Beberapa saat yang lalu saya terlibat pembicaraan mengenai bir (beer) dan kopi (coffee). Kedua minuman ini jelas sekali merupakan pilihan utama (terutama di lingkungan pertemanan saya) sebagai opsi minuman kala berinteraksi sosial. Keduanya baru bener-bener berasa nikmatnya kalau diminum bersama teman, sambil berbincang-bincang.
Minum bir sendirian hanya berlaku untuk orang yang sedang patah hati atau kebanyakan utang. Minum kopi sendirian hanya berlaku untuk orang yang sedang lembur atau nonton bola, bahkan nonton bola pun enaknya bareng-bareng temen/tetangga sambil ngopi.
Saya nggak mau kasih judul COFFEE VS BEER karena memang dua hal ini tidak bermusuhan, keduanya punya sifat yang sama yaitu menghangatkan obrolan dan pertemanan, tapi memang dalam habitat yang berbeda.
Dalam perbincangan mengenai kedua hal itu beberapa saat yang lalu, satu komentar saya mengenai perbedaan keduanya adalah, bahwa kopi itu akan berasa nikmat untuk menemani perbincangan yang bersifat smart conversation, tidak terlalu banyak orang, dan sifatnya tenang sama seperti kopi yang hitam dan diam. Berbeda dengan bir, bir akan lebih nikmat jika perbincangan yang muncul bersifat sedikit hura-hura, karena memang begitulah sifat bir, ada teman, ada pesta, ada kesenangan, dan ada bir. Tidak bisa dibayangkan toh, musik yang cukup keras, obrolan sedikit rusuh, sedikit urakan, tapi minumnya espresso panas, atau sebaliknya, sebuah obrolan tenang yang memerlukan sedikit tambahan keseriusan dan muka kalem ditemani dengan sebotol bir di tangan. So, yep, memang dua minuman ini merupakan dua minuman yang punya sifat sama tapi habitat yang berbeda.
Masih terkait dengan hal tersebut, beberapa hari ini, saya yang sedikit agak kacau (kalau ga boleh dibilang “galau” karena terlalu alay) sering mampir ngopi di sebuah coffeshop kecil di bilangan ring road utara bernama coffesophia, dan biasanya memesan espresso basic ga pake gula. Pahit? Ya jelas pahit banget lah, tapi dari pahitnya itu saya teringat dengan omongan seorang teman, Eko Widayanto, yang doyan banget kopi tanpa gula dan bir hitam, yang setiap kali saya tanya kenapa suka, selalu kasih jawab “pahitnya kopi/bir hitam ini selalu mengingatkan untuk tetap bersemangat jalani hidup, karena memang hidup tidak akan pernah sepahit kopi/bir hitam ini”. Well, surely it's a nice quote isn't it? Yah, quote yang akan selalu saya ingat, tapi beberapa hari ini saya ngopi selalu terpikir, sebetulnya apa lagi sih yang ditawarkan kopi dan bir dalam lingkupnya bersosialisasi? Kenapa kopi selalu jadi teman dalam smart conversation dan kenapa bir selalu menjadi teman dalam ber”hura-hura”? Akhirnya kemarin saya temukan sedikit jawabannya, bahwa kopi menawarkan kehangatan di dalam cangkirnya. Kehangatan dalam cangkir dan kedewasaan dalam rasa pahitnya yang terkadang membuat kita mengernyitkan dahi. Dari efeknya pun kafein itu membantu supply darah ke otak, yang berarti oksigen dalam otak pun bertambah dan kerja otak meningkat. Sehingga hasilnya adalah, obrolan cerdas dengan penuh pemikiran dan kedewasaan.
Jadi untuk kopi saya akan menambahkan satu quote lagi, bahwa kopi ini selain selalu mengingatkan kita bahwa hidup ga akan pernah sepait kopi, juga bahwa hidup selalu menawarkan banyak persahabatan yang hangat, sehangat kopi di dalam cangkir ini.
Lalu bagaimana dengan bir?
Pertanyaan simpel, bir paling enak disajikan dingin dalam gelas-gelas dingin juga, karena bir mempunyai tugas mendinginkan kepala yang seharian dipanaskan oleh banyak sekali rutinitas dan pekerjaan. Selain itu bir menawarkan sajian yang sparkle yang dihasilkan dari karbonasinya, sehingga dia selalu membawa keriaan yang besar. Itulah alasannya kenapa bir akan menjadi minuman yang cukup menyenangkan ketika kepala atau hati sudah merasa panas. Dia mendinginkan dan memberi satu sparkling ambience dalam perbincangan, yang tentu saja tanpa perlu tambahan berpikir. Sehingga obrolan yang dihasilkan adalah obrolan-obrolan luar biasa santai, dan mungkin cenderung slengean dan slebor.
Jadi selalu berpikirlah, bahwa hidup itu selalu penuh keceriaan dan kegembiraan, just like a bottle of sparkling beer.
Well, apapun itu, entah kopi, entah bir, keduanya punya kans besar untuk menyebabkan kita kecanduan, jadi, minumlah secara bertanggung jawab.
Mari angkat gelas dan cangkir kita, karena hidup tidak akan pernah terlalu pahit, bahkan banyak sekali kehangatan persahabatan yang bisa kita temukan dalam hidup sekalipun itu hanya berasal dari secangkir kopi, dan selalu ingat untuk selalu ceria, karena bir akan selalu mengajarkan kita untuk tetap tersenyum, so, keep your sparkling smiles up, just like a bottle of sparkling beer,
DAN MARI KITA BERSULANG....KAMPAI...!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar