal-hal kecil ini hidup kita bisa berantakan". Menutup pembicaraannya mengenai gelas, batu, kerikil dan pasir tersebut dosen saya berkata, "Ketiga hal tersebut adalah hal-hal yang penting dalam hidup kita, hanya saja jangan pernah salah mengurutkannya. Karena jika kita salah mengurutkannya, seperti mengisi hidup kita dengan pasir dan kerikil terlebih dulu maka tidak akan tersisa tempat dalam hidup kita untuk batu-batu yang besar, yang mana hal itu seharusnya kita letakkan terlebih dulu dalam hidup kita". Karena penasaran seorang rekan dalam kelas bertanya "lalu kopi itu melambangkan apa pak?". Dosen saya pun berkata "Saya senang ada yang menanyakannya". Lalu sambil menuangkan kopi ke dalam gelas besar tersebut, dimana kopi ini langsung mengisi semua celah yang ada tanpa kecuali, beliau mengatakan sebuah kalimat yang tidak akan pernah saya lupakan, "Kopi ini adalah sebuah benda ajaib, sama seperti ketika dia mengisi semua celah dalam gelas tanpa kecuali, dia juga adalah hal-hal luar biasa kecil yang kadang kita lupakan, namun sebetulnya dia mampu melengkapi hidup kita dan membuatnya hangat. Kopi ini adalah perlambangan saat-saat santai dengan orang-orang terdekat kita. Dengan kopi ini saya mau mengatakan bahwa sekalipun hidup kita terlihat sibuk dengan batu-batu besar, kerikil, dan pasir itu, tetap sediakanlah sedikit waktumu untuk secangkir kopi dengan sahabat atau orang-orang terdekatmu. Itu akan membuat hidupmu lebih berarti".
Well, konklusinya adalh bahwa sekalipun hidup keberminuman manusia yang terlihat sebagai sebuah hal sederhana dan kecil, namun bisa membuat hidup kita lebih hangat dan berwarna. Sesibuk-sibuknya kita dalam menjalani hidup bersosialisasi dan meluangkan waktu untuk menjalani keberminuman bersama orang-orang yang kita cintai akan membuat hidup kita lebih berarti. Jadi sekali lagi, luangkanlah sedikit waktu untuk secangkir kopi bersama sahabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar